AR Ngaku Tidak Cabuli Mahasiswi UPI, Kasus Sempat Dipendam

AR Ngaku Tidak Cabuli Mahasiswi UPI, Kasus Sempat Dipendam

- detikNews
Rabu, 04 Mei 2005 17:54 WIB
Bandung - Kasus pencabulan yang diduga dilakukan ustadz AR terhadap mahasiswi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) - sebut saja Melati - cukup rumit. AR bersumpah kepada Aa Gym tidak melakukan pencabulan itu. Kasus ini sempat diminta dipendam. Kasus ini memang tidak mudah diungkap. Untuk mencari kebenaran atas kasus ini, Tim Investigasi UPI sempat bertemu sebanyak 12 kali dengan Tim Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (DT). Hal ini diakui oleh salah seorang Tim Investigasi UPI Munawar Rahmat saat ditemui di kantor jurusan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU), Gedung Garnadi, Kampus UPI, Jl. Geger Kalong, Bandung, Rabu (4/5/2005). Kejadian ini sendiri, menurut pengakuan Melati, terjadi pada 30 September 2003. Menurut Munawar, tim telah melakukan mediasi selama satu tahun. Tujuannya untuk menegakkan masalah moral dan kekeluargaan. "Kita tidak memproses lewat jalur hukum dulu. Tapi, sudah satu tahun kita memediasi, masalah ini tidak ada titik temunya," ujar dia. Tim juga melakukan klarifikasi dengan DT. Pertemuan pertama dihadiri oleh AA Gym selaku, Ketua Yayasan DT, Ketua harian DT, AR, dan ahli hukum DT. Dari pihak UPI, hadir Ketua Jurusan MKDU , sekretaris MKDU, Toto Suryana, Firdaus dan Munawar Rahmat. Melati dan keluarganya tidak dihadirkan dalam mediasi itu. Dalam mediasi itu, kata Munawar, DT meminta agar kasus ini tidak menyebar ke publik. DT juga mengaku telah membentuk tim khusus. Dalam mediasi ini, kedua pihak membahas masalah kasus asusila ini. Saat itu, tim DT menyampaikan bahwa AR tidak melakukan tindakan pencabulan yang ditudingkan Melati. "Aa Gym bilang sudah menyumpah Ustadz AR," kata Munawar. Namun, saat itu, Tim Investigasi UPI berpendapat sumpah saja tidak cukup. Akhirnya, pertemuan itu pun tidak menemukan titik temu. Setelah itu, dilakukan pertemuan-pertemuan sampai 12 kali pertemuan. Dalam pertemuan lanjutan, juga tidak ditemukan titik temu. Menurut Munawar, tim DT selalu menunggu konsultasi dengan Aa Gym terlebih dulu. Pihak UPI mempersoalkan perbuatan awalnya, dugaan perkosaan, bukan soal nikah mut'ahnya. "Jadi DT menganggap pra nikah jangan dibicarakan, sementara UPI sebaliknya," kata Munawar. Dalam pertemuan, Pihak DT menyatakan, dalam Islam, untuk membuktikan kasus asusila itu perlu minimal empat saksi. Sedangkan, dalam kasus ini, Melati tidak punya saksi. Dan sempat juga Aa Gym berkeinginan polisi dan pengacara mengusut kasus ini. Tapi, kenyataan sampai sekarang tidak ada," kata Munawar. Tapi, akhirnya, suatu waktu, ada benang merah. Kedua tim sepakat melakukan sumpah mubahalat dan DT akan memberikan kompensasi kepada Melati. Dalam sumpah itu, Melati mengaku diperkosa dan dicabuli oleh AR. Tapi, Melati miskin bukti, tidak ada saksi yang melihat. Sementara AR merasa tidak berbuat cabul. Kompensasi terhadap Melati itu belum diwujudkan sampai sekarang. Saat itu, sempat menjadi wacana bagi kedua tim. Belum sempat disampaikan kepada Melati dan keluarganya. "Tapi, karena tidak ada kejelasan, gagasan adanya kompensasi itu langsung dicabut DT," jelasnya. Sumpah mubahalat pada September 2004 itu dianggap sebagai bentuk islah antara Melati dan AR. Dan setelah itu, Melati sempat telepon ke Aa Gym. Proses dianggap selesai. Setelah itu, ada tim DT yang datang ke UPI bertemu Udin, salah satu tim investigasi UPI. Tim DT memberikan semacam amplop dari Ustadz AR. "Saat itu, Pak Udin tidak mau menerima dan menyarankan amplop diberikan langsung kepada korban," jelas Munawar. Belum diketahui apa isi amplop tersebut. Munawar menjelaskan, tim investigasi UPI yang sebagian besar adalah para dosen agama Islam menginginkan kasus ini diungkap kebenarannya. Hal ini juga untuk menyelamatkan lembaga-lembaga Islam, termasuk DT. "Aa Gym seharusnya berani membersihkan keburukan di dalamnya," ungkap Munawar. Kasus ini, kata Munawar, masih menggantung. Tim investigasi menyesalkan sikap DT yang lambat, karena harus menunggu pendapat Aa Gym. Munawar juga menyesalkan tanggapan Aa Gym yang menyatakan kasus ini fitnah. "Aa terlalu sembrono. Kita kan sudah pernah ketemu," ungkapnya. Meski kasus ini menggantung, Tim Investigasi UPI selalu berdialog dengan Melati dan memberikan semangat. "DT melihat Melati sebagai orang stres. Padahal, kita sudah mengecek, tak ada sakit jiwa pada Melati," jelasnya. (asy/)


Berita Terkait