Listrik Diputus, Puluhan Pensiunan TNI AU Resah

Listrik Diputus, Puluhan Pensiunan TNI AU Resah

- detikNews
Rabu, 04 Mei 2005 15:29 WIB
Jakarta - Puluhan pensiunan TNI AU resah dan kecewa dengan sikap Mabes TNI AU yang memutuskan aliran listrik di rumahnya. Mereka menilai pemutusan paksa aliran listrik itu sebagai bentuk pengusiran.Sekitar pukul 12.00 Wib, sekitar penghuni 76 rumah yang rata-rata pensiunan dikejutkan dengan suara kendaraan yang mengangkut puluhan prajurit TNI AU. Kedatangan mereka bersama petugas PLN. Mereka langsung membongkar paksa box meter dan kabel listrik d sejumlah rumah. Pemutusan paksa itu sempat membuat penghuni Kompleks TNI AU Triloka di Jl. Pasar Minggu Raya, Pancoran, Jaksel itu emosi. Mereka meminta petugas PLN dan prajurit TNI AU tidak melakukan tindakan itu karena dianggap tidak manusiawi. Kompleks Triloka terdiri dari 105 unit rumah, 76 rumah di antaranya dihuni para pensiunan yang tersebar di RT O1,02 dan 03. Rumah yang berada di Kompleks Triloka juga dihuni sejumlah perwira tinggi (pati) dan perwira menengah (pamen). Dari penghuni 76 rumah yang diminta meninggalkan kompleks itu, penghuni 12 rumah telah pindah. Sedangkan penghuni 7 rumah lainnya masih dalam proses pindah. "Ini memang rumah dinas, kita diminta keluar sejak bulan Juli 2004," ujar Ketua RT 03 Ori Saptaji. Namun kondisi kesiapan setiap penghuni untuk pindah berbeda. Ada penghuni yang meminta waktu 3-6 bulan. Ada juga yang meminta waktu 1-3 tahun. Mabes TNI AU telah memerintahkan para penghuni yang pensiun keluar dari kompleks itu sejak 1 Desember 2004 bagi pensiunan tahun 1990-an. Sementara, pensiunan tahun 2002 diminta keluar 31 Maret 2005. Sedangkan bagi pensiunan tahun 2003 diminta keluar 21 Juli 2005. Pemutusan listrik oleh Mabes TNI melalui Detasemen Markas telah dilakukan 3 kali untuk 76 rumah itu. Selain itu, pemutusan juga dilakukan untuk 21 rumah pada 29 September 2004 serta 31 rumah pada 28 April. Sejak pemutusan listrik pada tahun 2004, 4 orang meninggal dunia akibat stres dan sakit. "Kami tidak melawan tapi ibu-ibu mencoba mencegah dengan emosi dan putus asa. Sebab kalau listrik diputus bagaimana dengan kondisi sehari-hari dan yang terpenting adalah air," kata Ori yang berpangkat terakhir kolonel. Menurut salah seorang penghuni, Sofyan Wartono, cara yang dilakukan petugas dalam memutus listrik tidak manusiawi dan tidak sopan. Mereka melompati pagar dan langsung membongkar box meter tanpa mengetuk pintu. Padahal, banyak pensiunan yang sakit. Bahkan, ada purnawirawn jenderal yang baru meninggal dua hari lalu, listrik rumahnya diputus. Menurut Sofyan, sebenarnya para penghuni tidak menolak diminta keluar. Mereka menilai Detasemen Markas TNI AU telah ingkar janji. Sebelumnya, mereka diminta pindah ke KPR RSS di Bojong Nangka, Cikeas Gunung Putri, Bogor. Angsuran setiap bulannya paling mahal Rp 100 ribu dengan potongan gaji pensiunan. Para penghuni merasa dibohongi karena ternyata angsuran per bulannya melebihi angka itu. Bahkan, ada 21 penghuni yang telah membubuhkan tanda tangan tetapi enggan pindah karena merasa dibohongi.Ori mengungkapkan sebenarnya ada aturan pensiunan TNI diberi kesempatan selama 6 bulan untuk keluar dari rumah dinas. Namun atas kebijakan pimpinan TNI AU, bagi pensiunan yang tidak memiliki rumah berhak menempatinya seumur hidup. Ada juga pensiunan yang diberi waktu 1-2 tahun. Namun, dengan berganti kepemimpinan di tubuh TNI AU, kebijakan itu dicabut. "Kita sebenarnya tidak menolak. Tapi tolong pikirkan pensiunan yang tidak memiliki rumah. Tolong beri waktu yang cukup karena tidak punya tanah dan uang," pinta Ori. (rif/)


Berita Terkait