DetikNews
Minggu 09 Juli 2017, 11:42 WIB

Surat Dari Tendean

Detikcom 19 Tahun

Ismujiarso - detikNews
Detikcom 19 Tahun Foto: dokumentasi detikcom
Jakarta - Suatu pagi, seorang praktisi senior bidang periklanan yang belakangan menjadi kepala sebuah badan ekonomi di pemerintahan, berkirim SMS (ya, sudah lama sekali!) kepada salah satu redaktur detikcom. "Mas, detik lagi error ya? Nggak bisa dibuka…"

Begitulah, ada masanya ketika tidak bisa membaca detikcom di pagi hari adalah sebuah "malapetaka", bisa bikin orang panik, karena hal itu sudah menjadi "habit".

Cerita itu adalah bagian dari masa lalu yang membanggakan detikcom sebagai media. Kini, ketika keterhubungan di sosial media mengubah "online behaviour" secara sangat mendasar, ketika berita-berita mendatangi kita lewat link yang disebar teman kita di grup WhatsApp di pagi hari, apakah kebanggaan semacam itu masih ada, atau setidaknya tersisa?

Detikcom 19 TahunFoto: dokumentasi detikcom


Pembaca detikcom yang budiman,

Hari ini kami berulang tahun ke-19. Ilustrasi di atas hanyalah salah satu tantangan yang kami hadapi pada tahun-tahun terakhir, sebagai media online pertama di Indonesia yang dikenal dengan jargon tercepat dalam menyajikan berita. Ketika setiap orang dengan gadget di tangannya, dan akun-akun sosmed yang dimilikinya, telah menjadi media dalam lingkup pergaulannya masing-masing, apakah detikcom masih menjadi andalan?

Tentu saja, jawabannya sudah jelas: masih, dan akan selalu! Tapi, pertanyaan seperti tadi perlu diajukan sebagai bahan perenungan agar kami tidak jumawa dan lupa diri.

Ada saat ketika kami dengan nada berseloroh mengatakan, bahwa kamilah media yang paling berpengaruh saat ini. Segala sesuatu "belum" menjadi berita selama belum muncul di detikcom. Sebuah isu tidak akan menjadi berita nasional sebelum dikembangkan oleh detikcom.

Namun, sekali lagi, klaim tersebut bukanlah sebentuk kejumawaan yang pada akhirnya justru akan melenakan di tengah persaingan media era digital yang semakin sengit. Sama sekali tidak. Seloroh semacam itu, walau memang fakta dan benar adanya (hehehe...) sebenarnya lebih merupakan bentuk kewaspadaan dan peringatan dini bagi kami sendiri, bahwa tantangan hari ini dan ke depan semakin berat.

Sembilan belas tahun jelas bukan waktu yang pendek bagi perjalanan sebuah media. Kami telah mengalami beberapa kali gelombang kebangkitan bisnis dotcom. Kami juga telah melewati masa-masa suka dan duka, pasang surut, pergantian kepemilikan hingga kepemimpinan.

Sejarah detikcom telah menjadi wacana publik yang bisa dilacak sendiri oleh pembaca sebagai salah satu kisah sukses, dijadikan bahan skripsi mahasiswa, dibawakan sebagai contoh kasus dalam seminar-seminar dan sebagainya. Kami tidak perlu mengingatkan Anda bahwa detikcom mengawali semua ini dari tahun 1998 di sebuah kantor yang menyempil di bawah Stadion Lebak Bulus —yang kini stadionnya bahkan sudah rata dengan tanah oleh karena pembangunan kota.

Sidang pembaca yang setia,

Yang perlu kami tekankan di sini hanyalah komitmen kami untuk senantiasa melayani kebutuhan publik akan informasi yang cepat, akurat dan bermanfaat. Sembilan belas tahun bisa menjadi angka yang rawan. Di satu sisi, faktanya kami masih bertahan sebagai yang terdepan dan terpercaya.

Di sisi lain, perkembangan yang demikian cepat dan tak terduga dari dunia teknologi komunikasi digital, mau tak mau, terus-menerus, menuntut kami untuk berinovasi bahkan kalau perlu berevolusi. Dengan prinsip trusted, fastest dan leading, kami bertekad untuk melangkah ke level yang lebih tinggi.

Prinsip itu tentu bukan sekadar slogan keren belaka, melainkan benar-benar menjadi daya dorong untuk terus meningkatkan dan memperbaiki layanan kami kepada masyarakat; tidak sekadar menyajikan berita cepat dan akurat, melainkan juga memberi inspirasi dan solusi bagi berbagai persoalan kehidupan berbangsa.

Kami bertekad untuk senantiasa berjalan seiring, mendampingi dan menjadi bagian dari perubahan zaman, dan menjadi mitra setia masyarakat dalam menghadapi perubahan tersebut.

Selain tentu saja dukungan dan kepercayaan dari Anda semua, pembaca setia, bekal kami adalah keseriusan dalam menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, yang menjadi napas kami dalam bekerja melayani kebutuhan informasi masyarakat, di tengah maraknya hoax, berita-berita yang tidak bertanggung jawab dan sedemikian mudahnya menyebar, serta ekspresi-ekspresi yang menjurus pada kebencian dan permusuhan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, baik itu berdasarkan perbedaan pilihan politik, agama, ras maupun sentimen-sentimen lainnya.


Mari bersama kami, Move Onto the Next Level!

Salam.


(erd/iy)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed