Pemerintah Harus Serius Bebaskan Tiga Pelaut yang Disandera
Rabu, 04 Mei 2005 09:05 WIB
Jakarta - Nasib tiga pelaut berkewarganegaraan Indonesia yang disandera kelompok Jammiah Al Islamiyah di Filipina Selatan sejak 30 Maret lalu masih belum jelas. Pemerintah didesak melakukan upaya serius untuk membebaskan ketiga WNI tersebut.Menurut Kabid Operasional Kontras Edwin Partogi, hingga kini belum ada upaya serius dari pemerintah untuk membebaskan ketiga sandera tersebut. Yakni Ahmad Resmiyadi (32), Yamin Labaso (26 dan Erickson Hutagol."Sejak 30 Maret, sudah satu bulan lebih sejak mereka disandera, belum ada tindakan signifikan dari pemerintah. Keluarga tahu kalau mereka disandera juga dari awak kapal yang telah dibebaskan, bukan dari pemerintah," tukas Edwin ketika dihubungi detikcom melalui telepon selulernya, Rabu (4/5/2005).Edwin lalu membandingkan dengan keseriusan pemerintah saat membebaskan dua wartawanMetro TV yang disandera di Irak, Meutya V. Hafid dan Budiyanto. "Kita lihat perbedaan itu. Jadi, pemerintah baru bertindak kalau sorotan publik besar, bukan karena kesadaran akan kewajibannya."Diceritakan Edwin, pada 19 April lalu keluarga Erickson Hutagol pernah menemui Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Deplu dan meminta pemerintah serius dalam mengupayakan pembebasan Hutagol. Tapi saat itu dijawab, pemerintah sedang sibuk dengan kegiataan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika. "Ini kan ironis, masa nasib warga negara dibiarkan karena ada KAA," tukas Edwin.Dalam rangka mendesak keseriusan pemerintah membebaskan tiga WNI yang disandera di Filipina Selatan itu Kontras bersama keluarga Hutagol dan PBHI hari ini akan melakukan audensi dengan pejabat deplu. Audensi akan digelar mulai pukul 11.00 WIB. Setelah itu, pada pukul 15.30 WIB, Kontras akan menggelar audensi dengan Kedubes Filipina.Sebagaimana diberitakan Kelompok Jammiah Al Islamiah Southern Mindanau menyandera tiga orang pelaut Indonesia di Filipina Selatan sejak 30 Maret lalu. Mereka adalah bagian dari awak kapal yang dibajak di Sandakan, Sabah Malaysia merasa prihatin. Keempat awak kapal lain dibebaskan.
(gtp/)











































