Apa Bisa 'Ndeso' Menjadi Umpatan Serius?

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 06 Jul 2017 08:03 WIB
Ilustrasi: Kaesang dalam video yang memuat kata 'ndeso'. (Screenshot YouTube Kaesang)
Jakarta -

Orang-orang desa diasosiasikan sebagai orang-orang yang bersifat lugu, polos, dan kadang-kadang naif. Ada kalanya pula nilai-nilai yang dijunjung orang desa justru menjadi rujukan. Di sisi lain, sifat 'ndeso' juga bisa menjadi olok-olok dan umpatan kepada orang-orang yang ketinggalan zaman dalam segala aspek.

Kata sifat 'ndeso' kini ramai diperbincangkan dan digunakan setelah anak Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep, menggunakannya di video blog-nya. Ujaran Kaesang itu kemudian dilaporkan ke polisi. Agak menjauh dari kegaduhan tersebut, sebenarnya bagaimana sih makna 'ndeso'? Apakah sifat ndeso sebegitu hina di mata kaum kota?

Tafsir 'ndeso'

Darmoko, dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, menjelaskan 'ndeso' berasal dari kata 'desa'. Huruf 'a' dalam penulisan bahasa Jawa dibaca 'o', seperti dalam 'omong'. Desa merujuk pada suatu wilayah agraris yang berjarak dengan pusat kota. Bila ditambah bunyi pelancar 'n' menjadi 'ndesa/ndeso', maknanya bakal merujuk pada karakteristik yang melekat pada orang-orang desa.

"Itu adalah ekspresi atau ungkapan untuk mengatakan sesuatu yang konotasinya sifat, tutur kata, perilaku, atau tindakan terkait dengan keadaan di desa, juga keadaan manusia yang konotasinya ke arah adat istiadat desa," tutur pengajar mata kuliah bahasa Jawa, wayang, dan kebudayaan Indonesia untuk sastra Jawa ini.

Pengertian 'ndeso' secara umum memang netral. Namun 'ndeso' punya oposisi 'kutho' atau 'kota' dalam bahasa Indonesia. Bila kota identik dengan sifat maju, desa identik dengan sifat tertinggal. Dalam konteks perbandingan seperti ini, 'ndeso' atau 'ndesit' dalam bentuk yang hiperbolik bisa menjadi ungkapan mengumpat.

"Memang harus dicari konteksnya. Konteks ndeso itu pasti ada pembanding," kata Darmoko.

Term 'desa' sebagai teritori memang berasal dari bahasa Jawa. Tiap daerah punya istilah lain yang merujuk pada makna yang kurang-lebih sama. Di Sumatera Barat, orang menyebut 'desa' sebagai 'nagari', di Sumatera Selatan ada istilah 'marga', di Aceh ada istilah 'gampong', dan di Papua ada istilah 'kampung'. Bahasa Jawa sendiri juga punya konteks dalam menggunakan istilah kampung.

Apa Bisa 'Ndeso' Menjadi Umpatan Serius?Arti 'ndeso' dan 'kampung'. (Screenshot Aplikasi Android Bausastra)
Dalam kamus bahasa Jawa 'Bausastra' WJS Poerwadarminta di aplikasi Android versi 1.4, tercantum 'desa' adalah permukiman di luar pusat pemerintahan. 'Ndesani' berarti kaku, tidak luwes. 'Kampung' diartikan sebagai daerah permukiman yang menjadi bagian dari 'kutha' alias berada di kota.
Apa Bisa 'Ndeso' Menjadi Umpatan Serius?Arti 'ndeso' dan 'kampung'. (Screenshot Aplikasi Android Bausastra)

'Ndeso' tak melulu jelek

Agus Indiyanto dari Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa 'ndeso' pada dasarnya tak selalu bermakna jelek. Dalam kosmologi Jawa, desa dan kota adalah satu kesatuan. Kota hanya ada ketika dia dikelilingi desa. Desa berperan memasok kebutuhan orang kota.

"Sebenarnya tidak melulu berkonotasi negatif. Cuma ketika itu ditempatkan dalam konteks modernitas, itu jadi negatif," ujar pria yang akrab disapa Indi ini.

Gara-gara modernisasi beserta pembangunan yang tak sama rata, kota sebagai tempat istana raja menjadi kian superior. Orang menjadi beranggapan kota itu lebih beradab, sedangkan 'wong ndeso' itu kurang up-to-date. Memang, keraton di kota menjadi acuan kebudayaan yang ditiru dalam bentuk yang lebih sederhana di desa-desa.

Sekilas memang ambigu. Kualitas jelek sekaligus kualitas luhur seolah tercampur dalam satu tarikan napas ketika hendak mengucap kata 'ndeso', bila berdasarkan pemahaman demikian. Namun semua itu tergantung konteks.

Wong 'ndeso' tak akan menganggap serius masalah ini

Menurut pengajar sosiologi pedesaan Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Politik UGM, Arie Sudjito, orang desa yang 'ndeso' itu malah kadang-kadang bisa menjadi kiblat moral orang-orang kota yang sudah tercerabut dari etika Jawa.

"'Ndeso' juga punya asosiasi kulltur yang guyub rukun, tidak individualis, tidak aneh-aneh, tidak komersil, pro-ekologi. Ini membedakan dengan sifat orang kota yang individualis," kata orang yang tujuh tahun ikut menyusun Undang-Undang Desa ini lewat tim advokasi RUU itu.

Pada praktik pergaulan sehari-hari, 'ndeso' memang dipakai sebagai umpatan yang merujuk pada kualitas negatif: terbelakang, kolot, tertinggal. Namun, bagi orang Jawa, umpatan model begitu dipandangnya cuma sebatas guyonan. Bisakah 'ndeso' menjadi umpatan mahaserius?

"Nggak. Sebenarnya itu guyonan. Spirit penggunaannya adalah membangun keakraban lewat ledekan dalam perbincangan," kata Arie.

Menurutnya, 'wong ndeso' yang otentik tak bakal menganggap serius ledekan-ledekan seperti itu. Apalagi bila penggunaannya dalam suasana perbincangan anak muda, menurutnya, itu tak akan dianggap serius.

"Kalau orang desa beneran, masalah seperti ini nggak akan dibawa ke polisi," ucap Arie. (dnu/dnu)