Pencabulan Mahasiswi UPI
Demi Amar Ma'ruf Nahi Mungkar, Melati Blak-blakan
Selasa, 03 Mei 2005 17:25 WIB
Bandung - Mahasiswi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) yang menjadi korban pencabulan oleh seorang ustadz berinisial 'AR' membuka semua yang dialaminya. Blak-blakan. Dia melakukan hal ini demi kebenar dan dalam rangka amar ma'ruf nahi mungkar (menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran). Mahasiswi itu, sebut saja Melati, mengungkapkan semua yang dialaminya itu di depan sejumlah wartawan di Masjid Jami Nurul Jannah, Negla Hilir nomor 16, Isola, Geger Kalong, Bandung, Selasa (3/5/2005). Melati tidak sendiri. Melati yang mengenakan jilbab warna hitam dan berpakaian muslimah ini didampingi teman-temannya, dari Jurusan Sastra Inggris UPI. Pengurus FUUI (Forum Ulama Umat Islam) juga turut mendampinginya. Saat menceritakan kejadian aib yang menimpanya, Melati tampak tenang. Perempuan berkacama minus dan berbadan kurus ini juga tampak semangat membongkar kasus yang dialaminya ini. "Saya hari ini akan mencari dan meluruskan kebenaran, amar ma'ruf nahi mungkar. Keterangan sejelas-jelasnya. Saya tidak memiliki maksud apa pun," kata perempuan kelahiran 1983 ini. Kasus ini terjadi, Selasa, 30 September 2003 (bukan November 2003-Red). Saat itu, Melati datang ke Ponpes Daarut Tauhiid (DT) untuk melakukan konsultasi. Melati punya permasalahan pribadi. "Masalah saya ini, karena ibu saya sakit selama 11 tahun," kata Melati. Saat itu, pagi-pagi dia berangkat dari rumahnya di Kiaracondong menuju Kampus UPI di Jl. Setiabudi, Bandung. Setiba di kampus UPI, Melati langsung menuju Masjid Al Furqon, masjid kampus UPI. Dia salat dhuha dan baca Al Quran. Dari masjid itu, Melati berkeinginan pergi ke DT untuk melakukan konsultasi. Selama ini, Melati memang hobi mendengarkan radio MQ, radio yang digagas DT. Dia pernah mendengar nama Saiful Islam Mubarok, salah seorang pengasuh di DT. Berbekal nama Saiful Islam inilah, Melati menuju kantor Departemen Pendidikan DT. Bertemu resepsionis, Melati menanyakan apakah dirinya bisa langsung ketemu Aa Gym (KH Abdullah Gymnastiar). Tapi, Aa Gym tidak bisa ditemui. Akhirnya, Melati meminta alamat dan nomor telepon Saiful Islam. Setelah itu, Melati pun menelepon Saiful dari wartel. Informasi dari Saiful, Melati diminta datang lagi ke Biro Pendidikan. Di sana memang ada bagian konsultasi. Melati pun bergegas ke sana. Di kantor itu, ada sejumlah orang. Dia pun akhirnya bertemu AR. Oleh AR, Melati kemudian dibawa ke suatu ruangan. Dia ruangan itu, hanya ada mereka berdua. Saat datang ke tempat ini, Melati merasa sedang meriang, tidak enak badan. Terjadilah komunikasi di antara keduanya. Dalam konsultasi itu, Melati sempat meminta AR membaca bersama-sama surat Al Kahfi ayat 50-53. Setelah itu, AR pun berkata kepada Melati, "Ini berat, tidak hanya bisa 1-2 konsultasi. Ini mesti lihat dari atas," kata AR. Nah, saat itu, Melati merasakan badannya semakin tidak enak. Sampai akhirnya, AR kemudian menggerayangi tubuhnya, di bagian dada, perut, dan maaf... alat vital. "Saya gak tahu, kenapa kepala saya tiba-tiba sangat berat saat itu," kata Melati. Setelah digerayangi tubuhnya, Melati hanya bisa diam dan menangis. Setelah itu, AR meminta Melati untuk duduk di sofa. Saat Melati duduk di sofa, sempat datang seorang perempuan ke ruang itu dan sempat berbincang dengan AR. Namun, perempuan itu tidak lama dan keluar lagi. Setelah itu, AR pun berkata lagi ke Melati, "Kalau mau diobati harus ke atas". Melati pun menurut. Bersama AR, Melati keluar melalui pintu belakang, menuju jalan Panorama. Setelah itu, Melati diminta menunggu di poliklinik. Saat itu, menjelang lohor. Melati sempat bingung dan bertanya-tanya dalam hatinya. Termasuk, mengapa sampai AR menggerayangi tubuhnya. "Saya juga berpikir, mungkin saya akan diobati di poliklinik itu," kata dia. Ternyata, dugaannya salah. AR datang menghampirinya dengan mengendarai sepeda motor dan berbekal helm. Melati dibonceng menuju Hotel Anugerah, Ledeng. Dalam perjalanan itu, entah mengapa, Melati seakan setengah sadar. "Saat dibonceng, tangan saya memegang perut dia, kepala saya juga tersandar di punggungnya," jelas dia. Begitu sampai di Hotel Anugerah, ada seorang laki-laki yang menemui keduanya. Mereka bertiga pun masuk ke sebuah lorong. Di situ ada sebuah kamar bertuliskan nomor 16. Nah, Melati dan AR masuk ke kamar itu. Saat di hotel, Melati mengaku agak linglung. Dia disuruh membuka baju oleh AR, sampai akhirnya telanjang dan berbaring di tempat tidur. Ruangan kamar agak gelap. "Sebetulnya, saya sempat memberontak dan berlari ke jendela," tutur Melati. Tapi, AR menghadangnya dan menyeretnya kembali ke tempat tidur. Melati seakan tidak bisa bernapas. AR tampak membacakan rapalan-rapalan. Dan setelah itu, AR menyetubuhinya. "Tenang aja Neng, kamu sudah saya nikahi secara mut'ah," kata AR saat itu. Sebagai mahar, AR memberinya uang Rp 50 ribu kepada Melati. "Kamu terlihat capek, aku belikan nasi goreng ya," kata AR menghibur Melati saat itu. Saat itu, Melati tampak bingung. Di dalam hatinya, mengapa kalau ini konsultasi, sampai melakukan zina. Tak lama kemudian, nasi goreng pesanan AR datang. Ada es krim juga. Saat itu, AR kemudian mandi. Kemudian, AR menyuruh Melati segera mandi juga. "Kamu cantik," kata AR saat itu kepada Melati. Banyak puji-pujian yang disampaikan AR ke Melati. Setelah membayar pesanan makan, AR dan Melati keluar dari hotel. AR mengantarkan Melati sampai Terminal Ledeng, tidak jauh dari Kampus UPI. Melati kemudian berpisah dengan AR, dan pulang dengan angkot. Di dalam mobil, Melati juga seakan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya. Melati sampai rumah setelah Magrib. Orang tuanya pun bertanya mengapa pulang malam. Tapi, dia membisu. Dia masih menutupi apa terjadi padanya. Malamnya, Melati melaksanakan salat tahajjud. Setelah itu, dia punya keyakinan bahwa apa yang dialaminya harus diceritakan kepada orang tuanya. Orang tuanya kaget bukan kepalang. "Yang membawa kamu ke hotel itu, ustadz atau preman," kata ayahnya, Wahyuddin memarahi Melati. Akhirnya, Kamis, 2 Oktober 2003, Melati dan ayahnya mendatangi Ponpes DT dan mencari AR. Mereka bertem. Wahyuddin menanyakan tentang yang dilakukan AR kepada Melati. Di depan ayah Melati, AR mengaku berasal dari Banten dan keturunan seorang ulama. Tapi, saat itu, AR tidak mengaku mencabuli anaknya. "Kejadian anak Anda itu seperti kejadian waktu saya umrah. Yang mengobati adalah khodam," kata AR saat itu. Tapi, setelah didesak, AR mengakui bahwa Melati sudah dinikahi secara mut'ah. Tapi, ayah Melati tidak mau. Bila memang mau bertanggung jawab, AR harus menikah dengan benar. AR keberatan saat itu, karena dia sudah punya isteri dan dua anak. Tapi, akhirnya AR mau juga. Bahkan, AR meminta untuk menikahi Melati saat itu juga. Tapi, ayah Melati menolak. Dia menawar agar pernikahan digelar beberapa hari ke depan secepatnya, karena perlu berbagai persiapan. AR pun oke. Setelah Melati dan ayahnya memberikan alamat dan telepon, mereka pulang. Setelah itu, melalui telepon, AR setuju pernikahan digelar 8 Oktober 2003. Melati meminta mahar 10 gram emas dan uang Rp 800 ribu. Dan pada tanggal yang ditentukan, AR pun datang sambil membawa mahar itu. Tapi, menjelang pernikahan, Melati jatuh sakit. Saat akan menikah itu, Melati sampai dibopong keluarganya. Nah, saat itu, paman Melati sempat memarahi AR karena tindakannya itu. Tapi, apa boleh buat. Jalan satu-satunya terbaik ya menikah itu. Akhirnya, pernikahan itu digelar di bawah tangan. AR membawa dua orang saksi. Saat pernikahan ini, ayah Melati sempat AR untuk bersumpah bahwa memang membawa anaknya ke hotel itu. AR pun mengakui membawa Melati ke hotel. "Benar. Tapi, Bapak jangan takut. Soalnya, khodam saya sudah dibuang ke Pantai Selatan. Anak Anda masih suci," kata AR saat itu. Setelah nikah, AR diminta keluarga Melati untuk menginap di rumahnya. Tapi, AR tidak mau. AR memilih pulang. AR pun meninggalkan nomor HP dan nomor telepon kantor DT. Nah, tanggal 9 Oktober, harusnya digelar sedikit ramai-ramai terkait pernikahan itu. Tapi, AR tidak datang lagi. Ayahnya menelepon AR, tapi HPnya tidak aktif terus. Saat ditelepon ke DT, AR juga tidak ada. Melati bertambah sakit. Tanggal 12 Oktober, orang tuanya membawa Melati ke RS Imanuel. Saat diperiksa, Melati terbukti sudah tidak gadis lagi. Waktu berlalu, AR pun tak muncul. Tanggal 16 November 2003, pengurus DT menelepon ke rumah Melati meminta bertemu di MQ (Manajemen Qalbu) yang berkantor di kompleks DT. Tapi, saat itu, Melati dan orang tuanya tidak bisa. Akhirnya, pengurus DT bersama AR mendatangi rumah Melati. Ada sekitar 7 orang yang datang ke rumah Melati mendampingi AR. Antara lain, Khairati (istri AR), Komaruddin (keluarga AR), Mumu (DT), dan Bandi (DT). Dalam pertemuan itu, Komaruddin marah-marah. Dia pun meminta agar AR menceraikan Melati, karena nikahnya digelar secara siri. Saat itu, talak tiga pun dijatuhkan AR melalui Komaruddin. Mendapat perlakuan seperti ini, keluarga Melati pun marah. Tidak ada titik temu. Setelah pertemuan itu, Melati dan keluarganya tidak pernah bertemu AR. Melati pun bertambah sakit dan stres. Dia sempat dibawa ke RS Jiwa. Tapi, setelah sembuh dan normal, Melati kuliah lagi. Saat pertama kuliah lagi itu, Melati bertemu dosen PAI (pendidikan agama Islam) Toto Suryana (Ketua Tim Investigasi UPI). Saat mengikuti kuliah Toto, Melati bertanya soal kawin mut'ah. Nah, dari situlah, kasus ini terbongkar. Toto pun meneruskan masalah ini kepada Rektor. Dan Rektor membentuk Tim Investigasi. Melati sempat juga melaporkan kasus ini kepada Polres Bandung Barat. Tapi, saat melapor, Melati tidak di-BAP. Waktu berlalu, tim investigasi UPI pun bekerja. Tapi, pada 3 September 2004, digelar pertemuan di Hotel Cipaku untuk islah.
(asy/)











































