"Saya rasa ini merupakan fenomena yang terjadi dan harus segera disikapi. Artinya apa, para remaja ini harus diberikan pembekalan tentang bagaimana merencanakan kehidupan berkeluarga," ujar Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Ambar Rahayu saat dihubungi detikcom, Senin (3/7/2017).
Menurut Ambar, akan banyak permasalahan yang dialami sepasang kekasih yang menikah dengan usia yang sangat terpaut jauh. Pasangan yang berusia lebih muda pun rentan berpaling di kemudian hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang kan dia masih usianya masih anak muda kan, jadi masih ada tendensi ingin dilindungi ingin dikasihi. Tapi nanti dia kalau dia beranjak jadi seorang pria dewasa pasti dia kan tertarik dengan yang lain ini akan jadi permasalahan. Oleh karena itu dua orang tuanya tidak bisa melarang begitu saja, harus melihat kembali apa yang kurang dalam kehidupan remaja ini, apa lagi ini kan background sama-sama susah," tambahnya.
Kasus pernikahan terpaut usia antara Selamet Riyadi (16) dan Rohaya (71) di Palembang harus menjadi perhatian orang tua. Kurangnya pengasuhan orang tua dapat menjadi salah satu sebab terjadinya pernikahan yang terpaut usia jauh.
"Ini kasus tertentu mungkin tidak bisa digeneralisir, nah mungkin si anak ini haus pengasuhan orang tua. Makanya dia pilih istri yang tua dengan harapan untuk mendapatkan kasih sayang. Bisa dilihat lagi apakah anak ini tadinya berasal dari keluarga yang bercerai. Kalau memang demikian ini bisa dijadikan contoh di dalam pengasuhan anak, kalau anak tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh kemungkinan dia tidak seperti ini. Jadi motifnya di sini bukan materi, artinya dia mencari kasih sayang," jelasnya.
Salah satu program yang dijalankan BKKBN saat ini adalah menyiapkan remaja memasuki kehidupan keluarga. Diharapkan para remaja lebih siap berkeluarga dan kasus pernikahan yang terpaut usia jauh tidak lagi terjadi.
"Mungkin mereka juga arus merencanakan karirnya, pendidikannya, masa depannya, nah ini kan memang harus banyak dilakukan sosialisasi pada remaja. Jadi artinya perencanaan kehidupan itu memang harus berdasarkan bagaimana nantinya merencanakan kehidupan keluarga yang berkualitas. Keluarga yang dibentuk adalah keluarga yang bukan karena alasan tertentu. Jadi memang harus betul-betul tujuannya membentuk keluarga yang sejahtera, yang nantinya punya keturunan," imbuhnya. (nvl/fjp)











































