Proses 5 Perompak WNI, Thailand Siap Kerja Sama dengan RI
Selasa, 03 Mei 2005 13:54 WIB
Jakarta - Lima warga negara Indonesia (WNI) bersenjata ditangkap di Thailand dan mendekam di bui kepolisian Negeri Gajah Putih itu. Kelimanya terbukti berprofesi perompak.Pemerintah Thailand siap bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mengusutnya, seperti memproses keberadaan dan status hukum 5 WNI tersebut.Hal itu disampaikan Menlu Thailand Kantathi Suphamongkhon kepada wartawan usai bertemu Presiden SBY di Kantor Presiden Jalan Veteran Jakarta Pusat, Selasa (3/5/2005). SBY didampingi Menlu Hassan Wirajuda."Saat ditangkap, kelimanya bersenjata. Berdasar bukti yang kami temukan, mereka adalah perompak. Kami siap bekerja sama dengan Indonesia untuk mengusutnya, dan hal lainnya mengenai keamanan," ujarnya.Menurut Suphamongkhon, pihaknya sangat antusias untuk menjalin kerja sama bidang keamanan yang lebih intens dengan Indonesia. Baik dalam masalah pemberantasan terorisme dan perang melawan perompak di Selat Malaka.Kasus 5 WNI bersenjata yang ditangkap di perairan Thailand itu menurutnya merupakan contoh yang bagus untuk segera mengkonkretkan kerja sama tersebut. Pijakan hukum yang bisa dipakai adalah perjanjian mengenai batas wilayah laut antara Indonesia dengan Thailand.Pihaknya juga ingin bekerja sama dengan 3 negara pantai Selat Malaka untuk turut aktif menjaga keamanan jalur pelayaran internasional tersebut. Meski tidak berbatasan langsung dengan Selat Malaka, Thailand amat berkepentingan dengan keamanan selat tersebut. Sebab Selat Malaka merupakan salah satu urat nadi penting bagi perekonomian Thailand."Tadi sempat kami bicarakan mengenai apa kontribusi kami untuk dapat berperan aktif dalam pengamanan Selat Malaka. Sebab sesuai perjanjian, keamanan di selat tersebut merupakan tanggung jawab Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kami ingin bekerja sama dengan mereka semua dalam hal ini," kata Suphamongkhon.Hal lain yang dibicarakan mengenai peningkatan kerja sama hubungan bilateral kedua negara yang sudah terjalin selama 55 tahun, baik bidang politik, ekonomi, dan budaya, termasuk juga dialog lintas agama antara tokoh agama kedua negara.Menurut dia, selama ini dunia internasional masih memandang umat Muslim di Thailand dan Indonesia merupakan golongan fundamentalis yang sering dikaitkan dengan aksi terorisme."Kita perlu bersatu agar dunia mengetahui mayoritas Muslim di Indonesia dan Thailand adalah moderat. Bersama-sama kita mencarikan solusi mengenai isu-isu terorisme mengenai mereka," ujar Suphamongkhon seraya mengungkapkan pihaknya mengundang SBY ke Negeri Pagoda itu pada bulan Juli 2005.
(sss/)











































