DetikNews
Kamis 29 Juni 2017, 16:15 WIB

Berpuasa dan Lebaran di Wellington Saat Musim Dingin

M Iwan Munandar - detikNews
Berpuasa dan Lebaran di Wellington Saat Musim Dingin Jemaah khusyuk menyimak khotbah di Wellington, Selandia Baru. (Bayu Sampurno)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Wellington - Umat Islam di Selandia Baru merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1438 pada Senin, 26 Juni 2017. Berbeda dengan di Tanah Air, penetapan awal dan akhir Ramadan/Idul Fitri di Selandia Baru mengacu pada keputusan Federation of Islamic Associations of New Zealand (FIANZ). FIANZ merupakan organisasi wadah dan kerap dijadikan rujukan oleh berbagai organisasi, kelompok, dan individu muslim di Selandia Baru.

Lebih-kurang 400 muslim Indonesia yang tinggal di Wellington, termasuk pelajar/mahasiswa, melaksanakan salat id di Northland Memorial Community Centre, Wellington. Salat dimulai sekitar pukul 09.00 waktu setempat.

Imam dan khatib adalah Rosyid Jazuli, mahasiswa S2 di Victoria University of Wellington. Dalam khotbahnya, dia menekankan arti penting penguasaan ilmu, keluasan cara pandang, dan sikap lapang dada bagi umat Islam. Dengan demikian, selain bekal keimanan dan keislaman yang kokoh, umat Islam mampu memandang keragaman sebagai keniscayaan atau ketetapan Allah (sunnatullah) yang wajib dijaga dan disyukuri.

Berpuasa dan Lebaran di Wellington Saat Musim DinginKhotbah Idul Fitri oleh Rosyid Jazuli (Bayu Sampurno)


Hadir pula Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, beserta jajaran staf Kedutaan Besar dan Atase Pertahanan. Senada dengan pesan khotbah, dalam sambutannya Tantowi juga menegaskan peran umat Islam, khususnya muslim di Selandia Baru, memahami ajaran Islam secara benar serta menampilkan wajah Islam yang damai, ramah, dan menjadi rahmat bagi semesta. Datang dari negeri mayoritas Islam dan kondisi sebagai minoritas memberi tantangan tersendiri bagi muslim Indonesia di Wellington dan Selandia Baru pada umumnya.

Berpuasa dan Lebaran di Wellington Saat Musim DinginDuta Besar Tantowi Yahya menyampaikan sambutan. (Bayu Sampurno)


Selepas salat berjemaah dan sambutan, acara berikutnya berupa ramah tamah yang diselingi hiburan ringan dari jemaah dan sajian khas Nusantara yang menjadikan perayaan mirip suasana Idul Fitri di Tanah Air. Banyak yang hadir bersama keluarga.

Berpuasa dan Lebaran di Wellington Saat Musim DinginSuasana Lebaran di Wellington, Selandia Baru. Saling meminta dan memberi maaf. (Bayu Sampurno)


Beberapa orang bring a plate atau membawa dan berbagi hidangan. Jemaah memanfaatkan acara ini untuk bersilaturahmi dan merasakan suasana Idul Fitri khas Indonesia. Tak sampai lama, opor ayam, telur balado, kerupuk, lontong, sambal, dan beragam kudapan pun tandas.

Berpuasa dan Lebaran di Wellington Saat Musim DinginPenampilan anak-anak menambah meriah suasana. (Bayu Sampurno)


Ramadan di Wellington

Wellington, kota terbesar kedua setelah Auckland, berada di ujung selatan Pulau Utara. Luas wilayah Wellington sekitar 8.000 km2 dan berpenduduk lebih-kurang 500.000 orang. Mungkin terbayang seberapa lengang Wellington.

"Walaupun suasana Ramadan di Tanah Air terkesan lebih semarak, di negeri yang hening ini saya lebih mampu berkontemplasi dan merasa lebih dekat dengan Allah. Di sini, saya selalu merindukan azan dan hadir di masjid," ujar seorang warga Indonesia asal Jakarta, Nunki L Bismo, yang hampir 8 tahun tinggal di Wellington.

Saat ini di Selandia Baru sedang musim dingin. Ini berlangsung dari Juni sampai Agustus dengan suhu rata-rata 12 derajat Celsius. Di Wellington, udara bisa lebih dingin. Real feel-nya jauh di bawah 10 derajat Celsius. Juli adalah bulan terdingin dengan rata-rata suhu 5-6 derajat Celsius.

Di tengah suhu dan terpaan angin dingin inilah kaum muslim di Selandia Baru berpuasa. Bagi muslim Indonesia yang biasa tinggal di tempat bertemperatur hangat, ini menjadi tantangan tersendiri. Dalam kondisi lapar dan dahaga serta kegiatan yang tidak banyak berubah, mereka dituntut bisa menahan dingin yang kadang menusuk tulang.

Sementara di Indonesia selama Ramadan ada penyesuaian jam kerja atau sekolah, 'kemewahan' itu tidak didapatkan di sini. Jam kerja dan sekolah tetap seperti biasa.

Secara umum, jam kerja per minggu 30-40 jam. Awal dan akhir jam kerja bergantung pada bidang pekerjaan. Waktu belajar di primary school (kelas 1-8) dari pukul 09.00 sampai 15.00, sedangkan di secondary school (kelas 9-13) sedikit lebih lama, yaitu dari pukul 08.40 sampai 15.20.

Meski demikian, musim dingin membawa 'berkah' tersendiri. Di Selandia Baru, karena jauh dari Khatulistiwa, pergeseran waktu salat di musim berbeda bisa mencapai 4 jam. Di musim dingin, misalnya, waktu subuh jatuh sekitar pukul 06.00 dan magrib pada pukul 17.00, sehingga durasi puasa hanya 11 jam. Namun, saat musim panas, yakni Desember-Februari, waktu subuh sekitar pukul 04.00 dan magrib pada pukul 09.00.

Umat Muslim Indonesia

Rangkaian kegiatan Idul Fitri tersebut merupakan puncak acara Ramadan dari Umat Muslim Indonesia (UMI), organisasi yang kegiatannya melibatkan paling banyak muslimin/muslimat Indonesia di Wellington. Tidak ada data resmi tentang jumlah muslim Indonesia, namun diperkirakan ada 500 orang yang tinggal di Wellington dan sekitarnya.

UMI didirikan oleh diaspora Indonesia pada 2008. Saat ini, UMI terdaftar sebagai organisasi dengan status incorporate charitable trust.

"Selama tinggal di Selandia Baru lebih dari lima tahun, saya belum pernah berinteraksi dengan organisasi muslim resmi negara lain. Di sini, jarang ada organisasi yang khusus muslim negara tertentu, resmi terdaftar, dan aktif seperti UMI," tutur Ketua UMI Wirasatya Adhikara.

Dalam perkembangannya, kegiatan UMI melibatkan pelajar/mahasiswa Indonesia yang melakukan studi di Wellington. Tercatat sejumlah pengurus UMI adalah mahasiswa aktif.

Berpuasa dan Lebaran di Wellington Saat Musim DinginAnggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Wellington bersama Atase Pertahanan. (Bayu Sampurno)


Program Ramadan UMI masuk agenda rutin tahunan. Kegiatan ini cukup intens karena diadakan setiap akhir pekan (Sabtu), yakni buka puasa bersama (bukber) dan tarawih keliling (tarling). Bergantung pada jumlah pekan dalam 1 bulan, bukber dan tarling diselenggarakan di 4 atau 5 lokasi berbeda untuk menjangkau umat yang tinggal di berbagai wilayah (suburb). Tempat yang biasa digunakan adalah pusat kegiatan masyarakat (community centre) di Ngaio, Newlands, Johnsonville, atau Karori.

Kegiatan Ramadan UMI cukup semarak. Jemaah bisa mencapai 200 orang atau lebih. Selain buka puasa bersama dan salat berjemaah, acara diisi dengan ceramah.

Untuk mendatangkan dai atau penceramah dari Tanah Air, UMI bekerja sama dengan berbagai pihak, antara lain Himpunan Umat Islam Auckland (HUMIA), Indonesian Islamic Centre (IIC), PCI NU Australia dan Selandia Baru, PP Muhammadiyah, serta Dompet Dhuafa. Mubalig dari Indonesia singgah di sejumlah kota di Selandia Baru dalam kegiatan dakwah khusus Ramadan dan Idul Fitri. Saat ini, ada penggalangan dana untuk pembangunan 'Masjid Indonesia' di Wellington.

Berpuasa dan Lebaran di Wellington Saat Musim DinginJemaah berfoto bersama Dubes dan staf Kedubes RI di Wellington. (Bayu Sampurno)


Melalui kegiatan Ramadan dan Idul Fitri, umat Islam Indonesia di Wellington berupaya meraup berkah di bulan suci dan merayakan kemenangan melawan hawa nafsu. Mereka juga mempererat persaudaraan dengan sesama muslim dan saudara sebangsa meski jauh dari Tanah Air.

*) M Iwan Munandar
Mahasiswa program doktor di Victoria University of Wellington, penerima beasiswa Ristekdikti. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.
(nwk/nwk)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed