DetikNews
2017/06/29 08:43:07 WIB

Tapal Batas

Prostitusi dan Pertarungan Melawan HIV AIDS di Merauke

Danu Damarjati - detikNews
Halaman 1 dari 2
Prostitusi dan Pertarungan Melawan HIV AIDS di Merauke Suasana di salah satu lokalisasi di Merauke. (Hasan Al Habshy/detikcom)
Merauke - Merauke dikabarkan menjadi tempat pertama penyebaran HIV AIDS di Bumi Cenderawasih. Pertarungan melawan virus mematikan itu telah berlangsung sejak lama di Papua. Bagaimana hasilnya?

Kawasan tapal batas negara ini punya cerita soal awal mula HIV di Papua, suasana prostitusi dan gaya hidup para awak kapal menjadi latar belakang kisah ini. Tersebutlah seorang nelayan dari negeri seberang datang ke tanah ini, tahun 1992.

"AIDS masuk ke Papua pertama kali dideteksi di Merauke, lewat nelayan yang berasal dari luar negeri, Thailand, yang sandar di Merauke dan menjadi transmisi penularan ke masyarakat setempat," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke, dr Adolf JY Bolang, kepada detikcom di kantornya, Jl Garuda Mopah Lama, Merauke, Papua, Jumat (12/5/2017).

Setelah diadakan tes darah, hasilnya menunjukkan ada nelayan Thailand positif mengidap HIV. Mereka melakukan kontak kelamin dengan pekerja seks komersial (PSK) di Merauke. Maka sejak saat itu, menyebarlah HIV di seantero Papua.




Cerita itu sempat jadi perbincangan yang mengemuka, apalagi membawa-bawa pihak luar negeri segala. Yang jelas sejak saat itu angka kematian akibat HIV AIDS muncul. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke menunjukkan dari 1992 sampai 1999 sudah ada 80 orang meninggal akibat HIV AIDS. Pengidap HIV AIDS pada rentang waktu itu sebanyak 185 orang.

"Transmisi paling banyak lewat kontak seksual," kata Adolf.

Pemerintah mengimbau agar masyarakat takut kepada Tuhan, tak melakukan hubungan seks di luar nikah, dan setia pada pasangan hidup. Peringatan bernafas religius ini tertulis di lembar sosialisasi.

Selain itu, mereka bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk melakukan penyuluhan, mengadakan pemeriksaan terhadap ibu hamil untuk mendeteksi HIV, penyediaan obat antiretroviral di rumah sakit, pemeriksaan Infeksi Menular Seksual (IMS) di tempat hiburan malam per bulannya, hingga kampanye penggunaan kondom untuk kelompok berisiko tertular HIV AIDS.

PSK adalah kelompok berisiko di konteks ini. Dalam peperangan melawan HIV AIDS, para PSK diberi pemahaman soal pentingnya penggunaan kondom supaya virus tidak menyebar ke mana-mana. Hal ini perlu agar jangan sampai ibu rumah tangga baik-baik malah kena AIDS gara-gara suaminya sering menggunakan jasa PSK. Jangan sampai pula anak bayi lahir dalam kondisi tertular HIV AIDS gara-gara polah rahasia bapak atau ibunya. Itu sekadar permisalan.

Kondom menjadi senjata menekan penyebaran HIV AIDS di Bumi Manusia Sejati, julukan Merauke. Di salah satu lokasi yang terkenal sebagai pusat prostitusi Merauke, terlihat berbagai spanduk, poster, dan stiker tentang pentingnya penggunaan kondom. Termasuk tempelan dari produsen-produsen kondom juga ada di sana-sini.

Di atas tanah cokelat kemerahan, terlihat beberapa anak kecil lalu-lalang bermain. Di sekeliling area ini adalah rumah-rumah karaoke dan kamar-kamar mesum. Logat-logat Jawa terdengar jelas tiap kali para perempuan di sini berbicara dengan sesamanya. PSK di sini kebanyakan berasal dari Jawa.

Kawasan prostitusi ini adalah Rukun Tetangga (RT) tersendiri di sudut kota. Konsumennya mulai dari pendatang, orang asli Merauke, pegawai, hingga aparat negara. Hal ini dituturkan oleh salah seorang PSK di situ.

"Tamunya ya macam-macam, semua profesi ada," kata PSK umur 30 tahun asal Jombang Jawa Timur.

Para PSK mengaku selalu meminta tamunya memakai kondom, meski terkadang pria-pria hidung belang itu menawarkan duit lebih tiga kali lipat bila mereka bersedia beraktivitas tanpa kondom.

"Pernah ada yang (kondomnya) dipakai terus disobek. Wah tak tendang, dia telanjang jatuh ke luar pintu. Ketimbang saya kena penyakit, ya to? Saya ini kerja kok," ujar PSK ini. Jarak antara ranjang dengan pintu kamar di bangunan kayu ini memang sangat mepet.

PSK asal Jepara, usia 24 tahun, juga menyatakan hal yang sama. Memang konsumen banyak yang ngeyel, kadang-kadang. Selama ini dia masih bisa menolak baik-baik tamu yang ngeyel.

"Bahkan kalau orangnya nggak sopan, apalagi mabuk, saya tolak," ujarnya.

Bilik-bilik asmara di lokalisasi di Merauke.Bilik-bilik asmara di lokalisasi di Merauke. Foto: Danu Damarjati/detikcom

Rata-rata PSK menceritakan hal yang sama. Tertutur pula cerita-cerita melodramatik tentang latar belakang dan kondisi hidup mereka. Namun salah seorang aktivis penanggulangan HIV-AIDS yang sudah tahu betul seluk-beluk mereka, menasihati saya untuk tidak mudah percaya dengan cerita sedih yang dituturkan para PSK.

Ada LSM bernama Yayasan Santo Antonius (Yasanto) yang dikenal telah lama berkecimpung di bidang ini sejak 1995. Mereka menaruh perhatian pada upaya penanggulangan hingga pendampingan kelompok rentan terkena HIV AIDS. Hingga saat ini, Yasanto bekerjasama dengan Pemkab Merauke, dan dulu mereka juga sempat bekerjasama dengan lembaga donor dari luar negeri seperti AusAID, USAID, Oxfam, hingga UNDP.

Staf Lapangan Divisi Sosial Kemasyarakatan Bagian Pencegahan HIV AIDS Yasanto, Antonius Sunardi, menjelaskan di Merauke ada dua tempat prostitusi, juga terdapat hiburan malam seperti bar, kelab malam, karaoke, dan panti pijat yang memuat jasa birahi, ada yang terselubung dan ada yang terang-terangan.

"Total ada 180 orang PSK di Merauke. Namun jumlah itu naik-turun. Biasanya datang orang-orang baru sehabis lebaran," kata Anton, sapaan Antonius Sunardi.

Dia menjelaskan latar belakang para PSK beragam, ada yang memang sudah niat dari awal kerja sebagai PSK, ada yang bekerja sebagai PSK tanpa sepengetahuan keluarga di rumah, ada yang berasal dari calon Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang tak jadi berangkat ke luar negeri, ada pula transmigran gagal kemudian menjadi PSK liar.

Kelompok rentan ini didampingi dan ditanggulangi supaya tidak menjadi penyebar penyakit menular seksual. Tentu peperangan melawan HIV AIDS bukan bermakna peperangan melawan penderita penyakit itu.

Penyuluhan agar para PSK memakai kondom, supaya tidak menularkan penyakit lewat kontak seks, tidak selalu mudah. Anton sudah bekerja di lapangan sejak 2002, menceritakan dulu dia menghitung satu per satu kondom bekas pakai yang dibuang di tempat sampah. Jumlah kondom bekas itu dia cocokkan dengan jumlah pria yang datang.

"Tahun 2004 sampai 2005, aku hitung kondom bekas, serius, pakai sarung tangan. Saya hitung satu-satu. Soalnya segala metode sudah diterapkan tapi angka IMS (Infeksi Menular Seksual) tinggi terus," tutur Anton.
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed