detikNews
Rabu 28 Juni 2017, 12:50 WIB

Pesan Damai Idul Fitri dari Darwin

Zaki Mubarok Busro - detikNews
Pesan Damai Idul Fitri dari Darwin Suasana di pinggir pantai Darwin Foto: Nograhany WK
Darwin - Umat Islam Darwin secara serentak merayakan Idul Fitri pada Minggu 25 Juni 2017 di Indoor Stadium Marrara yang berada di pusat Kota Darwin. Lapangan basket yang sangat luas di tengah kompleks olahraga tersebut sangat penuh dan hampir tidak bisa menampung seluruh jemaah yang bersuka cita merayakan hari kemenangan.

Pesan Damai Idul Fitri dari DarwinFoto: Suasana Salat Id di Darwin (Zaki Mubarok Busro)


Sebelum melaksanakan salat Id, Ketua Islamic Society of Darwin, Mohammed Raziuddin, memberikan sambutan yang sangat relevan dengan kondisi umat Islam di Australia, tidak terkecuali Indonesia dan dunia. Dengan suara yang pelan namun sarat makna, beliau bersyukur bahwa umat Islam di Darwin tidak memiliki perbedaan dalam merayakan Idul Fitri.

Pesan Damai Idul Fitri dari DarwinFoto: Ketua Islamic Society of Darwin, Mohammed Raziuddin (Zaki Mubarok Busro)


Tampaknya semua mengamini surat edaran dari Australian National Imam Council tentang pengumuman Idul Fitri 1438 H. Persamaan dalam merayakan Idul Firi tersebut juga digambarkan sebagai berlalunya moon fighting dalam melakukan moonsighting.

Tidak kalah menarik sebelum prosesi dimulai, Deputy Chief Minister negara bagian Northern Territory, Nicole Manison, yang berasal dari Labour Party menyampaikan sambutan yang sangat bersahabat sesuai atmosfer hari raya. Kehadiran perwakilan pemerintah setempat memberikan pesan yang kuat tentang hubungan yang bersahaja antara pemerintah setempat dengan komunitas Islam di Darwin.

Pesan Damai Idul Fitri dari DarwinFoto: Deputy Chief Minister NT, Nicole Manison (Zaki Mubarok Busro)


Tidak heran, pemerintah setempat kerap kali memberikan bantuan dana terutama untuk pembangunan infrastruktur seperti pembangunan aula multifungsi dan masjid utama.

Penghormatan Nicole terhadap umat Islam yang hadir di pusat olahraga tersebut sangat membekas karena perempuan paruh baya tersebut melepas sepatu dengan sukarela sebelum memasuki area tempat imam memimpin salat untuk memberikan sambutan di mimbar yang juga digunakan untuk khotbah.

Sederhana namun berkesan. Dalam pidato yang lebih banyak disampaikan tanpa teks tersebut, Pemerintah Northern Territory secara tegas menyampaikan dukungan kepada umat Islam di Darwin.

Kesan yang dirasakan oleh Nicole, umat Islam Darwin menyebarkan ajaran yang penuh kedamaian sehingga patut mendapatkan apresiasi. Pesan yang berulang-ulang juga ditekankan bahwa dengan kehadiran dalam perayaan hari raya ini, pemerintah setempat mendukung kemerdekaan umat Islam dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kerpercayaan yang diyakini.

Islamophobia dan Radikalisme

Setelah Nicole selesai memberikan sambutan, khatib salat Id, Ibtisam, yang ditunjuk oleh Islamic Society Darwin memberikan ceramah yang sarat dengan kondisi faktual yang dialami oleh umat muslim di Darwin pada umumnya dan Australia pada khususnya serta ajaran Islam yang penuh dengan rahmat.

Pesan Damai Idul Fitri dari DarwinFoto: Khatib salat Id, Ibtisam (Zaki Mubarok Busro)


Kehadiran umat Islam di Australia nampaknya masih menjadi ganjalan bagi beberapa orang Australia terutama adanya ketakutan yang berlebih-lebihan terhadap ajaran Islam tanpa dasar pemahaman yang sebenarnya. Dengan gamblang, khatib mendorong agar para jemaah menjauhi paham yang mengajarkan radikalisme serta mengingatkan ajaran Islam yang rahmatan lil'alamin. Namun begitu, khatib juga menyayangkan atas masih suburnya Islamophobia di beberapa wilayah Australia.

Pesan keberagaman dan perdamaian juga didengungkan oleh Konsulat Republik Indonesia di Darwin. Pada hari yang sama, Perwakilan Indonesia di Northern Territory mengadakan open house di Wisma Indonesia dengan mengundang seluruh masyarakat Indonesia. Rumah Indonesia tersebut terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan.

Para staf Konsulat yang dipimpin oleh Konsul RI Andre Omer Siregar secara ramah menyambut setiap tamu yang datang secara silih berganti tidak terkecuali para diaspora yang menggunakan momen tersebut untuk melepas kerinduan atas masakan Indonesia.

Silaturahmi dan Dialog adalah Kunci

Sebagai negara bagian yang terdekat dengan Indonesia, Darwin kerap dianggap kurang populer bagi banyak masyarakat Indonesia dibandingkan dengan daerah lain seperti Sydney, Canberra, Melbourne, Brisbane dan kota lainnya. Barangkali hanya buaya air asin dan Suku Aborijin yang melekat di benak apabila mendengar tentang kota ini.

Namun, justru di Kota Darwin inilah masyarakat Indonesia banyak merasakan sebagai rumah kedua karena adanya persamaan dalam hal cuaca. Masyarakat Aborijin juga sangat mengenal Orang Makassar sebagai mitra dagang penting mereka berabad-abad lampau sebelum kaum kulit putih datang ke Benua Australia. Nama Makassar bahkan diabadikan menjadi nama ruas jalan di Darwin.

Baca juga: Pelaut Makassar, Kaum Pertama yang Kenalkan Islam ke Australia

Toleransi dan keberagaman umat beragama sangat terjaga dengan indah di Darwin. Sangat jarang sekali kekerasan yang mengatasnamakan agama terjadi di Darwin. Setidaknya dibandingkan dengan kota besar lainnya di Australia.

Salah satu kunci nya adalah adanya kesadaran yang tinggi dari masyarakat muslim dan umat beragama lainnya untuk saling menjaga perbedaan melalui silaturahmi dan dialog. Hampir setiap hari Jumat, masjid utama di Darwin dikunjungi oleh pemeluk agama lain yang bahkan jauh dari kota sengaja datang untuk menyaksikan dari dekat ajaran Islam by their own eyes and ears.

Pada waktu umat Islam melaksanakan salat Jumat, mereka diberi ruang dan tempat untuk duduk menyaksikan betapa indahnya umat Islam dalam melaksanakan salah satu kewajibannya. Setelah selesai, mereka tanpa sungkan berkumpul dan berdialog dengan para jemaah tentang ajaran Islam. Para jemaah pun dengan dengan senang hati menyambut mereka dan menjawab pertanyaan yang disampaikan.

Barangkali hal tersebut yang membuat keberagaman terjaga di Northern Territory. Pemerintah setempat pun kemudian dengan bangga memberikan pesan perdamaian kepada seluruh penjuru negeri, yang sari patinya bisa diambil untuk masyarakat luas di tanah air.

Semoga rahmat selalu tercurah kepada seluruh mahluk di bumi ini. Minal Aidzin wal Faidizin. Salam perdamaian dari Darwin.

*) Zaki Mubarok Busro
Mahasiswa Program Doktor di Australian National Center for Ocean Resources and Security (ANCORS), University of Wollongong, Australia; United Nations Nippon Fellow 2016.
*) Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan bukan representasi dari institusi manapun.
(nwk/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com