"Mudah-mudahan gubernur baru bisa ngasih solusi yang lebih manusiawi. Ya, solusi yang lebih manusiawi. Entah bangun rumah atau apa yang lebih layak. Solusi yang lebih baik, makanya kami bertahan," ujar Dharma Diani, yang biasa dipanggil Yani, saat ditemui Senin (26/6/2017).
Yani mengaku kecewa terhadap Pemprov DKI saat ini. Sudah setahun Yani dan sejumlah warga bertahan. Namun, menurutnya, tidak ada solusi yang memperhatikan kehidupan sosial warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami yang berpuluh tahun di sini diusir cuma dengan bahasa relokasi, tanpa ganti satu rupiah pun. Itu yang kami tuntut, itu yang kami persoalkan," tuturnya.
Kampung Akuarium memang seperti tempat yang tidak berpenghuni. Sepi dan tak ada hiruk-pikuk warga yang merayakan Lebaran. Kondisi ini sudah berlangsung sekitar setahun.
"Kalau dibilang perbedaan, sudah pasti ada perbedaanlah. Dari yang utuh (jadi) tidak utuh, itu sudah pasti. Seandainya pun diutuhin kembali, pasti ada bekas-bekas patahannya, hancurnya. Kami buat senormal mungkin, kami ingin kabarkan kepada mereka bahwa kami tetap ada. Bahwa yang kami pertahankan adalah hak hidup dan hak tinggal," imbuh Yani.
Selama bulan Ramadan, menurut Yani, warga mendapatkan 'perhatian' dari pihak luar instansi Pemprov. Warga Kampung Akuarium mendapat bantuan sembako dari perseorangan, LSM, dan instansi-instansi khusus. (nif/fdn)











































