Ramadan Negeri Kahlil Gibran di Tengah Keberagaman

Hamid Hodir - detikNews
Sabtu, 24 Jun 2017 16:35 WIB
Foto: Suasana Ramadan di Lebanon (Hamid Hodir)
Beirut - Lebanon merupakan rumah bagi berbagai macam sekte agama. Bahkan bisa dikatakan sekte-sekte agama yang ada di kawasan Timur Tengah, juga yang ada di Indonesia, hampir semuanya dapat dijumpai sehari-hari di negara sekecil Lebanon ini. Oleh karenanya kemudian disepakatilah sistem politik yang dikenal dengan konfesionalisme.

Yaitu sebuah sistem politik yang membagi jabatan politis tertinggi secara proporsional untuk setiap perwakilan sekte agama yang berbeda-beda. Itulah sebabnya mengapa di Lebanon, presiden pasti dijabat oleh Kristen Maronit, perdana menteri dari Sunni, dan kepala parlementer dari Syi'ah. Dari semua itu, prosentase umat Islam sekitar 60%.

Baca juga: Cerita Prajurit TNI Salat di Depan Gambar Yesus

Ramadan tahun ini merupakan Ramadan kali kedua bagi saya di negeri ini. Berdasarkan keputusan Darul Fatwa, semacam Kementerian Agama di Indonesia, hilal bulan Ramadan telah terlihat di Lebanon pada petang hari Jumat, 26 Mei 2017. Sehingga esok harinya telah mulai melaksanakan ibadah puasa bagi saya yang tinggal di Kota Beirut, kota yang dihuni oleh umat beragama yang bermacam-macam.

Ramadan Negeri Kahlil Gibran di Tengah KeberagamanFoto: Penulis di Lebanon (Hamid Hodir)


Bagi saya yang asrama kampusnya dekat dengan pemukiman Syi'ah, saya terkadang harus mencermati, apakah ini azan masjid Sunni atau Syi'ah?. Hal ini karena Syi'ah azan 15 menit setelah azan Sunni, baik subuh maupun magrib. Inilah pengalaman unik bagi saya yang tidak pernah mengenal dan bersinggungan langsung dengan kaum Syi'ah sewaktu di Indonesia.

Ramadan Tamu Spesial

Ketika datangnya bulan Ramadan, ia tidak hanya menjadi tamu agung bagi umat muslim di negeri ini, melainkan juga menjadi tamu spesial bagi setiap umat beragama di Lebanon, terlebih ibu kotanya, Beirut. Itu terlihat dari pernak-pernik dan lampion yang menghiasi jalanan kota sejak awal bulan Ramadan.

Ramadan Negeri Kahlil Gibran di Tengah KeberagamanFoto: Suasana Ramadan di Lebanon (Hamid Hodir)


Baladiyah Beirut atau Pemerintah Kota Beirut pun memasang spanduk di hampir setiap sudut kota dengan bahasa Arab amiyah atau dialek, "Beirut.. bitahlaa bi Ramadhan" (Kota Beirut.. Menghiasi diri di Bulan Ramadhan). Mayoritas umat non muslim juga cukup menghormati umat muslim dengan memulai membuka restaurannya menjelang waktu berbuka puasa.

Festival Ramadhaniyyat Beirutiya

Festival ini diselenggarakan setiap tahunnya pada bulan Ramadan. Biasanya selama 5 hari pada malam bulan Ramadan. Festival ini menjadi ajang promosi produk-produk Lebanon dan diikuti pula oleh sekitar 14 Kedutaan Besar asing di Lebanon, salah satunya Indonesia.

Melalui KBRI Beirut, Indonesia mendirikan stand yang mempromosikan kebudayaan, pakaian adat, destinasi wisata, hingga kuliner khas Indonesia. Para pengunjung yang datang ke stand Indonesia diajarkan cara membatik, hingga melihat langsung proses pembuatan sate ayam, soto dan rendang serta mencicipinya.

Selain itu, di panggung yang telah disediakan, Indonesia menampilkan beberapa tarian seni. Seperti Tari Piring dari Sumatera Barat, Tari Merak dari Bali, Tari Gemu Famire dari Flores, dan Tari Saman dari Aceh.

Hiruk Pikuk Beralih ke Malam Hari

Ramadan tahun ini jatuh pada musim panas. Sehingga siang hari lebih lama dari pada malamnya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi umat muslim di negeri ini yang menjalani puasa Ramadan selama 16,5 jam. Hirup pikuk mereka beralih menjadi malam hari dengan beribadah di masjid hingga sahur tiba, khususnya 10 malam terakhir bulan Ramadan.

Pada malam ke-27 Ramadan, umumnya umat muslim memadati Masjid Muhammad Al-Amin di tengah Kota Beirut. Di sini dilaksanakan salat tarawih 23 rakaat dengan bacaan 1,5 juz. Setelah itu dilanjutkan qiyamul lail dengan salat tahajjud dan salat tasbih hingga sahur bersama.

Buka dan Sahur Gratis

Buka dan sahur gratis selalu disediakan oleh masjid-masjid di bawah otoritas Darul Fatwa. Kita hanya cukup datang ke sebuah masjid dengan membawa beberapa wadah.

Petugasnya lah yang akan mengisi wadah tersebut sesuai menu pada hari itu. Ia juga memberikan takjil berupa kurma, halawiyyat (manisan khas Lebanon), dan jallab (semacam sirup dari sari kurma). Selain itu, ada juga dermawan yang langsung mendatangi asrama mahasiswa memberikan makanan untuk berbuka puasa.

Ramadan Negeri Kahlil Gibran di Tengah KeberagamanFoto: Suasana Ramadan di Lebanon (Hamid Hodir)


"Tafadhol syekh, madza turiiduun" yang artinya "Silahkan Syekh, apa yang kalian inginkan?", begitulah ucapan dermawan tersebut sambil memberikan makanan, hingga memuliakan kami dengan panggilan "Syekh".

Safari Tarawih Mahasiswa Indonesia

Buka dan sahur gratis yang selalu disediakan oleh masjid-masjid di bawah otoritas Darul Fatwa ini dimanfaatkan oleh mahasiswa Indonesia untuk mengadakan safari tarawih. Para WNI dan juga staf KBRI terkadang melaksanakan hal yang sama. Berkumpul di sebuah masjid, mengikuti pengajian para Syekh, buka bersama, salat tarawih, qiyamul lail hingga sahur bersama di masjid tersebut.

Khusus di setiap hari Jumat, aktivitas menjelang buka puasa hingga salat tarawih dilaksanakan di KBRI Beirut. Undangan ditujukan kepada seluruh mahasiswa Indonesia, para WNI dan juga TNI yang sedang bertugas menjaga perdamaian.

Ramadan Negeri Kahlil Gibran di Tengah KeberagamanFoto: Suasana Ramadan di Lebanon (Hamid Hodir)


Di situlah, kita bisa silaturahim dengan warga indonesia lainnya sambil melepas rindu masakan khas Indonesia. Sesekali juga diundang buka bersama di KRI Bung Tomo yang sedang bertugas menjaga Laut Mediterania, Laut di sisi barat Lebanon.

Kebersamaan dan rasa kekeluargaan sesama warga Indonesia di negeri ini membuat saya tak merasa sedang jauh dari tanah air tercinta. Semoga teman-teman semua berkesempatan mencicipi Ramadhan di Negeri Kahlil Gibran juga ya! Ramadhan kariim, TaqabbalAllahu Minna wa Minkum Taqabbal Ya Kariim.

*) Hamid Hodir adalah Mahasiswa S1 Studi Islam dan Sastra Arab di Universitas Kulliyatud Dakwah, Beirut, Lebanon. Wakil Ketua PPI Lebanon periode 2016-2017.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partipisasi dari Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia). (nwk/nwk)