Cara Komunitas Muslim Indonesia Kenalkan Islam pada Warga Jepang

Dedy Eka Priyanto - detikNews
Jumat, 23 Jun 2017 14:25 WIB
Foto: Islamic Cultural Festival 2017 menampilkan stan fashion muslim, kaligrafi dan penampilan tari piring (Deny Prasetyawan)
Tokyo - Ramadan, bulan suci bagi umat Islam, tidak hanya dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas iman pribadi muslim, namun juga syiar Islam untuk masyarakat sekitar khususnya yang non-muslim.

Keluarga Masyarakat Islam Indonesia (KMII) dengan didukung oleh KBRI Tokyo, Persaudaraan Muslim Indonesia Jepang (PMIJ), FGA, Dewan Kemakmuran Masjid Masjid Indonesia Tokyo (DKM MIT), dan komunitas negara muslim di Jepang, menyelenggarakan Islamic Cultural Festival 2017 pada 17 Juni 2017, di Sekolah Republik Indonesia Tokyo (SRIT). Sebuah acara memperkenalkan Islam melalui pertukaran budaya, khususnya untuk masyarakat Jepang.

"Budaya Jepang dan ajaran Islam memiliki banyak kesamaan. Sedikitnya ada tiga, yaitu menghargai waktu, kebersihan dan penghormatan kepada orang tua. Melalui acara ini, semoga masyarakat Jepang yang hadir dapat mengenal budaya negara-negara Islam dan memahami ajaran Islam dengan baik," ujar Ketua Bidang Dakwah KMII Harun saat memberikan sambutan dalam acara ini.

Acara yang diselenggarakan untuk ketiga kalinya semenjak tahun 2015, mengambil tema "Satu hari, menjadi muslim". Lebih dari 140 orang mengikuti acara ini, baik orang Jepang muslim maupun non-muslim.

Di awal acara peserta diajak mencoba pakaian khas negara muslim, seperti hijab, baju abaya/kurung untuk perempuan. Untuk laki-laki, disediakan, taqiyah (topi khas Arab), dan tidak ketinggalan peci dan baju koko khas Indonesia.

Selain itu, tersedia juga stan kaligrafi, dimana peserta belajar teknik menulis kaligrafi yang menggunakan bambu dan tinta sebagai alatnya. Peserta juga mendapat penjelasan tentang Masjid Indonesia Tokyo, dan khusus non-muslim diajak untuk melihat ke dalam masjid yang baru saja diresmikan.

Untuk menambah pengetahuan tentang Islam, seminar dan diskusi tentang "Islam sebagai Jalan Hidup" juga diadakan dengan mengundang pembicara dari orang Jepang, Ustaz Maeno dan Ustazah Miwa.

Cara Komunitas Muslim Indonesia Kenalkan Islam pada Warga JepangFoto:

Seminar dan diskusi tentang Islam oleh Ustaz Maeno dan Ustazah Miwa

(Deny Prasetyawan)


Ustadz Maeno menjelaskan Islam dengan singkatan ISLAM itu sendiri yakni International, Spiritual, Love, Awesome, dan Moderate. Ustazah Miwa menceritakan perjalanan hidupnya bagaimana beliau tertarik dengan Islam dari kepribadian muslim ketika sedang belajar di Amerika.

Kedua pembicara sepakat bahwa menjadi muslim tidaklah sulit karena banyak budaya Jepang yang sesuai dengan ajaran Islam, tinggal meninggalkan apa yang dilarang secara bertahap.

Menjelang berbuka puasa, peserta dibuat kagum dengan penampilan tari piring dan tari padupa oleh siswa/i Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Tidak ketinggalan Nasyid Jepang yang berjudul "Kamisama (Tuhan)" dan "Mantsuki Nobotta (Tala Al Badru Alayna)" oleh ustaz Maeno dan Meguro Voice, mengetuk hati para peserta.

Azab Magrib pun berkumandang dan saatnya berbuka. Pengunjung diajak mencicipi makanan tradisional dari berbagai negara muslim, seperti roti jala khas Malaysia, fatteh khas Suriah, biyari, pakora dan chai dari Pakistan, makanan khas Turki dan tidak ketinggalan Indonesia dengan menu khas tradisionalnya seperti nasi uduk, tempe, ayam goreng yang disajikan apik dengan daun pisang.

Cara Komunitas Muslim Indonesia Kenalkan Islam pada Warga JepangFoto: Hidangan Nusantara dan negara muslim lainnya untuk Iftar (Nabila Prima)


"Acara ini selalu kami nantikan. Senang bisa mencoba makanan dari berbagai negara yang menunya selalu berganti, bisa melihat dalam masjid dan bisa belajar banyak tentang Islam," demikian kesan dari warga Jepang, Tamura dan istrinya yang non muslim. Mereka sudah mengikuti acara ini untuk ketiga kalinya.

Selain Islamic Cultural Festival, KMII juga mengadakan IslamZemi, seminar bulanan untuk orang Jepang yang mengajarkan Islam dari dasar dan tematis. Acara ini juga banyak dihadiri oleh non-muslim Jepang yang tertarik dengan Islam. Acara-acara seperti ini menambah semarak syiar agama Islam di bumi sakura.

*) Dedy Eka Priyanto adalah Koordinator Divisi Dakwah Nihonjin (Orang Jepang)- KMII, Peneliti di IHI Corporation, Jepang. (nwk/nwk)