ADVERTISEMENT

Kejagung Harus Teliti Periksa Kredit di PT Tahta Medan

- detikNews
Senin, 02 Mei 2005 19:00 WIB
Jakarta - Dari lima kasus kredit macet Bank Mandiri yang diperiksa Kejagung, ada kasus kredit yang cukup rumit. Kejagung harus cermat dalam memeriksanya. Yaitu kasus kredit PT Tahta Medan, perusahaan yang dibeli PT Cipta Graha Nusantara (CGN). Menurut Anggota Komisi XI DPR Drajat Wibowo, kasus yang terjadi di PT Tahta Medan ini memiliki kerumitan yang sangat tinggi. Sebab, kasus ini merupakan penggunaan kredit Bank mandiri dalam pengalihan hak tagih aset BPPN. Sebelumnya, PT Tahta Medan ditangani BPPN, karena memiliki utang besar di BCA. Sedemikian tinginya kerumitan tersebut, sehingga sepintas kasus ini seperti kasus jual beli atau pengalihan kredit yang normal. Bila Kejagung tidak didukung penguasaan yang komprehensif terhadap pola dan mekanisme transaksi keuangan dan perbankan, Kejagung bisa gagal membuktikan tindak pidana korupsi ini. Atau gagal dalam membuktikan adanya pelanggaran perbankan atau kejahatan perbankan lainnya. Kejagung, kata Drajat, tidak berani menuntaskan kredit Bank Mandiri terkait pengalihan hak tagih PT Tahta Medan yang diperoleh BPPN dari BCA sebagai bank asal. Potensi kerugian negara akibat kasus ini sebesar US$ 7 juta atau Rp 63 miliar. "Kejagung harus jeli dalam menentukan siapa tersangka sebenarnya," kata Drajat dalam jumpa pers di Posko Drajat Wibowo, Jl. Suwiryo, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/5/2005). Namun, yang jelas, kata dia, direksi Bank Mandiri harus bertanggngung jawab terhadap pemberian kredit satu hari pada tanggal 24 Oktober 2002 sebesar Rp 160 miliar kepada PT CGN, sebagai pembeli PT Tahta Medan. Menurut Drajat, ada upaya terencana yang dilakukan aktor sebenarnya untuk mengambil keuntungan pribadi dengan jalan membeli murah aset kredit BPPN dan menjual mahal kepada pihak ketiga. Upaya ini dilakukan dengan menggunakan kredit investasi Bank Mandiri sebagai sumber pembiayaannya. "Tanpa ada kredit investasi Bank Mandiri, belum tentu aktor yang sebenarnya dapat menjual kepada pihak ketiga dengan memperoleh keuntungan," kata Drajat. Informasi ini, diakui Drajat, didapatkannya dari salah seorang sumber di Bank Mandiri. Bagi Drajat, disetujuinya kredit investasi Bank Mandiri dalam satu hari itu makin memperkuat bukti adanya upaya terencana tersebut. Dalam perjanjian kredit tersebut, Bank Mandiri menyetujui kredit investasi Rp 100 miliar kepada PT CGN dengan catatan CGN membeli saham dana pensiun Bank Mandiri yang merupakan pemegang saham PT Tahta Medan sebesar Rp 22 miliar. Tapi, saat itu baru dibayar Rp 14,7 miliar. Drajat mempertanyakan mengapa Bank Indonesia tidak mengetahui adanya pencairan kredit satu hari itu.

(asy/)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT