DetikNews
Kamis 22 Juni 2017, 18:18 WIB

Ini Cara Memainkan Klakson 'Om Telolet Om'

Danu Damarjati - detikNews
Ini Cara Memainkan Klakson Om Telolet Om Alat untuk bikin klakson telolet (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Musim mudik, musimnya bus-bus berkeliaran mengantarkan orang-orang yang ingin pulang kampung. Klakson telolet lantang bernyanyi di jalan-jalan.

Ternyata klakson yang sempat bikin heboh orang-orang beberapa bulan lalu ini masih cukup digemari. Terbukti saat melintas tol Jakarta-Cikampek, Kamis (22/6/2017), ada sekelompok anak-anak dan remaja yang berdiri di pinggir tol, tersenyum dan mengacung-acungkan tangan meminta diklakson telolet.

Ini Cara Memainkan Klakson 'Om Telolet Om'Andi Safrudin, sopir bus (Foto: Danu Damarjati/detikcom)


Armada yang mengantar rombongan mudik Transmedia ini juga memasang klakson telolet, dibunyikan oleh sopir bernama Andi Safrudin (32). Anak-anak di pinggir jalan itu jadi gembira.

Klakson telolet itu berwujud kotak, menempel di dasbor samping. Warna kotak itu hitam, ada lima tombol kecil, masing-masing berwarna biru, hijau, hijau, hijau, dan biru. Di depan tombol kecil-kecil muat sejari ini ada kenop putar. Di bawah panel klakson ini, kabel yang masuk ke bagian gelap bawah dasbor.

Bagaimana sih cara memainkan klakson yang tenar ini? Apakah nada-nada dalam 'telolet-telolet' itu dimainkan manual satu per satu nada atau otomatis saja? Apa ada ruang improvisasi dalam membunyikan klakson telolet?

Ini Cara Memainkan Klakson 'Om Telolet Om'Alat klakson telolet dengan 5 tombol dan 1 kenop (Foto: Danu Damarjati/detikcom)


"Ini tinggal pencet saja," kata Andi sambil mengemudikan bus.

Matanya menatap ke depan, kedua tangannya memegang setir. Klakson telolet ada di samping kanannya. Bila membunyikan klakson ini, tangan kanan Andi memencet tombol, sesekali juga memutar kenop, sementara tangan kirinya tetap mengendalikan putaran setir. Tambahkan sedikit imajinasi Anda, maka Andi bakal seperti disk jockey (DJ) aliran musik dansa elektronis (EDM). Dia tidak terlihat kerepotan sama sekali.

"Dua tombol biru bunyinya lagu, tiga tombol hijau bunyinya nada," kata Andi.

Jadi bila Anda mendengar 'telolet, telolet, telolet!' bunyi itu dihasilkan dari sekali pencet tombol saja, bukan dari sejumlah tuts yang dimainkan per nada. Andi cukup menekan tombol biru untuk membunyikan serangkaian nada alias satu jenis lagu pendek. Tekan tombol agak lama, maka rangkaian nada jadi lebih lengkap.

Bahkan lagu pendek itu bukan hanya sekadar 'telolet' saja, ada pula lagu pendek yang bernada seperti lagu dangdut populer 'Buka Sithik Jos'. Bagaimana cara dia mengubah lagu pendek satu ke lagu pendek lain?

"Ya pakai kenop ini," kata Andi. Jadi fungsi kenop ini adalah untuk mengganti jenis lagu pendek mirip suara ponsel monoponik itu.

Andi menjelaskan kenop ini bisa diputar sebanyak lima langkah. Setiap langkah akan menghasilkan bunyi yang berbeda-beda untuk lima tombol di belakangnya. Lima langkah putaran kenop dikalikan lima tombol klakson. "Jadi klakson ini punya variasi 25 bunyi," kata Andi sambil sesekali ngemil makanan ringan.

Lalu adakah ruang improvisasi dalam memainkan klakson ini? Ada, tapi sempit sekali. Saat detikcom mencoba, ternyata tiga tombol hijau itulah yang bila dipencet bunyinya tak menghasilkan suara lagu pendek, melainkan satu nada saja. Jadi ada tiga nada tunggal di sini, diwakili oleh tiga tombol hijau.

Ini Cara Memainkan Klakson 'Om Telolet Om'Bocah-bocah di pinggir jalan meminta telolet (Foto: Danu Damarjati/detikcom)


Kalau mau berimprovisasi ya cuma pakai tiga nada ini. Didengar-dengar, tak ada interval laras sesuai solmisasi di sini, tak ada pula pentatonik, pelog, slendro, atau kromatik. Bukan berarti ruang kreativitas tertutup. Bila cukup niat, keahlian elektronika, dan nada maka bisa saja orang memodifikasi klakson ini supaya berbunyi seperti yang diinginkan.

Andi membeli klakson ini di Jakarta seharga Rp 1,8 juta. Harga itu sudah termasuk pemasangannya. Dia tak tahu klakson merek apa dan berapa volt ukurannya. Namun kata dia, klakson ini punya tiga corong suara, cukup untuk menghasilkan suara lantang.

"Kalau corongnya enam atau sembilan, lebih mahal lagi. Makin banyak lagu juga makin mahal. Yang Rp 2,3 juta itu bisa 40 lagu (bunyi)," kata dia.

Pria yang sudah jadi sopir angkot sejak SMP ini merogoh kantong pribadinya untuk memasang klakson ini. Dia memasang klakson telolet karena memang sedang tren.

"Karena zamannya saja pas masang telolet. Nyenengin yang di jalan saja," kata Andi yang sering membunyikan klakson bila ada orang-orang di pinggir jalan yang meminta bunyi itu.

"Telolet! Telolet! Telolet!"
(dnu/dhn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed