Renungan Iktikaf Malam ke-27: Betapa Kayanya Islam Kita!

Muhammad Sufyan Abdurrahman - detikNews
Kamis, 22 Jun 2017 17:25 WIB
Foto: Tampak luar Mesjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, Kamis (22/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurrahman)
Bandung - Belum lama sebetulnya, tepatnya sekitar lima tahun silam, paradoksikal terjadi di depan masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat (tenar dengan masjid Agung Alun-Alun Bandung) setiap kali momen emas datang: Malam ganjil 10 hari terakhir Ramadan.

Ini terjadi, karena mismanajemen pemerintahan kala itu membuat wajah alun-alun berantakan, hingga tak segan bikin penjaja seks komersial dan konsumennya bertransaksi persis di hidung masjid ikonik Jawa Barat tersebut. Lampu penerangan pun minim kala itu, seolah merestui ruang kesalahan.

Tak hanya itu, lazimnya zona maksiat, turunan dari prostitusi kerap muncul mulai dari minuman keras, narkoba, hingga titik temu geng motor Bandung! Jadi, lantunan ayat Quran nyaring tepat di depan pelbagai praktik dosa. Bagaimana sekarang, saat malam 27 Ramadan 1438/22 Juni 2016?

**

Semua media sosial rasanya sudah perlihatkan perubahan signifikan Alun-alun Kota Bandung setelah dirombak Kang Emil, sapaan akrab Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pada akhir Desember 2014 lalu.

Spot kekinian, terutama untuk Instagram, disajikan nyaris di semua titik lapangan berumput sintetis tersebut. Hal yang secara otomatis efektif mengusir aneka perilaku tidak terpuji yang sebelumnya kerap ditemukan.

Kenyamanan ini pula yang dirasakan penulis, saat bersama lima kawan, datang bermaksud iktikaf pada masjid yang tergolong tertua di Jawa Barat ini --didirikan pada tahun 1812 untuk kemudian dipugar modern pertamakali tahun 1973 dan dirombak besar per 25 Februari 2001.

Paling banter hanya sekelompok remaja tanggung yang bermain futsal, tak ada lagi kupu-kupu malam depan masjid. Tambah ke dalam tambah nyaman ketika melihat dua ruangan utama relatif penuh dengan jemaah.

Ruangan pertama yakni ruangan bagian depan, yang banyak ditujukan bagi kaum ibu. Malam itu, pemandangan menyentuh terlihat ketika sang ibu khusyuk mendaras Quran sementara dua anak balitanya tidur pulas di sampingnya.

Renungan Iktikaf Malam ke-27: Betapa Kayanya Islam Kita!Foto:
Suasana dzikir bersama di Mesjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, Kamis (22/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurrahman)


Berikutnya ke ruangan inti masjid, yang mana bagian depan hampir 3/4 ruangan ditujukan kaum hawa dan sisanya dengan dihalangi hijab kain untuk perempuan yang hendak ikut acara inti.

**

Malam itu, sejak pukul 10.30 hingga 01.30 WIB, tausiah diberikan oleh kiai berpenampilan unik dan jadi ciri khas-nya yakni bendo (sejenis blangkon di Jawa) yakni KH A Thontowi Musaddad, MA.

Renungan Iktikaf Malam ke-27: Betapa Kayanya Islam Kita!Foto: Suasana saat KH. Thontowi Musaddad, MA memberikan tausyiah spartan hingga tiga jam lamanya di Mesjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, Kamis (22/6/2017) dinihari.
(M Sufyan Abdurrahman)


Lulusan tafsir quran Universitas Ummul Qura, Makkah, ini penuh spartan dan energi, mulai dari posisi duduk, berdiri, dan duduk, membawakan materi yang sungguh relevan dengan kondisi tanah air hari ini.

"Banyak yang lupa diri, bahwa bagi seorang muslim, apalagi mu'min, raganya sendiri lebih mahal dari gunung emas sekalipun. Sebab, di alam kubur dan akhirat nanti, gunung emas percuma, takkan bisa selamatkan siapapun," ujar pria yang juga lulusan Pesantren Gontor ini.

Menurut dia, pada hari ini, malah makin banyak yang gelap mata dan melupakan aset yang jauh lebih mahal di badannya sendiri (fisik beriman) untuk mengejar aset duniawi yang terlihat mahal tapi tak bermanfaat di hari akhir.

Tak percaya? Allah SWT dan Rasul SAW sejak 14 abad silam mewanti-wanti hal ini, bahwa betapa banyak muslim yang ingin dikembalikan ke dunia sekalipun satu hari karena menyesal lebih mengejar gunung emas tadi.

Untuk itulah, sambung tokoh Nadhlatul Ulama dari Garut ini, hendaknya semua muslim punya kesabaran tebal yakni sabar atas perintah/larangan/suka dan duka. Janganlah silau dengan gunung emas dan derivatifnya seraya melupakan modal kekayaan dalam diri yang disusupi buhul-buhul aqidah dan iman.

**

Setelah istirahat satu jam, acara dimulai lagi oleh anak ulama besar Jawa Barat ini, (alm) Prof. KH. Anwar Musaddad ini. Dan inilah realisasi dari judul yang dipilih penulis karena prosesi selepas tausiah tak selalu salat malam berjemaah.

Renungan Iktikaf Malam ke-27: Betapa Kayanya Islam Kita!Foto: Bagian pertama ruangan Mesjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, Kamis (22/6/2017) dinihari.
(M Sufyan Abdurrahman)


Setelah sebelumnya diisi qiyamulail bareng sebagai puncak acara pada masjid jami' yang penulis datangi (malam 21 di masjid Al-Murabbi, malam 22 di masjid Habiburahman, malam 23 di masjid Darul Ihsan, malam 24 di Darut Tauhid, malam 25 di masjid Al-Mukaromah), puncak acara di masjid Raya Bandung adalah zikir bersama.

Jemaah diberikan buku kecil warna biru yang ditulis sendiri Ajengan Thontowi, sapaannya. Delapan halaman buku berisikan detil aneka bacaan wirid berjemaah yang dicuplik dari ayat Quran maupun hadis otentik.

Renungan Iktikaf Malam ke-27: Betapa Kayanya Islam Kita!Foto: (M Sufyan Abdurrahman)


Jika umumnya zikir akbar membaca terus menerus secara kolegial, semalam beda sendiri karena sang kiai kerap membacakan dulu historis maupun benefit di balik doa tersebut sehingga menambah khusyuk jemaah.

Misalnya sebaris doa yang dicontohkan Rasul SAW kepada salah satu sahabatnya kala itu yang dari pagi hingga sore terus berzikir. Sebaris doa ini dicontohkan dengan benefit pahala lebih utama dari yang seharian merapal wirid tersebut.

Pembacaan tiap wiridan rerata ganjil (3x/21x), angka yang disenangi Allah SWT. Beberapa saat jelang tuntas sekitar pukul 03.30 WIB, petugas cekatan membagikan dengan mendatangi sejumlah kotak nasi. Ini pun menambah khazanah kekayaan karena prosesi sebelumnya kerap kali prasmanan mulai jam 04.00 WIB.

Renungan Iktikaf Malam ke-27: Betapa Kayanya Islam Kita!Foto: Petugas bagikan nasi kota sahur dengan mendatangi jamaah di Mesjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, Kamis (22/6/2017) dinihari.
(M Sufyan Abdurrahman)


Perbedaan ini jelas bukan pertentangan dan atau polarisasi, namun kekayaan prosesi yang menambah teguh sekaligus penuh pelanginya Islam Indonesia asalkan selalu dalam cakupan syahadat yang seragam.

Kita, umat Islam, dalam aneka beda, sebaiknya selalu ingat slogan yang kerap disampaikan Ustaz Roni Abdul Fattah dari Daarut Tauhid, Bandung:

Bersatu dalam akidah, berjemaah dalam ibadah, bertoleransi dalam khilafiyah, dan bekerjasama dalam dakwah.

*) Muhammad Sufyan Abdurrahman adalah Dosen Digital Public Relations Telkom University (nwk/nwk)