DetikNews
Kamis 22 Juni 2017, 10:06 WIB

MaPPI: Pelaku Kejahatan di Jakarta 89 Persen Laki-laki

Cici Marlina Rahayu - detikNews
MaPPI: Pelaku Kejahatan di Jakarta 89 Persen Laki-laki Ilustrasi (ari/detikcom)
Jakarta - Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) melakukan studi hasil dalam menyikapi kejahatan yang terjadi di DKI Jakarta. Studi ini dilakukan dengan tema '490 Tahun Kota Jakarta, Refleksi Kondisi Kejahatan di Ibu Kota'.

Tujuannya adalah memetakan tindak pidana serta penanganannya dalam kasus kriminal yang sering terjadi. Menurut peneliti MaPPI, Bestha Inatsan, ada 89,1 persen kejahatan di DKI Jakarta yang dilakukan oleh kaum laki-laki.

"Kejahatan ini banyak dilakukan oleh laki-laki 89,1%, perempuan hanya 10.5%," kata Bestha dalam diskusi di Bakoel Coffe, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (21/6/2017).

Bestha mengatakan sekitar 2,9 persen di antaranya merupakan pelaku residivis dan 90,8 persen adalah pelaku yang baru pertama kali melakukan kejahatan. Hal ini tentu menjadi perhatian bagi instansi kepolisian dalam menjaga keamanan ketertiban dan keamanan (kamtibmas).

"Orang yang melakukan kejahatan kebanyakan pengangguran, Mereka ngerampok saja atau mencuri karena tidak bekerja. Artinya bahwa ada masalah sosial di sini, bukan masalah kejahatan saja, tapi juga masalah pencegahan," jelas Bestha.

"Kejahatan sering terjadi, seperti perampokan, pencurian dengan kekerasan, pemberatan, begal, curanmor, itu sering terjadi, dan ketika diadili hanya membuat over capacity untuk lapas saja," imbuhnya.

Hal ini menjadi manarik karena semakin beraninya kejahatan terjadi di Ibu Kota. Peneliti MaPPI lainnya, Dio Ashar menanggapi kejahatan yang selalu berakhir dalam lapas sebagai tindakan represif. Dio mengatakan harus ada alternatif lain agar over kapasitas di lapas tidak terus terjadi.

"Nah ini tidak heran kalau kita melihat over kapasitas di lapas. Karena tidak ada alternatif lain, yang diselesaikan adalah pemenjaraan saja. Kita lihat perspektif lain, ini kita bisa mencontoh juga di Belanda," ujarnya.

"Di sana arahnya tidak selalu dilakukan tindakan represif, tapi ada juga pencegahan. Ada satu menarik, bagaimana pencurian itu terjadi, itu paling banyak libur Natal, jadi bisa jadi masukan, ini kan bisa jadi sebuah pencegahan," sambung Dio.

Sementara itu, CEO PT Indexalaw, Evandri G Pantouw mengatakan cara pencegahan juga bisa dengan pembuatan aplikasi lokasi kejahatan. Hal ini tentu membuat masyarakat lebih berhati-hati saat berada di tempat kejadian perkara (TKP).

"Terkait dengan pencurian fungsi hal ini untuk memperlihatkan kebiasaan kecenderungan pencurian di Jakarta. Ini dapat diakses oleh publik, sehingga publik tahu," kata Evandri dalam kesempatan yang sama.

Evandri mengaku sedang membuat aplikasi dalam webnya Indexlaw.id. Dia mengintegrasikan semua data kejahatan di Jakarta dalam teknologi seperti mapping. Hal ini tentu diharapkan dapat meminimalisir tingkat kejahatan yang ada.

"Kalau kita lihat pemanfaatan teknologi, kita perbaiki integrasi data sehingga masyarakat dapat melihat lokasi-lokasi mana yang cenderung sering terjadi kejahatan dan masyarakat bisa mengantisipasinya," pungkasnya.
(cim/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed