DetikNews
Rabu 21 Juni 2017, 21:06 WIB

Mereguk Hikmah Komunikasi Qur'ani di Malam ke-26

Muhammad Sufyan Abdurrahman - detikNews
Mereguk Hikmah Komunikasi Qurani di Malam ke-26 Foto: Papan informasi soal Mesjid Baitul Amanah di Pasar Cibogo, Blok 23, Kelurahan Sukawarna, Sarijadi, Kota Bandung, Rabu (21/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurrahman)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Bandung - "Setinggi-tingginya terbang bangau, hinggap di bubungan juga."

Barangkali, setelah menjajal aneka masjid jami' di Kota Bandung sejak malam 21 Ramadan lalu guna mengejar Lailatul Qodar, sudah sepantasnya ke tempat biasa melakukan jemaah salat fardhu sehari-hari.

Tak afdhal jika sehari-hari ke masjid ini (sekalipun tak bisa dipakai salat Jumat), namun terus menjajal aneka masjid jami' besar dan utama di kota kembang semata agar luas horizon pengetahuan.

Inilah Masjid Baitul Amanah. Tempatnya relatif kecil, ukuran 77 meter persegi, dengan akses masuknya harus melewati dulu Pasar Cibogo, Blok 23, Kelurahan Sukawarna, Sarijadi, Kota Bandung.

Jangan bayangkan akses masuk lapang, tentunya. Namanya pasar, ya kerap dijejak ribuan orang tiap hari, sehingga plester semen tergolong cukup baik. Sekalinya hujan, cukup licin dan disesaki rembesan lumpur.

Namun di situ pula mungkin seninya. Menuju ke sana, selain akses biasa saja, Anda akan menemui pemandangan dan terutama khas pasar: bau ikan laut, wangi khas bumbu dapur, suara ayam kampung menunggu dibeli, dan banyak lagi.

Mereguk Hikmah Komunikasi Qur'ani di Malam ke-26 Foto: Pintu masuk ke Mesjid Baitul Amanah di Pasar Cibogo, Blok 23, Kelurahan Sukawarna, Sarijadi, Kota Bandung, Rabu (21/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurrahman)


Dan, pada malam ke-26 Ramadan, masjid ini menjadi destinasi menghabiskan malam 10 hari terakhir kala ini --sekalipun tahu tidak akan ada prosesi lazim masjid jami' terutama salat qiyamulail berjamaah.

**

Setelah masuk ke ruangan yang masih gelap dan tiada kawan, maka amalan yang dianjurkan saat iktikaf kami rapalkan dan daraskan. Dalam helaan nafas, pada setiap harap dan pinta.

Mereguk Hikmah Komunikasi Qur'ani di Malam ke-26 Foto: Suasana i'tikaf di Mesjid Baitul Amanah di Pasar Cibogo, Blok 23, Kelurahan Sukawarna, Sarijadi, Kota Bandung, Rabu (21/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurrahman)


Hingga kemudian, mungkin karena ketiadaan prosesi pada galibnya di masjid jami', akhirnya memilih untuk tadabbur ayat Quran saja. Baik pada Alquran cetakan fisik saat membaca maupun aplikasi digital untuk terjemahannya.

Sebagai insan komunikasi, tadabbur ini berangkat dari pernyataan seorang politisi di sebuah televisi berita dalam acara talkshow. Esensinya yang bersangkutan menyebut lantang bahwa semua agama itu sama, dan lalu ini menuai viralitas di media sosial. Hmmm...

**

Benak ini langsung tertuju sejumlah surat dan buaran ayat yang terkait dan atau memiliki kandungan terkait komunikasi (interpersonal/kelompok/publik). Setidaknya, dalam hemat penulis, itu ada dalam Surat Asy-Syu'ara (para penyair), Al-Qalam (pena), dan An-Naba' (berita besar).

Mereguk Hikmah Komunikasi Qur'ani di Malam ke-26 Foto: Tadabbur ayat terkait komunikasi dan situasi kekinian tanah air. (M Sufyan Abdurrahman)


Pada Asy-syu'ara, terutama ayat 221-227, intisarinya adalah bahwa setan turun kepada pendusta yang banyak berdosa. Yakni mereka yang menyampaikan hasil pendengaran mereka ke publik padahal mereka pendusta (ayat Quran). Apa parameternya? Mereka mengatakan apa yang tak mereka kerjakan --dan sayangnya-- para penyair ini diikuti orang sesat.

Sudah menemukan relevansinya langsung? Mari ingat ayat populer, "Inna dinna indallahul Islam." Surat ke-19 ayat Al-Imran ini tentu saja menegaskan status dan posisi agama Islam di mata Allah Swt; Sang superior menegaskan ketinggian agama, sehingga Allah ridho padanya.

Kita beralih ke Al-Qalam, artinya pena, sebuah surat yang diawali huruf Nun, dan fokuslah pada ayat 8-15. Bahwa, "Jangan engkau patuhi orang yang mendustakan Al-Quran, yang inginkan engkau bersikap lunak juga (toleran dalam mendustai)."

Mereguk Hikmah Komunikasi Qur'ani di Malam ke-26 Foto: Tadabbur ayat terkait komunikasi dan situasi kekinian tanah air. (M Sufyan Abdurrahman)


Kemudian, "Dan, jangan patuhi orang yang suka bersumpah dan suka menghina dan suka mencela dan kesana kemari menyebarkan fitnah, yang merintangi segala yang baik dan melampaui batas, yang bertabiat kasar dan terkenal kejahatannya, yang apabila ayat Quran dibacakan akan berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu'."

Dan terakhir, dalam An-Naba' disebutkan bahwa berita besar datang pada mereka yang yakin pada hari kiamat, yang balasannya terhadap yang yakin itu adalah kebun dan buah anggur di surga serta gelas penuh minuman nikmat, di sana tidak akan terdengar percakapan sia-sia maupun perkataan dusta. Ini termaktub dalam ayat 1-2 dan ayat 31-37.

Mari pahami mengapa lebih banyak ayat Afala ta'qilun / Apakah kamu tidak berpikir hingga belasan kali; Sebab apa yang terjadi pada hari ini sejatinya sudah diprediksi dalam kitab suci ini sejak 1.400 tahun silam!

14 abad lalu, kita sudah diberi Allah tentang kriteria komunikasi yang baik, terutama mengenali komunikator yang baik/buruk, sekaligus diberi tahu cara memfilternya karena kadang kita tak punya kuasa menahannya sebagaimana tersaji dalam tayangan televisi berita tadi.

14 abad lalu, esensi komunikasi interpersonal (grup/publik) sudah termaktub di dalam Quran sementara di sisi lain, ilmu komunikasi di Indonesia secara formal-akademis baru eksis secara mandiri di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad mulai 18 September 1960.

**

Dalam riuh rendah komunikasi pada hari ini di Indonesia, terutama dipicu Pilkada Jakarta hingga dua putaran pada Februari dan Mei lalu, sebenarnya sudah banyak tersurat dan tersirat panduannya dalam Alquran. Hanya cahaya kebenaran ini, tentu saja tak datang sendiri, sehingga kewajiban seorang muslim mencari ilmu disuratkan mulai lahir hingga jelang akhir hayat. Non stop.

Saat terpekur disadarkan, ketika jarum jam mendekati pukul 04.00 dinihari, pintu Masjid Baitul Amanah terdengar ada derap masuk. Oh, ustaz sudah datang setelah menunaikan sahur. Kaki segera melangkah melewati akses jalan pasar berbau khas, seraya meneguk hikmah komunikasi Qurani.

*) Muhammad Sufyan Abdurrahman adalah Dosen Digital Public Relations Telkom University
(nwk/nwk)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed