DetikNews
Rabu 21 Juni 2017, 20:05 WIB

Berkelana dari Krabi Thailand hingga Penang Saat Ramadan

Novita Dewi - detikNews
Berkelana dari Krabi Thailand hingga Penang Saat Ramadan Foto: Berkelana dari Krabi Thailand ke Penang (Novita Dewi)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
George Town - Senja mulai menggelayut di ufuk barat, menandakan hari akan segera berganti. Menyambut hari baru tidaklah mudah bagiku yang kini harus terpisah jauh dari kehangatan keluarga yang biasa menyelimutiku.

Krabi, Thailand telah aku anggap sebagai rumah baru. Di sana aku menemukan tempat untuk mengembangkan kemampuanku, mengeksplorasi setiap bagian diriku yang tidak mungkin tampak jika aku tetap berada dalam zona nyaman. Tepat 13 hari semenjak bulan Ramadan dan kurang lebih sebulan aku berada di Thailand, tiba waktuku untuk mengurus visa di Pulau Penang Malaysia. Di sinilah semua cerita bermula.

Berkelana dari Krabi Thailand hingga Penang Saat RamadanFoto: Berkelana dari Krabi Thailand ke Penang (Novita Dewi)


Mungkin ini adalah Ramadan paling berkesan dalam hidupku. Berkelana meninggalkan rumah keduaku— Thailand —untuk sementara waktu dan bertolak menuju Malaysia, aku hanya mampu berbekal doa agar semua berjalan lancar dan baik-baik saja.

Betapa aku berbahagia mengetahui Allah mengabulkan doa-doaku. Dia memberikan kelancaran dan kemudahan dalam setiap urusan—bahkan lebih dari itu, Allah memberikan 'bonus' liburan untukku.

Perjalanan dari Krabi, Thailand menuju Pulau Penang merupakan perjalanan yang cukup panjang. Pertama, aku dan dua orang teman dari program yang sama berangkat menuju Sadao, Thailand pada pukul 15.30.

Sepanjang perjalanan penuh dengan cerita, canda serta tawa yang selama hampir sebulan terakhir tidak dapat aku lakukan karena kendala bahasa. Menyempatkan diri untuk beristirahat, berbuka puasa dan salat, akhirnya kami tiba di Sadao pukul 21.30 dan memutuskan untuk menginap di sana.

Perjalanan Ramadan kami lanjutkan keesokan harinya pada pukul 04.30. Pagi buta kami berkumpul dan bergegas menuju perbatasan Thailand-Malaysia. Tanpa kendala yang berarti, kami berhasil melewati border dan melanjutkan perjalanan menuju Royal Thai Consulate General, Penang setelah menyempatkan salat Subuh di perbatasan. Sekitar pukul 10.00 waktu setempat kami tiba di Kantor Konsulat Thailand di Penang.

Berkelana dari Krabi Thailand hingga Penang Saat RamadanFoto: Berkelana dari Krabi Thailand ke Penang (Novita Dewi)


Hal yang paling aku khawatirkan —kendala dokumen dan sebagainya— pada akhirnya hanya sekedar ketakutan belaka karena Allah telah memberikan kemudahan dalam setiap urusan. Tak sampai 1 jam kami telah berhasil menyelesaikan proses pengajuan Visa Non Immigrant B.

Ada sebuah kejutan pada hari Jumat itu. Berencana mengambil visa pada hari Senin, pada kenyataannya hari Senin merupakan public holiday di Malaysia karena ada peringatan Nuzulul Quran. Tanpa disangka, kami mendapat bonus tambahan satu hari libur di Penang.

Kami yang menamakan diri "Tim Terpaksa Piknik" pada akhirnya memutuskan untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Yaaa, boleh dibilang aji mumpung, tapi memang kita dituntut untuk mampu menggunakan kesempatan dengan sebaik mungkin, bukan? Bekal yang sangat terbatas tidak menjadi halangan bagi kami untuk mengeksplorasi pulau kecil ini.

Hari pertama, kami hanya menghabiskan waktu di hotel sembari menanti waktu berbuka. Tiba waktu sore, kami memutuskan untuk berjalan-jalan dan mencari makanan untuk berbuka. Tak disangka, ternyata hotel kami sangat dekat dengan pantai yang begitu indah, Batu Feringgi. Sebelumnya kami tidak pernah tahu bahwa pantai tersebut merupakan salah satu tujuan wisata terkenal di Pulau Penang, dengan berbagai macam olahraga air yang ditawarkan.

Setelah memanjakan mata dengan pemandangan sunset yang begitu menawan, kami memutuskan untuk mencari masjid terdekat demi berbuka puasa. Sayangnya, masjid yang dimaksud terlalu jauh sehingga azan berkumandang sebelum kami sempat sampai di masjid.

Pada akhirnya kami melangkahkan kaki menuju salah satu Kedai Nasi Kandar— kami bahkan tidak tahu apa itu nasi kandar. Sisa hari pertama kami habiskan untuk bertarawih di masjid dan berjalan pulang menyusuri night market yang juga berada sangat dekat dengan hotel kami.

Hari kedua, kami tidak bisa menentukan lokasi tujuan. Pada akhirnya kami nekad menumpang bus Rapid Penang bertingkat tanpa mampu menyebutkan tempat tujuan —untungnya Pak Supir memahami dan membolehkan kami duduk. Tak disangka, ternyata bus tersebut berhenti di pelabuhan Jetti dan di sana kami harus turun. Masih belum mempunyai tujuan pasti, kami hanya berjalan menyusuri jalan sepanjang pelabuhan.

Langkah kaki kami terhenti pada beberapa tempat yang cukup menarik seperti beberapa gedung pemerintahan, Clock Tower, Fort Cornwellis, dan Masjid Kapitan Keling di kota tua Georgetown. Berjalan berkilometer jauhnya cukup membuat kami letih, ditambah dengan cuaca yang sangat panas dan jalan yang penuh dengan asap.

Belum lagi kami yang salah menaiki bus dan hampir saja kembali ke terminal bus di pelabuhan. Sungguh hari yang begitu melelahkan, namun juga menyenangkan.

Hari ketiga telah tiba dan kami belum juga menentukan tujuan perjalanan untuk hari ini. Setelah beberapa saat berdiskusi mengenai destinasi wisata selanjutnya, kami memutuskan untuk mengunjungi Penang Hill yang sangat terkenal. Dengan bermodal nekad dan uang seadanya, kami menaiki Rapid Penang untuk menuju Komtar (terminal bus) yang kemudian melanjutkan perjalanan menuju Penang Hill. Perjuangan kami terbayar sudah ketika melihat pemandangan seluruh kota Penang dari ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut.

Setelah puas menikmati keindahan lukisan Tuhan, kami bergegas kembali demi mengejar waktu berbuka puasa. Karena jarak Penang Hill dengan hotel yang cukup jauh, kami memutuskan untuk berbuka puasa di Masjid Negeri Pulau Pinang, yang ternyata membutuhkan perjuangan dan kesabaran. Bagaimana tidak? Bus yang kami tumpangi tidak mau berhenti tepat di depan masjid melainkan cukup jauh melewati masjid—sebab Rapid Penang hanya berhenti pada halte bus, tidak pada sembarang tempat. Alhasil kami harus bergegas berjalan—dan sedikit berlari—agar bisa sampai tepat pada waktu berbuka.

Sesampainya di masjid, agaknya kesabaran kami masih harus diuji karena kami kehabisan mangkok dan gelas untuk berbuka. Keinginan untuk segera menikmati hidangan berbuka khas Masjid Negeri harus kami urungkan.

Namun, aku membawa sebotol air mineral dan dengannya aku membatalkan puasaku—agaknya dua rekanku juga telah membatalkan puasa mereka seadanya. Beruntung, beberapa menit kemudian ada seorang ibu separuh baya yang memanggilku dan berbagi makanan denganku. Alhamdulillah, berkah Ramadan begitu aku rasakan dan persaudaraan atas nama Islam benar-benar aku rasakan di sini.

Dua hari tersisa dan kami menyempatkan diri untuk mengunjungi Chowrasta Market, sebuah pusat oleh-oleh terkenal di Pulau Penang. Di sana kami membeli beberapa barang untuk dibawa kembali ke Thailand. Pada akhirnya, tiba waktunya untuk kembali ke Negeri Gajah Putih. Meskipun kami tidak membawa banyak barang, tapi kami membawa sejuta cerita yang tidak akan pernah lekang dari ingatan —Ramadan penuh kenangan.

*) Novita Dewi, Program Alumni Mengajar di Thailand (AMT'17) Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
(nwk/nwk)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed