Nuansa Ramadan di Bristol Inggris

Rifki Dermawan - detikNews
Rabu, 21 Jun 2017 12:05 WIB
Foto: Menantikan waktu berbuka puasa di Mesjid Assahaba, Bristol (Rifki Dermawan)
Bristol - Menempuh pendidikan tinggi di luar negeri bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan. Hidup dalam komunitas dan lingkungan baru membutuhkan proses adaptasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Hingga tahun 2017, sudah banyak mahasiswa Indonesia yang berani menjawab tantangan tersebut dan memutuskan untuk mencari ilmu ke berbagai penjuru dunia. Tersedianya beasiswa yang berasal dari pemerintah, seperti beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), juga turut mendorong semakin banyaknya jumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri.

Inggris merupakan salah satu negara favorit yang menjadi tujuan studi mahasiswa Indonesia. Negara yang dikenal dengan multikulturalismenya ini, memberikan suasana yang penuh keberagaman bagi warganya. Hidup berdampingan dengan masyarakat yang berasal dari agama, ras, dan suku yang berbeda menjadi kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain. Nilai toleransi dan hormat menghormati juga sangat dijunjung tinggi.

Berdasarkan sensus penduduk yang dilaksanakan pada tahun 2011, agama Islam menempati posisi kedua setelah Kristen dari segi jumlah penganut di Britania Raya. Sensus yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali ini menunjukkan lebih kurang 4,4% warga Britania Raya, yang mencakup daerah Skotlandia, Wales dan Irlandia Utara, adalah muslim.

Beragam kota di Inggris menjadi tempat menetap sementara para mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di negeri Ratu Elizabeth. Bristol, sebuah kota yang cukup asing di telinga masyarakat Indonesia, merupakan salah satu daerah tujuan studi mahasiswa yang datang dari seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia.

Di tahun akademik 2016/2017, lebih kurang sejumlah 70 orang mahasiswa Indonesia menempuh studi di dua universitas terbesar di kota ini yaitu University of Bristol dan University of West of England.

Bristol dianugerahi sebagai "the best city to live in the United Kingdom" berdasarkan survei The Sunday Times di tahun ini. Layaknya kota di Inggris lainnya, Bristol juga memiliki keberagaman yang tinggi dalam masyarakatnya.

Komunitas muslim di kota ini didominasi oleh warga keturunan dari daerah Asia Selatan dan juga para pendatang dari Somalia. Berdasarkan survei di tahun 2011, sekitar 22 ribu penduduk di kota Bristol adalah muslim.

Meskipun dari segi jumlah populasi tidak begitu signifikan, muslim Indonesia yang telah menjadi bagian dari masyarakat Bristol tetap mampu menunjukkan eksistensinya. Dibentuknya kelompok Pengajian Al-Hijrah Bristol merupakan salah satu cara untuk memperkuat silaturahmi warga Indonesia, termasuk para mahasiswa, yang jauh dari kampung halaman. Al Hijrah melalui kegiatan pengajian rutin dan berbagai agenda lainnya mampu menjadi medium bagi para anggotanya untuk lebih memahami agama Islam.

Nuansa Ramadan di Bristol InggrisFoto:

Sejumlah mahasiswa memenuhi undangan buka puasa bersama di rumah keluarga Indonesia di Bristol (Rifki Dermawan)



Di tahun 2017, bulan Ramadan bertepatan dengan musim panas di negara Inggris. Total waktu berpuasa yang cukup panjang hingga mencapai 19 jam menjadi suatu tantangan tersendiri bagi umat muslim dalam menjalankan ibadah puasa.

Suasana Ramadan di Indonesia yang sangat berbeda dengan negara Inggris menjadi hal yang sangat dirindukan oleh para perantau muslim dari Tanah Air. Sebagai bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia tentu saja memiliki nuansa Ramadan yang unik dan lebih menyeluruh ke semua aspek kehidupan masyarakat.

Untuk mengobati rasa rindu akan atmosfir bulan puasa di Indonesia, kegiatan buka puasa bersama menjadi aktivitas yang rutin dilaksanakan, baik buka bersama di student accommodation ataupun di rumah keluarga Indonesia. Keakraban dan rasa kekeluargaan yang dibangun dari kegiatan ini menjadi semacam penyejuk yang juga dapat mempererat ukhuwah Islamiyah. Di samping itu berbagai makanan khas Indonesia yang disajikan menjadi sesuatu yang sangat dinantikan untuk memenuhi dahaga setelah berpuasa seharian penuh.

Nuansa Ramadan di Bristol InggrisFoto:

Beragam masakan Indonesia yang sangat dinantikan di saat buka puasa bersama (Rifki Dermawan)



Semangat bulan Ramadan tidak hanya dirasakan di dalam komunitas muslim Indonesia di Bristol. Sejumlah masjid di kota ini juga menyediakan beraneka ragam menu berbuka puasa yang disediakan untuk para jemaah. Hidangan yang berupa masakan khas dari berbagai negara menambah rasa nikmat di saat berbuka puasa. Meskipun populasi umat Islam di Bristol hanya berkisar 5% dari jumlah total penduduk, namun mereka tetap berusaha untuk tetap menyemarakkan suasana Ramadan.

Bagi para mahasiswa muslim, Ramadan menjadi waktu yang dapat "menguji" kemampuan untuk menyeimbangkan kehidupan akademik dan ibadah di bulan suci. Mendekati penghujung tahun ajaran, mayoritas mahasiswa pascasarjana di Bristol disibukkan dengan kegiatan penelitian untuk menyelesaikan tugas akhir.

Manajemen waktu yang baik adalah salah satu strategi untuk dapat memaksimalkan setiap aktivitas yang dilaksanakan. Konsistensi, tanggung jawab, dan kesadaran sebagai seorang muslim menjadi pedoman dasar bagi mahasiswa perantauan ini untuk tetap menjalani kehidupan sehari-hari tanpa mengabaikan ibadah di bulan Ramadan.

*) Rifki Dermawan merupakan mahasiswa pascasarjana program MSc International Relations di University of Bristol, Inggris dan anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Cabang Bristol.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia). (nwk/nwk)