Dua Pelajaran Penting dari Dua Masjid dalam Malam Ke-25 Ramadan

Muhammad Sufyan Abdurrahman - detikNews
Selasa, 20 Jun 2017 15:45 WIB
Dai sekaligus imam muda saat mengisi tausiah malam ke-25 Ramadan di Masjid Al-Mukarromah, Jl Ir Sutami No 50A, Sukajadi, Kota Bandung, Selasa (20/06/2017) dini hari. (M Sufyan Abdurrahman/detikcom)
Bandung - Ada dua poin penting dari perjalanan keliling (sebagian) masjid di Kota Bandung pada malam ke-25 Ramadan 1438 Hijriah/20 Juni 2017 ini--mengambil hikmah di Masjid Jami' Al-Mukarromah Jl Ir Sutami No 50A, Cipedes, Kota Bandung, serta Masjid Jami' Nurul Falah, Blok 23, Sarijadi, Kota Bandung.

Dua Pelajaran Penting dari Dua Masjid dalam Malam ke-25 Suasana Masjid Al-Mukarromah, Jl Ir Sutami No 50A, Sukajadi, Kota Bandung, Selasa (20/6/2017) dini hari. (M Sufyan Abdurahman/detikcom)


Pertama, sang dai muda di Al-Mukarromah dalam ceramahnya selepas berjemaah salat malam menyitir hadis sahih yang bagus berikut ini:

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya." (HR Bukhari No. 6607).

Maka itu, bagi umat muslim, sekalipun belum tentu ahli ibadah, sedari kecil sudah didoktrin dua pembeda akhir hayat: husnul khatimah/akhir atau kesudahan yang baik dan su'ul khatimah/akhir atau kesudahan yang buruk.

Seseorang boleh saja sedari kecil dididik taat ibadah, ahli salat, gemar infak, bahkan menunaikan haji di usia bugarnya. Namun, karena terutama salah bergaul, minim memelihara hidayah, maka saat meninggal malah bisa jadi ahli maksiat.

Dua Pelajaran Penting dari Dua Masjid dalam Malam ke-25 Suasana salat malam menjemput 10 hari terakhir Ramadan di Masjid Al-Mukarromah, Jl Ir Sutami No 50A, Sukajadi, Kota Bandung, Selasa (20/06/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurahman/detikcom)


Sebaliknya, sebagaimana banyak riwayat hadis masyhur ini: Seorang pelacur karatan pun akhirnya malah masuk surga hanya karena sepenggal kebaikan dan niat total bertobat pada ujung hayatnya.

Maka itu, kata sang dai berusia 20 tahunan tersebut, demikian pula dengan nasib kualitas ibadah kita di bulan Ramadan ini. Bisa mengalami kesudahan yang baik atau malah (naudzubillah) terjerumus pada penutup yang jelek.

"Boleh jadi, seseorang sangat taat dan getol ibadah pada malam 1, 2, sampai 20 Ramadan. Namun kemudian tersungkur malas beribadah mulai malam 21 sampai akhir Ramadan. Ini akhir yang jelek, harus kita siasati," katanya di hadapan sekitar 30-an jemaah masjid malam itu.

Siasatnya ada beberapa, namun yang utama adalah memperbanyak istighfar memohon ampun atas dosa selama ini. Sebab, persistensi dan konsistensi ibadah akan bergantung pada hidayah-Nya, yang itu bisa turun jika dosa kita diampuni. Analoginya, mungkin, kita cenderung akan berbuat baik kepada orang yang tak punya cacat di mata kita, apalagi rajin menuai kebaikan kepada kita.

Dua Pelajaran Penting dari Dua Masjid dalam Malam ke-25 Suasana selepas iktikaf di Masjid Nurul Falah, Blok 23 Sarijadi, Kota Bandung, Selasa (20/06/2017) dini hari. (M Sufyan Abdurahman/detikcom)


Siasat berikutnya adalah berprasangka yang baik serta berserah diri setelah berusaha (tawakal) kepada Ilahi Rabbi. Ini pun bisa mudah dijelaskan karena kesudahan yang baik hanyalah tercipta jika aliran hidayah terus mengalir pada jiwa kita yang hatinya bersih, tak buruk sangka, sekaligus rajin berikhtiar.

Dan, di malam ke-25 tersebut, penulis merasa menemukan relevansi sekaligus implementasi materi ceramah tersebut. Baik di Al-Mukarromah maupun Masjid Jami' Nurul Falah, masing-masing ada pria berusia sepuh yang tetap ikhtiar memburu malam seribu malam sekalipun beribadah dengan bantuan kursi lipat.

Dua Pelajaran Penting dari Dua Masjid dalam Malam ke-25 Suasana salat malam menjemput 10 hari terakhir Ramadan di Masjid Al-Mukarromah, Jl Ir Sutami No 50A, Sukajadi, Kota Bandung, Selasa (20/06/2017) dini hari. (M Sufyan Abdurrahman/detikcom)


Tampaknya mereka sudah sulit rukuk, sujud, juga duduk tasyahud, namun tampak terus bertawakal serta berprasangka baik (atas kondisi kesehatannya) semata-mata karena ingin kesudahan yang bagus, baik dari ibadah Ramadan maupun dari akhir hayatnya.

Semoga Allah SWT menjadikan para senior kita sebagai hikmah maha penting alias ibroh bagi kita semua. Membuat kita mampu baca ayat-ayat kehidupan yang berserakan agar suri teladan mereka menjadi landasan pedoman prilaku ke depan.

Kedua, tampaknya masih ada disparitas satu masjid jami dengan masjid lainnya dari sisi ritualitas ibadah. Konteks pernyataan ini adalah tak semua masjid yang mengadakan iktikaf di Kota Bandung mampu menyiapkan imam hafiz yang bisa menuntaskan minimal satu juz saat salat malam tersebut.

Bahkan, sebagai contoh konkret, di Masjid Habiburahman PT DI, imam hafiz dalam semalam bisa menuntaskan 3-4 juz (Baca kisah penulis sebelumnya: Iktikaf di Masjid PT DI, Jemaah Meluber hingga Gelar Tenda Kemah ). Hal serupa terjadi di Al-Murabbi, Jl Sutami, atau Masjid Darul Ihsan Telkom Corporate University.

Dua Pelajaran Penting dari Dua Masjid dalam Malam ke-25 Foto: Wisma Putra


Namun, setelah perjalanan malam ke-25 tadi, faktanya memang tak semua masjid bisa menyiapkan hal ini. Maka sebenarnya ada peluang amal, terutama bagi programmer/imam hafiz/donatur/pengurus masjid.

Peluang ini berangkat dari hal konkret di Kota Bandung tahun ini yang diberikan aktivis masjid kampus Bandung dalam program 'Dai dan Imam Siap Berdaya'. Jadi sejumlah mesjid kampus siap membantu masjid lainnya dalam urusan imarah masjid Ramadan 1438 H.

Nah, sebaran dan daya ledak program ini haruslah dipertajam. Caranya? Antara lain dengan programmer mobile apps membuat aplikasi canggih dan praktis dengan didanai aghniya yang berkecukupan untuk kemudian mengajak penghafal Alquran dan pengurus masjid terlibat intens di dalamnya.

Maka kelak masjid jami yang pastinya ingin punya kualitas salat malam berjemaah khatam minimal 1 juz bisa mudah mencari sekaligus meminta alokasi para hafiz agar jadi imam di masjidnya sehingga terjadi kesetaraan pencapaian.

Semoga kita semua tercakup golongan yang tak kenal lelah berusaha mencapai predikat husnul khatimah, juga termasuk golongan umat-Nya yang berusaha membangun fondasi Islam agar terus kokoh menguat.

*) Muhammad Sufyan Abdurrahman, Dosen Digital Public Relations Telkom University. (nwk/nwk)