DetikNews
Senin 19 Juni 2017, 18:44 WIB

BPOM akan Perbaiki Sistem Registrasi Produk Terkait Kasus Samyang

Jabbar Ramdhani - detikNews
BPOM akan Perbaiki Sistem Registrasi Produk Terkait Kasus Samyang Foto: Kepala BPOM Penny Lukito (Nathania Michico/detikcom)
FOKUS BERITA: Babi Dalam Mie Korea
Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan empat produk mi Korea mengandung fragmen DNA babi. Empat produk impor tersebut dijual tanpa menempelkan label mengandung babi di kemasan produknya.

Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan hal ini sudah dijelaskan ketika importir tersebut melakukan registrasi produk. BPOM juga sudah memberikan ketentuan pemasaran produk-produk tersebut.

"Jadi pada saat mereka mendaftarkan, registrasi sesuai ketentuan yang ada, untuk produk yang memang mengandung babi harus dijelaskan, bahwa mengandung bahan babi. Dan harus ditempelkan di labelnya. Dan pada saat di retail harus ditempatkan terpisah dan diberi tanda bahwa ini mengandung babi. Jadi harusnya aman seperti itu," kata Penny di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (19/6/2017).

Namun, empat produk mi yaitu Samyang (mie instan U-Dong), Samyang (mie instan rasa Kimchi), Nongshim (mie instan Shin Ramyun Black) dan Ottogi (mie instan Yeul Ramen) beredar bebas di pasaran.

Penny tidak menyebut lembaganya kecolongan dari beredarnya produk tersebut. Menurutnya, yang terjadi adalah pelanggaran dari importir produk tersebut.

"Saya tidak menggunakan kata kecolongan. Kalau itu kita tidak melakukan apa-apa. Ini ada satu ketentuan yang dilanggar," ujarnya.

Dia mengatakan belum akan membawa pelanggaran ini ke dalam ranah hukum pidana. Namun, lembaganya dapat memberikan sanksi administratif berupa pencabutan izin edar dan pembekuan izin impor atas keempat produk tersebut.

Selain itu, BPOM akan melakukan perbaikan dalam registrasi produk. Penny mengatakan, ke depan BPOM harus mengikuti perkembangan yang terjadi.

"Perbaikan akan terus dilakukan. Ini juga warning kita semua, bahkan untuk diperketat. Aspek registrasi akan mengikuti kekinian. Karena perkembangan zaman dan teknologi serta perkembangan kejahatan," ucap dia.

Dia mencontohkan hal yang dapat dilakukan ialah dengan melakukan uji yang lebih intensif. Pengujian terhadap produk tidak lagi dilakukan secara acak (random).

Hal ini dilakukan karena ada importir yang tetap melanggar. Pengetatan uji ini dilakukan kepada importir yang telah tercatat melakukan pelanggaran.
(jbr/rvk)
FOKUS BERITA: Babi Dalam Mie Korea
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed