DetikNews
Senin 19 Juni 2017, 17:05 WIB

Peta Jelang Pilgub Jabar: Ada 3 Kutub Koalisi, Belum Ada Calon Aman

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Peta Jelang Pilgub Jabar: Ada 3 Kutub Koalisi, Belum Ada Calon Aman Foto: Haris Yuliana
Jakarta - Peta politik menuju Pilgub Jabar secara umum sampai akhir Ramadan masih cair. Kemungkinan akan ada tiga kutub koalisi di Pilgub Jabar 2018 mendatang, Gerindra dan PKS kemungkinan masih akan bersama-sama.

"Yang menarik satu gerbong koalisi sudah mulai memperlihatkan kepastiannya yaitu PKS dan Gerindra. Dari seluruh pergerakan yang ada kemungkinan bisa ada tiga kutub koalisi yakni PKS-Gerindra, kutub Golkar dan koalisinya, dan kutub PDIP," kata Ketua DPP PKS Haris Yuliana kepada wartawan, Senin (19/6/2017).

Mengenai kandidat cagub dan cawagub sudah terlihat di sejumlah survei ada beberapa nama yang diprediksi cukup kuat dari segi elektabilitas. Namun anggota tim pemenangan wilayah PKS Jawa Barat ini menilai belum ada calon yang aman.

"Untuk masalah calon kalau melihat dari angka survei yang sudah beredar belum ada yang dikategorikan kuat. Elektabilitas tertinggi memang masih Deddy Mizwar dan dan Ridwan Kamil, tapi belum cukup kuat dan aman. Kemungkinan besar pasangan calon akan mempengaruhi elektabilitas akhir," katanya.

Pemimpin Jawa Barat yang akan datang, menurut Wakil Ketua DPRD Jabar ini, adalah pemimpin yang harus didukung oleh ulama dan menjadi representasi keumatan dan juga mampu mengatasi perkembangan kekinian dan dunia global. Namun demikian, belum tentu calonnya harus ulama.

Ia juga melihat, Jawa Barat menjadi ajang pertaruhan kualitas kaderisasi partai. Nama yang kuat seperti Ridwan Kamil sampai saat ini belum menjadi kader partai.

"Oleh karena itu menjadi tantangan bagi kader partai di Jawa Barat untuk maju. Ini menjadi penting sebab terkesan partai politik yang notabene instrumen penting dalam demokrasi di Indonesia seakan akan menjadi mainan, hanya didekati bila dibutuhkan, dan bisa ditinggalkan kapan saja," katanya.

Seorang calon kepala daerah , menurutnya, harus punya etika politik. Layaknya seorang tamu, ketika datang perlu mengetuk pintu, begitu pula saat pergi,

"Tidak lantas begitu saja. Itulah mengapa posisi kader partai untuk maju menjadi penting," pungkasnya.
(van/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed