DetikNews
Senin 19 Juni 2017, 13:35 WIB

Iktikaf di Darut Tauhid: Belajar dari Dais

Muhammad Sufyan Abdurrahman - detikNews
Iktikaf di Darut Tauhid: Belajar dari Dais Foto: Dais Muhammad Rizki, peserta i'tikaf 10 hari terakhir di DT saat ditemui di Mesjid DT, Kota Bandung, Senin (19/6/2017) dinihari. (Muhammad Sufyan Abdurrahman)
Bandung - Perawakannya kecil mendekati kerempeng. Posturnya tak tinggi. Laiknya seumuran anak baru gede, jerawat ada di kanan kiri pipinya. Pun, keluaran dari gairah anak muda itu, di mata saya, bukan kepada lawan jenisnya.

Semata mungkin kelelahan fisik karena dalam sepuluh hari terakhir ini; Tidur sehari kurang dari 5 jam guna mengejar berkah dan faedah malam seribu malam dengan i'tikaf di Darut Tauhid (DT), Gegerkalong Girang No. 40, Kota Bandung.

"Saya Dais Muhammad Rizki, Pak. Asal dari Garut," ujarnya, sambil perlihatkan name sign di sebelah kanan baju takwa kelir cokelat itu, saat penulis ajak kenalan.

"Umur berapa sekarang?" timpal saya.

"16 tahun. Baru saja lulus kelas 12. Saya iktikaf di DT dari tanggal 20 Ramadan bersama dua kawan saya, Usep Tahmid Abdullah dan Muhammad Yunus Khalis. Kami kawan sejak lama, sesama pengurus IPMA. Ikatan Pengurus Mesjid Al-Ikhlas SMA 19 Garut," jawabnya.

**

Tetiba, benak saya kembali puluhan tahun silam. Di usia yang sama dengan Dais, manakala malam-malam terbaik dan malaikat turun ke bumi, Ya Allah... saya biasanya sama begadang tapi dalam rangka menuntaskan permainan Winning Eleven di konsol Play Station.

Dengan dalih menunggu waktu sahur, juga bersama kawan seumuran kala itu di Cianjur, bukannya berpadu iktikaf di mesjid. Ini malah mengatur strategi sekaligus beradu kelihaian jempol di stick agar juara gim sepakbola digital tadi. Selepas sahur, maka kami tidur seharian hingga lewat Zuhur dan kembali menunggu waktu buka juga dengan berkompetisi PS.

Teman organisasi pun nyaris tak ada. Teman nongkrong apalagi main keluyuran, sangatlah banyak. Kala itu, mendengar pengurus mesjid, terdengar tak keren. Alhamdulillah, tadi malam saat iktikaf 24 Ramadan, betapa Allah SWT ingatkan saya harus terus menggugurkan masa lalu tak baik melalui sosok Dais Muhammad Rizki.

**

Remaja yang baru saja diterima di jurusan Kimia Murni Unpad ini lalu bercerita aktivitas padat mereka ikut program iktikaf di mesjid ikonik Kota Bandung ini. Pukul 01.00 dan 02.00 dini hari, mereka dibangunkan petugas untuk ikut qiyamulail delapan rakaat dan witir tiga rakaat. Biasanya beres jelang pukul 04.00 dan dilanjutkan sahur.

Iktikaf di Darut Tauhid: Belajar dari Dais Foto: Suasana qiyamulail dalam i'tikaf 10 hari terakhir di DT di Mesjid DT, Kota Bandung, Senin (19/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurahman)


"Setelah itu, kami Subuh dan mendengar tausiah Aa Gym sampai pukul 06.00. Istirahat sebentar, ada kajian lagi sampai pukul 08.00. Mandi dulu sebentar, lanjut salat Duha dan kajian lagi sampai pukul 10.00. Selepas itu, sambil menunggu azan Zuhur, kami qailullah (tidur sejenak sunnat Rasul, red)," lanjutnya.

Bakda salat Zuhur hingga Asar, materi diperbanyak terkait tadarus Quran. Akan dibuat kelompok dengan satu pembimbing, biasa disebut musyrif dan musyrifah, yang mana materi akan bahas Quran termasuk setoran hafalan --yang utama adalah setoran hafalan Surat Ar-Rahman.

Selepas salat Asar, kegiatan menunggu buka adalah mendengarkan pembacaan Quran oleh asatidz dan asatidziyyah (selevel di atas musyrif) untuk kemudian peserta hayati ayat dan terutama arti-maknanya. Setelah waktu buka datang, salat Magrib, lanjut makan bersama.

Acara mulai lagi dengan salat Isya, tausiah, dan tarawih delapan rakaat. Biasanya ini selesai pukul 23.00. Peserta dipersilakan rehat sejenak sebelum bangun lagi jam 01.30 malam. Begitu terus selama sepuluh hari, tanpa keluar bepergian jauh dari area utama mesjid.

Iktikaf di Darut Tauhid: Belajar dari Dais Foto: Suasana qiyamulail dalam i'tikaf 10 hari terakhir di DT di Mesjid DT, Kota Bandung, Senin (19/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurahman)


"Saya tak menyesal tak seru-seruan tapi terus iktikaf, karena bagi saya yang penting sekarang mencari ridha Allah. Saya sampai kelas X tidak penuh salat wajib, begitu dapat hidayah dan hijrah, saya tak mau kehilangan lagi karena mendalami agama itu tenang dan indah," sambung seorang pria asal Cisurupan, sekitar 15 menit perjalanan kendaraan dari pusat kota dodol tersebut.

Iktikaf di Darut Tauhid: Belajar dari Dais Foto: Remaja dan pemuda yang mendominasi peserta i'tikaf 10 hari terakhir di Mesjid DT, Kota Bandung, Senin (19/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurahman)


Dais dan mereka seumuran, dalam pengamatan penulis, adalah justru yang menjadi dominan dari sekitar 200 peserta iktikaf di DT pada Ramadan tahun ini. Remaja dan pemuda nyaris separuh mengisi list peserta, hal yang cukup mencuatkan harap akan kondisi bangsa ke depan.

**

Aa Gym, nama tenar pimpinan DT, KH. Abdullah Gymnastiar, pernah sedikit menyinggung ini dalam ceramah rutin ma'rifatullah tiap malam Jumat, awal Juni lalu. Kala itu, pakar manajemen qolbu ini sangat mensyukuri kondisi demikian.

"Zaman Aa SMA, tidak ada itu yang pake kerudung apalagi hijab. Satu-satunya yang pake kerudung adalah guru SMA, itupun kerudungnya ala selendang nutup kepala, bukan benar-benar dihijab," katanya.

Bahkan Aa Gym sendiri mengaku baru mendalami agama setelah lulus kuliah di Teknik Elektro Unjani, Cimahi, tergerak oleh kesalehan mendiang adiknya, A Agung, yang tahajud pun tak pernah terlewat sekalipun seluruh tubuhnya kala itu terserang lumpuh.

Jadi, dengan melihat sekarang, betapa anak muda pun berbondong mendalami agama Islam, maka salah satu guru penulis ini pun mensyukuri kondisi demikian. Sebuah aset berharga dalam kemajuan Islam Indonesia ke depan.

Dan, selepas menuntaskan qiyamulail terakhir, dalam hening berdoa sendiri: "Ya Rabb, jadikan anakku menjadi pecinta-Mu sejak dini, tak banyak lalai di usia muda seperti ayahnya. Jadikan Islam kami kian tangguh dengan makin banyak Dais-Dais di sekitar kita. Allahumma aamiin."

*) Muhammad Sufyan Abdurrahman, Dosen Digital Public Relations Telkom University.
  • Iktikaf di Darut Tauhid: Belajar dari Dais
    Foto: Dais Muhammad Rizki, peserta i'tikaf 10 hari terakhir di DT saat ditemui di Mesjid DT, Kota Bandung, Senin (19/6/2017) dinihari. (Muhammad Sufyan Abdurrahman)
  • Iktikaf di Darut Tauhid: Belajar dari Dais
    Foto: Peserta iktikaf sedang sahur di Mesjid DT, Kota Bandung, Senin (19/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurahman)
  • Iktikaf di Darut Tauhid: Belajar dari Dais
    Foto: Salah satu ciri khas DT dari dulu hingga sekarang: Sendal rapih posisi ke arah luar seperti terlihat di Mesjid DT, Kota Bandung, Senin (19/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurahman)
  • Iktikaf di Darut Tauhid: Belajar dari Dais
    Foto: Mesjid DT yang sedang dalam tahap finalisasi renovasi, Senin (19/6/2017) dinihari. (M Sufyan Abdurahman)

(nwk/nwk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed