DetikNews
Senin 19 Juni 2017, 11:21 WIB

Sidang Penyuap Patrialis, Saksi Akui Rp 2 Miliar untuk MK

Faieq Hidayat - detikNews
Sidang Penyuap Patrialis, Saksi Akui Rp 2 Miliar untuk MK Suasana sidang (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Karyawan CV Sumber Laut Perkasa, Kumala Dewi, mengaku diminta Ng Fenny untuk menukar uang ke money changer. Saat itu, Kumala menukar uang 200 ribu dolar Singapura.

"Ada bulan Januari saya disuruh Fenny membeli uang dolar Singapura 200 ribu itu," kata Kumala saat bersaksi dalam sidang lanjutan terdakwa Basuki Hariman dan Ng Fenny di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (19/6/2017).

Kumala yang biasanya bekerja mencatat pengeluaran uang CV Sumber Laut Perkasa, mengaku uang yang ditukar 200 ribu dolar Singapura untuk MK. Namun, saat itu Kumala mengatakan tak tahu MK itu merupakan Mahkamah Konstitusi.

"MK tahu apa itu bu?" tanya jaksa Nanang.

"Saya tidak tahu MK itu apa," jawab Kumala.

Hakim Nawawi langsung bertanya kepada Kumala karena tak tahu singkatan MK. Ia membacakan BAP Kumala bahwa Kumala mengatakan MK itu adalah Mahkamah Konstitusi.

"Yang mulia itu saya tahu MK itu Mahkamah Konstitusi pas disidik oleh KPK," jawab Kumala.

Kumala mengatakan 200 ribu dolar Singapura jika ditukar rupiah yakni Rp 2 miliar. Saat menukar itu, Kumala harus melengkapi persyaratan dari money changer karena ada aturan Bank Indonesia bahwa setiap orang hanya boleh menukar uang dolar 25 ribu setiap bulan.

"Pada saat money changer harus tahu peraturan dolar Singapura ada peraturan baru BI setiap bulan harus beli 25 ribu dolar. Kalau mau harus dilampirkan persyaratan yang diajukan, saya hubungi bu Fenny, itu harus dilampirkan katanya harus jadi saya mendapatkan bu Hessty sudah mendapatkan persyaratan lengkap. Lalu telepon money changer berapa kurs saat itu, kemudian saya membelinya kurang lebih 2 miliar," kata Kumala.

Basuki Hariman dan Ng Fenny didakwa menyuap mantan hakim konstitusi Patrialis Akbar sebesar USD 70 ribu dan Rp 4 juta lebih serta menjanjikan Rp 2 miliar. Uang itu diberikan dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara uji materi Undang-undang (UU) nomor 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Atas perbuatannya, Basuki dan Ng Fenny didakwa melanggar Pasal 6 ayat 1 huruf a Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 dan Pasal 64 ayat 1 KUHP. Mereka juga didakwa melanggar Pasal 13 Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 dan Pasal 64 ayat 1 KUHP.


(fai/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed