DetikNews
Senin 19 Juni 2017, 01:25 WIB

Jurus Komunikonten Melawan Radikalisme di Media Sosial

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Jurus Komunikonten Melawan Radikalisme di Media Sosial Foto: Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria. (Dok. Elvan/detikcom).
Jakarta - Institut Media Sosial dan Diplomasi Komunikonten menyuarakan pentingnya generasi muda terus berkreasi membuat konten yang konstruktif. Konten yang membangun penting digelorakan di media sosial untuk menangkal beragam konten negatif yang merajalela.

"Banyak konten-konten negatif di internet seperti pornografi, kekerasan, termasuk propaganda radikalisme, separatisme, komunisme, dan lain-lain. Itu harus kita tangkal," kata Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria, dalam keterangan tertulis, Minggu (18/6/2017).

Riqo, demikian disapa, kemudian mengungkap sejumlah tips untuk menangkal radikalisme di media sosial. Pertama adalah pentingnya pelatihan membuat konten yang berkualitas di media sosial baik dalam bentuk teks, foto, maupun video.

"Adakan pelatihan pembuatan konten, seperti menulis, membuat video dengan ponsel, membuat poster, infografis, dll. Kemudian sebarkan di kanal-kanal distribusi secara bergotong royong oleh anggota organisasi," ujar Riqo.

"Kedua, bentuk tim media sosial, saya sarankan, jika perlu bentuk bidang baru yang menangani ini, atau lembaga khusus. Ketiga, adakan lomba pembuatan konten," lanjutnya.

Apa yang disampaikan Riqo adalah intisari diskusi bertajuk 'Kontribusi Kaum Muda Lewat Medsos untuk Mempromosikan Indonesia dan Menangkal Radikalisme' yang digelar di Aula MUI Depok, Kamis (16/6) kemarin. Diskusi ini dihadiri oleh kalangan muda, sejumlah wartawan senior, dan Pemkot Depok.

"Radikalisme dan separatisme memang tantangan kita saat ini, namun minimnya konten yang diproduksi juga satu tantangan, mari produksi konten untuk melawan konten-konten tentang radikalisme, separatis, komunisme, dll," tambah Riqo.

Riqo pun menambahkan mayoritas generasi muda kita masih sebagai penyebar dan komentator konten. Namun sebagian sudah banyak yang menjadi pembuat konten, ini yang harus terus didorong. Kanal distribusi bukan hanya Facebook dll, tapi media-media online sekarang sudah sangat terbuka bagi masyarakat pembuat konten.

"Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan konten. Penulis, peneliti, wartawan, videomaker, dll adalah contoh dari manusia mati meninggalkan konten," tutup Riqo.
(van/elz)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed