"Buka tutup itu harus berdasarkan data otentik. Kami dibantu oleh Jasa Marga, namanya RTMS (Road Traffic Microwave System), sehingga ada perhitungan berapa volume kendaraan yang telah melewati gate-gate, ini khusus tol ya, sehingga tindakan yang harus dilakukan di persimpangan depan harus seperti berdasarkan data," ucap Kakorlantas Irjen Royke Lumowa di Kemenpora, Jakarta, Minggu (18/6/2017).
Royke mencontohkan pemantauan volume kendaraan dipantau di Tol Cikarang Utama menuju ke Cikampek dan Cipali. Data pemantauan di lokasi itu akan berpengaruh pada tindakan yang dilakukan untuk kendaraan yang masuk ke Palimanan hingga Pejagan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk penggunaan tol fungsional, Royke mengatakan operasinya akan bergantung pada kondisi kepadatan kendaraan di tol-tol sebelumnya. Apabila di tol tersebut padat, kemungkinan besar jalur keluarnya akan diarahkan ke jalan-jalan desa.
"Kita maksimalkan kalau bisa masuk fungsional justru bakal dari fungsional akan dikeluarkan. Kalau fungsionalnya padat berarti kan saya hitung ya exit baik yang besar maupun exit kecil jalan-jalan desa yang kecil itu ada 54 perlintasan sebidang dengan jalan mobil," ucap Royke.
"Nah di titik-titik itu bisa aja kita buat bocoran-bocoran bisa keluar bisa juga masuk kalau Pantura ternyata padat sementara tolnya lancar, kita akan alirkan jadi semua sudah kita buat sudah kami susun skenario, SOP, formula-formula untuk menyikapi apabila terjadi kepadatan yang sangat," imbuh Royke.
(dhn/fjp)











































