Iktikaf di Masjid PT DI, Jemaah Meluber hingga Gelar Tenda Kemah

Muhammad Sufyan Abdurrahman - detikNews
Sabtu, 17 Jun 2017 14:35 WIB
Foto: Suasan iktikaf di Masjid Habiburahman PT Dirgantara Indonesia. Jemaah meluber hingga menggelar tenda kemah (Muhammad Sufyan Abdurrahman)
Bandung - Akhirnya, setelah sejak lama mendengar betapa dahsyatnya, iktikaf mengejar Lailatul Qodar di Masjid Habiburahman di Jl Pajajaran, Andir, atau persis seberang PT Dirgantara Indonesia (PT DI), kesempatan itu datang pula.

Jumat (16/6/2017) malam, mulai pukul 1 satu dinihari, penulis merasakan ungkapan harus alami langsung agar teguh percaya (seeing is believing) bahwa mesjid jami' yang satu ini memiliki tonggak besar di Kota Bandung.

Ya, tonggak tentang betapa pentingnya 10 hari terakhir di masjid mendaras Quran dan merapalkan doa, sehingga urusan duniawi ditinggalkan sementara dengan membangun tenda di pelataran mesjid.



Mesjid yang dulu diresmikan BJ Habibie semasa menjadi Presiden ini juga menjadi tonggak semaraknya aktivitas masjid dalam sisa hari Ramadan, dan ini pula tampaknya, yang membuat banyak masjid lain membuat agenda serupa.

Kini, baik di kawasan serupa yakni Bandung Utara seperti Masjid Daarut Tauhid Gegerkalong, Masjid Al-Murabbi Jl Sutami, dan Masjid Darul Ihsan di Telkom Corporate University Gegerkalong, maupun kawasan Bandung lainnya --semisal Masjid Pusdai dan Mesjid Agung Alun-alun-- kesemarakan selevel Masjid Habiburahman bisa ditemukan.

Dan, itu sudah dirasakan ketika kendaraan saya baru di depan mesjid. Luapan parkir mobil sudah terlihat di ruas kiri PT DI. Padahal ini baru malam genap, dan biasanya memenuhi kedua ruas jika malam ganjil tiba.

Setelah cukup panjang meraih tempat parkir yang enak, penulis kemudian mendekati muka masjid. Masya allah, 'lautan' tenda aneka kelir dan ukuran langsung terlihat jelas.

Iktikaf di Masjid PT DI, Jemaah Meluber hingga Gelar Tenda KemahFoto: Suasan iktikaf di Masjid Habiburahman PT Dirgantara Indonesia. Jemaah meluber hingga menggelar tenda kemah (Muhammad Sufyan Abdurrahman)


Terlihat kurang lebih ada 60 tenda. Sekitar tiga/empat tenda terpaksa dipasang di halaman masjid saking tak tertampungnya. Agar dapat slot tenda ini harus daftar jauh hari ke pengurus masjid, yang mana tahun ini, alokasi tenda tersebut sudah habis dari 29 Mei 2017 atau hari ke-3 Ramadan!

Di sela-sela tenda, terlihat sebagian penghuninya tengah mengaji. Lainnya tampak sedang beristirahat, termasuk sejumlah anak-anak yang memang sengaja dibawah ayah ibunya tinggal 10 hari pergi tak pergi kemana-mana dari masjid ini.

Selintas lalu, kaki mulai mendekati pintu masjid. Di lorong jalur menuju ke sana, banyak pula jamaah yang istirahat maupun tadarus dan zikir. Lagi-lagi, minat tinggi membuat isian melampaui kapasitas tersedia.

Iktikaf di Masjid PT DI, Jemaah Meluber hingga Gelar Tenda KemahFoto: Suasan iktikaf di Masjid Habiburahman PT Dirgantara Indonesia. Jemaah meluber hingga menggelar tenda kemah (Muhammad Sufyan Abdurrahman)


Betul saja, di dalam masjid berubin kayu ini, di bagian tempat salat sudah penuh dan rapat mulai dari shaf pertama hingga keempat. Sepengamatan saya, satu shaf sekitar 75 orang, sehingga ada sekitar 300 ikhwan yang salat berjamaah qiyamulail di bagian ini.

Bagian tengah umumnya sedang duduk sambil mendaras Quran cetakan atau digitalnya. Beberapa sambil ditemani sang buah hati yang pulas tertidur di sebelahnya. Sementara di bagian setelah ini, adalah para jamaah yang tidur dahulu setelah sebelumnya beribadah.

Merupakan pemandangan lazim, setelah tidur sejenak, mereka ambil wudhu untuk kemudian masuk lagi ke masjid ke bagian utama untuk salat jemaah qiyamulail ataupun bagian kedua untuk bertadarus.

Iktikaf di Masjid PT DI, Jemaah Meluber hingga Gelar Tenda KemahFoto: Suasan iktikaf di Masjid Habiburahman PT Dirgantara Indonesia. Jemaah meluber hingga menggelar tenda kemah (Muhammad Sufyan Abdurrahman)


Eits, belum beres. Ruas paling akhir adalah bagian akhwat, yang malam itu ada dua baris dengan jumlah anggotanya nyaris sama yakni sekitar 75 orang per shaf. Ini pun sama, sejumlah balita berada di samping ibunya.

Jika sekedar melihat ini dan dengan catatan ini malam genap, ada sekitar 1.000 jamaah yang turut serta pada malam ke-22 Ramadan 1438 Hijriah. Angka yang relatif sedikit, karena jika malam ganjil bisa hadir dua atau tiga kali lipatnya.

Abul, warga Surabaya, seorang jemaah langganan iktikaf Ramadan di Masjid Habiburahman, mengatakan kepada penulis, jika di malam ganjil, shaf shalat ikhwan bisa mencapai 7 hingga 8 barisan. Belum dengan yang di luar mesjid.

"Waktu malam Jumat kemarin (malam ke-21, red), hampir tak kebagian shaf di dalam saking penuhnya. Kan yang datang bukan hanya dari Kota Bandung saja, hampir ada dari seluruh provinsi di Indonesia," ujar karyawan PT DI ini.

3-4 Juz untuk Salat Malam

Selain tingginya minat dan atensi jemaah, sisi bagusnya dari menjemput lailatul qodar di Masjid Habiburahman ini adalah syahdu dan khusyuknya shalat berjamaah qiyamulail dengan 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir.

Dimulai dari pukul 01.00 dini hari, imam kali ini adalah Ustaz Abdurrahman, LC, yang hafiz dan membaca dengan penuh tartil disertai alunan indah merasuk relung. Hal yang juga membuat tak terasa berdiri lama karena dalam 11 rakaat tersebut, akan dibacakan surat sepanjang 3-4 juz Alquran.

Jamaah diberikan rehat sekitar 5-10 menit sebelum kemudian memulai lagi berjemaah. Karenanya, 10 hari terakhir di masjid ini, secara kolegial dalam bentuk salat malam saja, akan khatam satu kali. Belum dengan tadarus per kelompok dan atau individu, sehingga lantunan Alquran benar-benar tak pernah berhenti di masjid ini.

Iktikaf di Masjid PT DI, Jemaah Meluber hingga Gelar Tenda KemahFoto: Suasan iktikaf di Masjid Habiburahman PT Dirgantara Indonesia. Jemaah meluber hingga menggelar tenda kemah (Muhammad Sufyan Abdurrahman)


Khusus salat witir tiga rakaat, selepas ruku' terakhir, imam kemudian membacakan qunut dengan doa cukup panjang hampir 10 menit. Pada saat inilah, banyak jemaah berurai air mata ketika mendengar doa.

Dari mulai yang utama meminta ampun atas dosa dan khilaf selama ini, mendoakan iman tetap kuat, mendoakan orangtua, hingga mendoakan kaum muslim dimanapun terutama yang sedang terkena ujian iman berat seperti di Suriah dan Rohingya.

Hingga kemudian, ketika imam menutup salam setelah tahiyatul akhir, tanpa terasa pula, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 04.00 dinihari dan saatnya sahur. Ada yang mengambil makanan sahur dari panitia khusus peserta pendaftaran iktikaf, namun banyak pula yang membeli aneka panganan dari sekitar 30 pedagang kaki lima di bagian timur masjid.

Betapa dahsyat dan syahdunya iktikaf akhir Ramadan di Masjid Habiburahman. Solid, khusyuk dan penuh spirit beribadah spartan mengejar kemulian malam 1000 bulan. Semoga berkesempatan hadir lagi ke depannya. Aamiin.

*) Muhammad Sufyan Abdurrahman, Dosen Digital Public Relations Telkom University. (nwk/nwk)