"Tidak mungkin zero. Karena apa, seorang presiden harus ada ukuran-ukuran track record, kemampuan," kata Ketum Hanura Oesman Sapta Odang (OSO) di GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan, Jumat (16/6/2017).
Pemerintah ingin presidential threshold sebesar 20-25%, sedangkan ada fraksi, seperti Demokrat, yang ingin 0%. Hanura menawarkan jalan tengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut OSO, seorang presiden terpilih nantinya harus mendapat dukungan kuat di parlemen. Jika tidak, program pemerintah akan mengalami kesulitan untuk digolkan DPR.
"Nilainya ada di legislatif. Kalau dia tidak ada legislatif yang cukup di parlemen, maka tentunya presiden itu (tidak) bisa menguasai komunikasi di parlemen sehingga mendapatkan kesulitan menjalankan pemerintah," kata OSO, yang juga Ketua DPD.
Pemerintah mengancam akan mundur dari pembahasan RUU Pemilu jika DPR tak mengalah soal ambang batas capres yang diinginkan. Hanura berjanji segera melakukan komunikasi agar RUU Pemilu dapat segera disahkan.
"Kita usahakan supaya ada komunikasi antara pemerintah dan partai politik. Sesegera mungkin, sebelum diputuskan hari Senin," ucapnya. (gbr/imk)











































