"Saya mau sampaikan refleksi, sebutlah refleksi Ramadan, yang kami tujukan kepada keluarga besar Partai Demokrat serta harapan bagi saudara kita masyarakat Indonesia," kata SBY, didampingi istrinya, Ani Yudhoyono.
Topik refleksi di Malang ini, kata SBY, tentang sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Ada dua pertanyaan mengenai hal itu. Pertama, permasalahan yang menonjol dan langkah apa yang dilakukan negara serta pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden SBY di Malang (Aminudin/detikcom) |
Dikatakan, dalam konteks Ketuhanan Yang Maha Esa, yang pertama adalah bagaimana masyarakat jadi religius. Kedua, meletakkan agama sebagai nilai, bukan simbol. Ketiga, kerukunan. Keempat, meningkatkan perilaku toleransi. Terakhir, bagaimana mengelola sebuah dampak buruk.
"Contohnya dalam sebuah pemilihan politik, pilkada begitu, lantas malah membangun jarak dan permusuhan antar-umat beragama, seperti di Jakarta. Menurut saya, tidak boleh berkembang dan terjadi di negeri ini," ungkapnya.
SBY pun menyampaikan niat naiknya untuk menjawab kelima tantangan itu. Yang pertama, lanjut dia, bagaimana membuat kehidupan makin religius.
"Kita tahu, tanpa sadar kemajuan global menjauhkan dari nilai-nilai ajaran agama, dengan hidup serba modern. Di sinilah peran pendidikan sangat penting, semua harus jadi contoh dan bertanggung jawab," ucap SBY.
"Saya kira semua agama menyerukan kedamaian, dan Islam sangat kuat dalam hal itu," tutur SBY.
SBY juga mengatakan jangan melihat agama sebagai simbol, yang pastinya akan berbeda. Itu dapat ditunjukkan lewat tempat ibadahnya. Namun, hakikatnya, agama mengajarkan kerukunan yang letaknya pada hati dan pikiran.
Ketua Umum Partai Demokrat ini mengatakan hubungan antarmanusia, berbangsa, dan bernegara dalam Islam disebut ukhuwah, untuk menjalin persaudaraan.
"Soal toleransi, bagaimana kita pahami, apa yang dianut oleh saudara berbeda agama, tenggang rasa, menjaga sikap, ucapan agar tidak saling melukai, memperolok sesama. Kalau itu dimiliki bangsa ini, maka bencana perpecahan akan terhindari," kata SBY.
Dia mencontohkan, dalam kondisi dunia saat ini, telah terjadi bencana besar, peperangan, kekerasan, dan permusuhan, yang tidak sebenarnya dikehendaki. Banyak pemimpin tidak sadar bahwa dunia tidak menghadirkan kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan lagi.
Tantangan kelima, kata SBY, adalah pemilu yang menjadi ajang permusuhan dan pesta demokrasi yang justru menghancurkan sendi-sendi persaudaraan.
"Di masa lalu, ada banyak pilkada, calon pemimpin dari beragam suku dan agama. Tetapi pilkada berjalan damai," ujarnya.
Sebagai penutup, SBY meminta hadirin yang berasal dari seluruh kader Partai Demokrat se-Jawa Timur dan pengurus pusat tetap menjaga diri menjadi masyarakat yang religius. Selain itu, memaknai agama bukan sebagai simbol, menjaga persaudaraan, toleransi, menjaga perilaku dan ucapan, serta sebagai partai mengedepankan demokrasi agar bijak dan cerdas selama menghadapi pesta demokrasi.
Safari Ramadan ini juga dihadiri Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur Soekarwo serta ratusan anak yatim-piatu yang diakhiri acara pemberian santunan dari SBY. Tausiah sempat diberikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Profesor Mujia Raharja. (rvk/bdh)












































Presiden SBY di Malang (Aminudin/detikcom)