Kapolres Banjarbaru AKBP Kelana Jaya melalui Kasat Reskrim AKP Mars Suryo Kartiko mengatakan anggota curiga sebuah mobil Innova berhenti di warung kawasan eks lokalisasi Pembatuan. Saat menghampiri mobil itu, polisi mencurigai gerak-gerik pelaku, dan pelaku tak bisa menunjukkan identitas.
Petugas kemudian menggeledah mobil pelaku dan menemukan uang palsu sebesar Rp 72.800.000 yang tersimpan di dashboard mobil. Salah satu pelaku HA (40) mengaku seorang ustaz yang baru selesai melakukan ceramah di daerah Kapuas, Kalimantan Tengah, dan akan menuju Martapura, Kabupaten Banjar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi kemudian mengamankan keempat pria tersebut, yakni HA (40), MA (38), AHD (32), dan YD (34), yang semuanya warga Kalimantan Tengah. Polisi juga turut mengamankan koper warna hitam berisi air mineral gelas yang tersusun rapi, empat bungkus dupa, dan satu lembar kain sorban batik.
Dari keempatnya, hanya HA dan MA yang sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi, sedangkan AHD dan YD hanya menjadi saksi karena saat kejadian berada dalam satu mobil. Dari pengakuan tersangka, ratusan lembar upal tersebut diperoleh dari kenalannya di Pulau Jawa dan sebelumnya sudah beredar sebagian di Kalimantan Tengah.
Tersangka juga mengaku upal tersebut dibeli dengan cara ditukar 1 uang asli mendapat 2 uang palsu. Dalam memproses kasus ini, kepolisian melibatkan pihak Bank Indonesia wilayah Kalimantan Selatan.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan Mochammad Irwan mengatakan secara kasatmata uang milik AM cs sudah bisa dibedakan dengan uang asli karena secara bahan berbeda lebih mengkilat dan tidak ada tanda air saat diterawang.
"Dalam melakukan pemeriksaan keaslian uang, ada tiga tingkatan. Yang pertama yang seperti masyarakat ketahui bisa kita 3-D: dilihat, diraba, dan diterawang. Dan upal ini secara kualitas sangat rendah, mudah kita bedakan," kata Irwan.
Irwan mengatakan peredaran upal di bulan puasa, khususnya menjelang Lebaran, memang lebih rawan dibanding momen lainnya. Sebab, tingkat transaksi di masyarakat sangat tinggi, sehingga dimanfaatkan sebagian oknum berbuat jahat.
"Di luar bulan puasa juga ada peredaran upal. Hanya, tidak signifikan, lebih pada momen memanfaatkan situasi ketika peredaraannya saat sekarang ini sangat tinggi," ungkapnya.
Sebagai antisipasi agar masyarakat tak jadi korban kejahatan, Irwan mengimbau masyarakat menukarkan uang di tempat resmi, seperti Bank Indonesia. Apalagi menjelang Lebaran, Bank Indonesia selalu membuka loket penukaran uang di beberapa lokasi.
"Manfaatkan kas keliling yang sudah kita buka. Untuk Lebaran kali ini, kita siapkan dana sekitar Rp 2,5 miliar untuk memenuhi permintaan perbankan dan masyarakat, dan kita untuk persediaan ada Rp 4,5 miliar sehingga sangat aman dan masyarakat tak perlu khawatir," ujarnya. (ams/ams)











































