Fanus atau fanous, begitulah mereka menyebutnya. Lampu ini merupakan ciri khas bagi warga Mesir dalam menyambut bulan tersebut. Dan sekaligus menjadikan pertanda bagi datangnya bulan penuh berkah tersebut di negeri kinanah ini.
Konon, budaya fanus ini sudah ada sejak zaman Dinasti Fatimiyyah menguasai Mesir dulu. Awal mula kisahnya berawal ketika para warga menyambut Raja Muizz Liddinillah. Dan dalam penyambutannya tersebut, para warga membawa lampu-lampu kecil seperti obor sebagai penerang jalan, karena pada saat itu masih belum ada lampu elektrik yang telah banyak digunakan seperti saat ini. Dan pertanyaan kenapa hal tersebut bisa menjadi ciri khas Ramadan di Mesir adalah karena letak terjadinya peristiwa tersebut yang tepat di malam bulan Ramadan sedang berlangsung.
Foto: Fanous atau fanus, lampu-lampu indah yang dipajang di gedung dan perumahan di Mesir kala Ramadan (Reuters) |
Selain mengandung sejarah, fanus juga memiliki filosofi terkait kegunaannya yang memberikan cahaya bagi kegelapan. Lampu merupakan sumber cahaya yang dapat menerangi jalanan bagi siapapun yang membawanya. Hal ini dapat dikiaskan dengan keberadaan Ramadan itu sendiri yang merupakan sumber amal berlimpah yang siap menghujani setiap insan dengan setiap ibadah yang dilaksanakannya.
Ramadan di Mesir merupakan suatu ungkapan yang unik, bagi saya. Karena ketika kita menyinggung sesuatu yang baru menurut kita, dan baru kita temukan dalam kamus pribadi kita, maka yang terbayang pertama kali dalam benak, adalah sesuatu yang pasti berbeda, karena jelas itu sudah keluar dari batas kebiasaan kita. Dan tentunya akan menjadi hal yang menarik ketika kita telisik bersama, bagaimana sih kehidupan Ramadan di Mesir?
Gedung-gedung apartemen banyak menjulang tinggi di kota ini. Namun bedanya, ketika bulan ini datang, gedung-gedung tersebut berubah menjadi gedung-gedung menarik yang membuat mata dimanjakan oleh pernak-pernik lampu yang kerap menghiasi gedung tersebut. Kehidupan yang monotonpun sekarang berubah. Dengan adanya bulan ini, banyak orang-orang baik yang menjajakan hartanya untuk membuka stand buka puasa bersama secara cuma-cuma. Dan mereka biasa menyebutnya dengan Maidatu ar-Rahman.
Foto: Ramadan di Mesir banyak yang berlomba memberi hidangan berbuka (Faiz Hosainie Rafsanjanie) |
Bagi mereka yang mempunyai harta lebih, bulan ini merupakan bulan di mana Allah memberikan tempat bagi mereka yang sibuk mengurus dunia, untuk bisa menjadi penyantun yang baik dengan cara Mesir itu sendiri, yaitu membuka stand tersebut. Dan menurut saya, hal inipun sudah menjadi budaya bagi mereka yang berduit, karena stand-stand ini hampir saya temukan di setiap sudut kota. Dan menariknya, disetiap tempat yang berbeda, lauknyapun ikut berbeda.
Alasan banyaknya orang yang berlomba-lomba dalam memberikan buka puasa di bulan Ramadan ini tentu karena tuntunan Rasulullah itu sendiri yang mengatakan bahwa orang yang memberikan hartanya untuk berbuka puasa, pahalanya akan sama dengan orang yang berpuasa. Dan ini sekaligus memberikan jawaban, kenapa jarang sekali ada orang yang menginfakkan hartanya untuk sahur bersama, karena jelas Nabi tidak mengatakan kalau memberikan sahur di bulan Ramadan pahalanya akan sama dengan yang berpuasa, walaupun memang sudah jelas hal itu masuk dalam kategori sodaqah biasa.
Maidatu ar-Rahman inilah yang membuat saya selalu tertarik untuk datang dan suka mendatangi tempat-tempat tersebut. Karena selain makanannya yang tidak biasa, hal inipun bisa membuat kantong terasa cukup tebal dan awet, walaupun tidak terlalu tebal danpun tidak terlalu awet. Dan dari sini mahasiswa bisa menemukan karakternya yang begitu melekat, karena seakan-akan hal tersebut merupakan satu wujud yang tak dapat dipisahkan, karena hemat dan sejenisnya, merupakan esensi dari mahasiswa itu sendiri. Haha.
Tidak hanya itu, hal yang membuat Mesir terlihat lebih menarik lagi, adalah karena banyaknya gedung-gedung tua yang masih terjaga dan benar-benar dijaga, walaupun tidak sedikit yang tidak terawat. Salah satu tempat yang masih menjaga keontentikan gedung-gedung penuh drama itu salah satunya adalah jalur Muizz Liddinillah. Di tempat ini banyak berjejer gedung berkelas nan megah. Dan bagi saya, tempat ini merupakan spot yang cukup menarik jika ingin dijadikan sebagai ajang ngabuburit bersama.
Di sepanjang jalur ini, banyak stand penjual barang antik khas Mesir yang menghiasi jalanan tersebut. Dan apakah kalian tahu, kenapa jalur Muizz Liddinillah ini banyak berdiri bangunan megah nan kaya akan arsitektur di sepanjang jalurnya? Salah satu alasan kenapa hal ini bisa terjadi, adalah karena jalur tersebut merupakan jalur high ways, dan jalur kebanggaan pada masa tersebut. Dan menariknya, yang tertarik dengan jalur ini bukan hanya satu dinasti atau satu keraaan saja, melainkan setiap kerajaan yang berhasil menaklukan dan menguasai jalur tersebut.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya corak arsitektur yang berbeda pada bangunan-bangunan yang ikut serta menghias jalur tersebut. Jalur ini merupakan jalur utama dari gerbang menuju Kota Kairo tua, dan hal inilah yang mungkin menjadi salah satu alasan, kenapa mereka harus membangun gedung-gedung dengan arsitektur terbaiknya, di jalur Muizz Liddinillah ini. Tempat ini tidak hanya banyak didatangi oleh mahasiswa Indonesia yang sedang studi, tapi kerap juga didatangi oleh banyak turis dari berbagai negara di dunia.
Selain itu, karena di Mesir banyak tersebar masjid-masjid yang mempunyai nilai sejarah tinggi, maka ada satu lagi agenda atau kebiasaan yang biasa kita lakukan bersama, yaitu Tarling atau Tarawih Keliling yang biasa diadakan oleh kelompok pecinta sejarah seperti Kupretis de Caire dan sebagainya, sebagai kegiatan refleksi di bulan Ramadan. Kegiatan ini cukup dengan melakukan terawih dari satu masjid ke masjid lain, dan biasanya ditutup dengan menjelaskan sejarah seputar masjid tersebut dan bangunan-bangunan yang ikut menghiasi di dalamnya.
Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang diminati oleh banyak mahasiswa di Mesir, sebagai penambah wawasan dan sekaligus rekreasi murah, karena tidak terlalu banyak menghabiskan budget bulanan. Dengan banyaknya kegiatan serta hal baru dalam hidup, mungkin akan membuat hati kita jauh lebih tergerak untuk selalu mengucap rasa syukur kepada Allah yang telah memberikan banyak nikmat kepada kita.
Foto: Ramadan di Mesir (Faiz Hosainie Rafsanjanie) |
Karena di Mesir cuaca sedang panas, saya akan menutup tulisan ini dengan perkataan, "Manusia yang kuat adalah bukan mereka yang kuat dengan prinsipnya lalu memaksakan orang lain untuk melalukan prinsip tersebut. Tapi mereka yang mampu menyimpan prinsipnya secara pribadi dan mampu beradaptasi dalam keadaan apapun sehingga cenderung bisa menghargai setiap keadaan dan kebiasaan yang ada di sekitarnya". Salam dari Kairo, Mesir.
*) Faiz Hosainie Rafsanjanie adalah Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Divisi Keilmuan Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir 2016-2017.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia). (nwk/nwk)












































Foto: Fanous atau fanus, lampu-lampu indah yang dipajang di gedung dan perumahan di Mesir kala Ramadan (Reuters)
Foto: Ramadan di Mesir banyak yang berlomba memberi hidangan berbuka (Faiz Hosainie Rafsanjanie)
Foto: Ramadan di Mesir (Faiz Hosainie Rafsanjanie)