Saat Warga Ohio Tanya-tanya tentang Puasa Selama 16 Jam di AS

Saat Warga Ohio Tanya-tanya tentang Puasa Selama 16 Jam di AS

Nograhany Widhi K - detikNews
Rabu, 14 Jun 2017 13:32 WIB
Saat Warga Ohio Tanya-tanya tentang Puasa Selama 16 Jam di AS
Foto: Suasana buka bersama di Islamic Center Ohio (dokumentasi pribadi)
Jakarta - Puasa di Amerika Serikat (AS) tahun ini mencapai 16,5 jam lamanya. Muslim Indonesia yang berpuasa di Ohio, AS pun ditanya-tanya tentang puasa yang panjang itu.

Adalah Nala Edwin, warga Indonesia yang beberapa tahun ini bermukim di Kota Athens, negara bagian Ohio, AS. Tahun ini adalah Ramadan kedua yang dilalui Nala bersama keluarganya di sana.

Bermukim di kawasan Ohio University, Athens, kampus di mana sang istri menuntut ilmu, jadwal puasanya mulai Subuh sekitar pukul 04.26 hingga berbuka pukul 20.56 waktu setempat. Totalnya 16 jam 30 menit. Semua jadwal puasa itu didapatkan Nala dari aplikasi telepon pintar. Tak ada azan sebagai penanda Imsak, Subuh dan Magrib di sana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pernah cerita sama orang yang tinggal di AS soal puasa. Dan kebanyakan mereka kaget nggak makan atau minum dari pagi sampai malam. Mereka bilang sih nggak kuat kalau nggak makan dari pagi sampai malam. Apalagi kalau summer (musim panas), nggak bisa nggak minum, pasti haus," tutur Nala saat berbincang dengan detikRamadan, Rabu (13/6/2017).

Ya, Ramadan kali ini bertepatan dengan musim panas di Ohio AS. Suhu di siang hari sekitar 29-30o Celcius. Bahkan prakiraann cuaca 3-5 hari ke depan, suhu bisa mencapai 31-32o Celcius. Suhu yang, menurut Nala, mirip-mirip dengan di Jakarta plus matahari yang lebih terasa menyengat.

"Mereka (warga Ohio) tanya 'Apa nggak haus atau nggak capek nggak bisa makan dari pagi sampai malam?' Terus tanya lagi 'Apa anak-anak juga harus puasa juga? Dari umur berapa biasanya anak-anak harus puasa? Berapa hari puasanya ?'" demikian cerita Nala.

Nala pun menyampaikan bila di Indonesia, puasanya tidak terlalu lama, sekitar 12 jam, beda dengan di Ohio. Puasa Ramadan di Indonesia tak pernah jadi masalah karena mayoritas warga Indonesia muslim yang berpuasa.

"Mereka menggangap kalau puasa dari pagi sampai matahari terbenam terlalu lama. 'Apa nggak bisa diganti jamnya sama waktu Indonesia aja, nggak usah pakai waktu AS?'" tutur Nala menyampaikan keheranan warga Ohio AS.

Ayah berputra dua ini juga mengatakan anak sulungnya yang berusia 7 tahun sudah mulai berpuasa penuh. Sedangkan putranya yang kedua, baru berusia 2,5 tahun sehingga belum bisa dilatih berpuasa.

Selain berpuasa selama 16,5 jam, Nala dan keluarga biasanya memilih untuk tidak tidur selepas Isya hingga selepas Subuh alias begadang. Isya jatuh pukul 22.32 waktu setempat. Bila ditambah salat tarawih di masjid, selesainya bisa pukul 00.00 menjelang dini hari.

Saat Warga Ohio Tanya-tanya tentang Puasa Selama 16 Jam di ASFoto: Nala Edwin dan keluarga (Dokumentasi pribadi)


"Belum pernah tarawih di masjid, cuma tanya teman saja kelarnya jam berapa. Sekarang seringya nggak tidur pas malam. Sahur terus baru tidur pukul 06.00 pagi. Kalau kelewatan sahurnya di sini, nggak kuat puasa. Soalnya waktunya lebih lama. Kalau tidur, bangun sahurnya susah, makanya biasanya tidurnya pagi aja," tuturnya.

Untungnya, Ramadan kali ini bagi keluarga Nala didukung oleh liburan musim panas, dari anak sekolah hingga anak kuliah. Putranya libur sekolah dan sang istripun sedang libur kuliah. Jadi mendukung tidur selepas Subuh untuk menyiasati waktu sahur dan buka.

"Yang susah puasa di sini ya semuanya pada makan sama minum. Terus jurus tidur siang buat ngabuburit yang biasa dilakukan di Jakarta nggak mempan. Kan biasanya di Jakarta dulu pada tidur siang abis Zuhur atau Asar. Biasanya kan kalau tidur abis Asar bangun-bangun udah bentar lagi buka. Tapi di AS, mau tidur berapa lama pun masih lama bukanya karena waktunya memang panjang," urai dia.

Maka Nala dan keluarga lebih banyak berdiam di rumah saat puasa di siang hari. Terkadang selepas bangun tidur, mereka sekeluarga ke perpustakaan. Pada akhir pekan, Jumat hingga Minggu, keluarga Nala ngabuburit ke Islamic Center Ohio University yang mengadakan buka puasa bersama. Islamic Center Ohio University bisa dijangkau dengan berjalan kaki 20 menit dari rumah keluarga Nala tinggal. Selain buka bersama setiap akhir pekan, Islamic Center Ohio University juga menggelar tarawih berjemaah setiap hari.

Saat Warga Ohio Tanya-tanya tentang Puasa Selama 16 Jam di ASFoto: Islamic Center Ohio University (Dokumentasi pribadi)


"Pusat kegiatan Ramadan ada di Islamic Center Ohio University. Ini sih sebenernya kaya masjid, jadi ada acara buka puasa bersama. Mahasiswa dari berbagai negara dan warga boleh menymbang makanan untuk buka di sini. Permias (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di AS-red) Indonesia juga sudah kemarin menyumbang makanan di Islamic Center ini. Pas buka puasa biasanya udah ada makanan yang digelar di karpet masjid," tuturnya.

Menu takjilnya biasanya kurma, semangka dan air putih. Menu semangka selalu ada karena sedang musim semangka di Ohio.

Saat Warga Ohio Tanya-tanya tentang Puasa Selama 16 Jam di ASFoto: Suasana buka bersama di Islamic Center Ohio (dokumentasi pribadi)


"Jadi tiap buka ada semangka. Setelah makan buka biasanya makan bubur shorba. Ini mungkin kaya kolak di Indonesia, cuma ini rasanya gurih bukan manis kaya kolak, terus disajikannya panas, kalau kolak kan biasanya dingin. Kayaknya dari Timur Tengah ini sop," jelasnya.

Bubur shorba biasanya dihidangkan di panci besar di Islamic Center. Para jemaah biasanya mengantre untuk mengambil sendiri bubur itu.

Saat Warga Ohio Tanya-tanya tentang Puasa Selama 16 Jam di ASFoto: Menu nasi mandi di Islamic Center Ohio (Dokumentasi pribadi)


"Setelah itu baru makan nasi. Biasanya sih nasinya kaya nasi kebuli apa nasi mandi. Tapi makanannya ya bercita rasa Timur Tengah," jelas dia.

Warga dari Timur Tengah, menurut Nala, memang banyak bermukim di sekitar Athens. Ada pula dari Mesir, Turki, Bangladesh dan negara-negara lainnya yang biasanya ikut berbuka bersama di Islamic Center itu.

***

Para pembaca detikcom, bila Anda mempunyai cerita yang berkesan saat Ramadan seperti yang diceritakan di atas, silakan berbagi cerita Anda ke email: ramadan@detik.com. Sertakan 2-3 foto yang mendukung cerita Anda, data diri singkat dan kontak (email atau nomor HP) yang bisa dihubungi. (nwk/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads