Jenazah kedua korban, yakni Rizal dan Haris, sempat dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk diidentifikasi. Setelah pihak rumah sakit memastikan identitas jenazah, keluarga langsung membawa korban pulang untuk dimakamkan.
Berikut kronologi kejadian tabrakan yang terjadi pada Selasa, 13 Juni 2017, tersebut:
Sekitar pukul 17.00 WIB
Ilustrasi (Dhani Irawan/detikcom) |
Mobil pikap bernopol B-9092-PCM itu melaju dari arah Jl Tanah Tinggi, Johar Baru, menuju arah Jl Kramat/Rivoli, Senen. Ketika mobil berada di pelintasan kereta api dekat Pasar Gaplok, posisi palang pintu sudah ditutup.
Mobil terus berjalan dan menerobos palang pintu. Padahal KA Walahar Ekspres sudah melaju sehingga tabrakan tak terhindarkan.
Mobil Pikap itu lalu terseret sejauh 30 meter sebelum akhirnya terbakar. Api pun menyambar gerbong kereta dan kebakaran menjadi besar.
Pukul 17.45 WIB
Api yang membakar mobil dan gerbong kereta berhasil dipadamkan. Sebanyak 14 unit pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api.
Tak ada korban yang berasal dari gerbong kereta. Namun sopir dan kenek mobil pikap belum bisa dievakuasi karena terjepit. Keduanya dipastikan tewas.
Pukul 18.40 WIB
Petugas masih mengevakuasi dua korban tewas akibat tertabrak kereta Walahar Ekspres rute Tanjung Priok-Purwakarta. Petugas memundurkan salah satu lokomotif yang terbakar untuk mengevakuasi korban.
Pukul 18.48 WIB
Gerbong yang terbakar dan menjepit pikap ditarik menggunakan lokomotif. Warga semakin memadati lokasi kejadian.
Pukul 19.50 WIB
Gerbong Walahar Ekspres berhasil ditarik. Gerbong tersebut kemudian dibawa ke Stasiun Jatinegara.
Korban dari pihak mobil langsung dibawa ke RSCM untuk diidentifikasi. Tubuh korban sudah sulit dikenali karena hangus terbakar.
Pukul 20.00 WIB
Keluarga korban mendatangi RSCM. Tangis keluarga pun pecah.
Sekitar pukul 22.00 WIB
Pihak RSCM mengumumkan identitas korban dan dipastikan merupakan Rizal dan Haris. Keluarga korban langsung membawa pulang jenazah untuk dimakamkan. (bag/fjp)












































Ilustrasi (Dhani Irawan/detikcom)