Rapat digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakpus, Selasa (13/6/2017) dipimpin Lukman Edy didampingi Benny K Harman, Ahmad Riza Patria, dan Yandri Susanto. Rapat digilir dengan meminta pendapat tiap fraksi apakah tetap dilanjutkan atau tidak.
"Jangan sampai ada Perppu, karena ini ada goncangan. Lebih baik korbankan musyawarah yang suka berwacana, kalau nggak ya voting. Apa voting itu salah?" ujar Totok Daryanto dari F-PAN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nggak usah jauh ke Perppu. Break lagi lah sampai buka puasa, jauh amat sampai ke Perppu. Saya minta ke pimpinan, kita tunggu lah sampai magrib. Mungkin sedang ada kegiatan lain," kata Fandi.
Anggota Pansus RUU Pemilu dari F-Hanura Rufinus Hotmaulana juga mengusulkan rapat ditunda sampai pemerintah hadir. Alasannya, RUU Pemilu merupakan inisiatif pemerintah.
"Nggak elok juga kalau ambil kesimpulan. Kita juga sudah baca ini, kita nggak mau disudutkan dengan cara itu. Jangan sampai kita rapat tapi nggak ada pemerintah, nanti dilaporkan ke dalam MKD," jelas Rufinus.
Lukman kembali mengambil alih rapat, ia mengusulkan rapat ditunda sampai hari Rabu (14/6/2017) pukul 10.00 WIB. Ia juga mengaku sudah berkomunikasi melalui pesan singkat kepada Mendagri Tjahjo Kumolo.
"Mendagri bersedia untuk besok rapat pukul 10.00 WIB. Mungkin Rabu malam rapat timsin (tim sinkronisasi), paginya rapat dengan pemerintah, Pansus, KPU, Bawaslu sampai buka puasa," kata Lukman sambil mengetok palu.
Rapat hari ini sejatinya ingin mengambil keputusan soal isu krusial RUU Pemilu, namun lagi-lagi kembali nihil. Hari Kamis (8/6) lalu juga digelar rapat dengan agenda serupa namun batal karena alotnya bahasan rapat.
(dkp/imk)










































