Mengais Koin dari Kisah Mistis Jembatan Sewo Indramayu

Audrey Santoso - detikNews
Selasa, 13 Jun 2017 13:24 WIB
Foto: Agung Pambudhy
Indramayu - Gerombolan orang berjejer sigap menyapu koin-koin yang dilempar pengendara yang melintas di Jembatan Sewo, Indramayu, Jawa Barat. Ada sepenggal kisah mistis di balik 'tradisi' lempar koin di jembatan itu.

Jika pengendara menempuh perjalanan di Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa dan melihat sebuah jembatan ditongkrongi banyak orang, berbagai usia, dengan sapu lidi di tangannya, di perbatasan Subang - Indramayu Jawa Barat, pastilah pengendara telah melintas di atas Jembatan Sewo.

Warga sekitar berburu koin-koin yang dilempar pengendara di Jembatan Sewo.Warga sekitar berburu koin-koin yang dilempar pengendara di Jembatan Sewo. Foto: Agung Pambudhy


Pandangan mata orang-orang tersebut membidik setiap kendaraan, mengawasi manakala pengendara melempar uang ke ruas jalan Jembatan Sewo. Jika ada yang melempar, aksi rebutan mengambil koin dengan sapu pun terjadi di badan jalan.

"Setiap hari ini (penyapu koin, red) ada. Kerjanya ya nunggu mobil-motor lempar koin. (Alasan pengendara melempar koin, red) Katanya biar selamat di jalan," cerita seorang penyapu koin, Sirtini, ketika ditemui detikcom di Jembatan Sewo, Jalan Raya Sukra, Indramayu, Jawa Barat, pada Senin 12 Juni 2017.

Ada sepenggal kisah mistis di balik 'tradisi' lempar koin.Ada sepenggal kisah mistis di balik 'tradisi' lempar koin. Foto: Agung Pambudhy


Perempuan 31 tahun itu menjadi penyapu koin lima tahun belakangan, menyusul jejak sang suami yang sedari kecil melakukan hal tersebut. Dia menceritakan sebenarnya para penyapu koin memiliki mata pencaharian seperti bekerja di pabrik, peternakan dan penggilingan padi.

Mengais rejeki dari koin-koin di Jembatan Sewo adalah kebiasaan yang akhirnya jadi pekerjaan sambilan di kala waktu senggang warga.

"Kalau lagi musim panen ya pada panen, sepi jalanan (dari penyapu koin, red). Tapi panen itu kan 6 bulan sekali, 3 bulan sekali, jadi kalau nggak lagi panen, nganggur, ya ke sini," jelas Sirtini.

"Ada yang nyapunya habis pulang kerja pabrik atau di peternakan bebek," tambah dia.

Disinggung jumlah rupiah yang dia dapat dari penyapu koin perharinya, Sirtini mengaku bisa membawa pulang Rp 30 ribu jika hari biasa. Tetapi saat musim mudik Hari Raya Lebaran datang, penghasilannya bisa berlipat ganda hingga ratusan ribu

"Kalau hari biasa nih ya, Rp 30 ribu ya dapat. Ini bulan puasa malah sepi, ya dapat Rp 10 ribu saja sudah syukur. Nah beberapa hari lagi, kalau sudah ramai mau Lebaran, Rp 100 ribu. Apalagi kalau hari H-nya, saya dan suami mungkin bisa dapat Rp 500 ribu," terang dia.

Sama seperti penyapu koin lainnya, Sirtini dan suami tak menggantungkan rejeki mereka dari Jembatan Sewo. Mereka memiliki usaha kecil-kecilan yaitu dua gubuk warung yang jaraknya hanya beberapa meter dari jembatan.

Jika warung tak ada pembeli, maka Sirtini akan mejeng di tepi ruas jalan jembatan sambil memegang sapu. Jika merasa bosan, dia akan kembali menunggui warungnya.

"Dulu sih nggak ada perempuannya, kebanyakan laki semua (yang jadi penyapu koin, red). Saya perempuan pertama yang ikut-ikutan. Sekarang banyak ibu-ibu, yang bawa anak juga ada," ujar Sirtini.

Dia mengaku tak sedikit dari penyapu koin yang akhirnya harus berhadapan dengan maut akibat ketidakhati-hatian. Sebab saat koin dilempar pengendara, fokus penyapu hanyalah bagaimana mendapatkan uang itu tanpa menyadari banyaknya kendaraan yang melaju kencang.

"Ya banyak juga yang ketabrak, meninggal karena sibuk kejar saweran kan akhirnya enggak lihat di belakangnya itu kalau ada mobil kencang," imbuh Sirtini.

Kebiasaan para pengendara melempar koin tidak lepas dari mitos sungai di bawah Jembatan Sewo yang disebut sebagai tempat tinggal arwah kakak beradik Saedah-Saeni yang melegenda karena hidup keduanya berakhir di sungai tersebut.

Saeni adalah seorang penari ronggeng Pantura yang berubah menjadi buaya. Oleh sebab itu, pengendara dipercaya akan selamat jika sudah memberi melempar 'saweran' di Jembatan Sewo.

"Saya lima tahun di warung ini, alhamdulillah nggak pernah dilihatin atau diganggu sih. Tapi ya ada yang cerita katanya pernah melihat (mahluk astral penghuni Jembatan Sewo, red). Itu kan kakak adiknya cewek sama cowok," Sirtini menceritakan.

Kesan mistis Jembatan Sewo bertambah kental setelah peristiwa kecelakaan sebuah bus transmigran asal Boyolali terjadi di Jembatan Sewo. "Itu dari Boyolali mau bawa transmigran ke Sumatera lalu busnya kecebur ke sungai," ungkap perempuan bertumbuh gempal itu.

Sirtini melanjutkan, kecelakaan itu mengakibatkan 67 orang tewas di tempat dalam kondisi terbakar. Hanya satu penumpang yang selamat, dan itu seorang bayi laki-laki. "Kalau dipikir-pikir, kok bisa ya bayi selamat? Namanya juga kebesaran Allah. Jadi katanya bayinya terlempar, yang dewasa terbakar bareng busnya," tutur dia.

Cerita yang beredar di warga Jembatan Sewo, sang bayi akhirnya diangkat sebagai anak oleh seorang pejabat dan dibawa ke Jakarta. Hingga saat ini satu-satunya korban selamat dari bus maut tersebut masih hidup.

"Masih (hidup, red) kok. Setiap tahun suka ke sini, nyekar. Kan ada pemakaman massalnya. Kalau ke sini suka buat tahlilan di pendopo (makam massal, red). Yang ikutan nanti diamplopin Rp 50 ribu," sambung dia. (aan/nwk)