Menristek: PLTN Lebih Aman Daripada Merokok
Sabtu, 30 Apr 2005 19:34 WIB
Jakarta - Masyarakat cenderung sudah ketakutan duluan bila mendengar kata nuklir. Padahal Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) meski menggunakan nuklir tidak berbahaya. Menurut Menristek, PLTN justru lebih aman dibanding merokok. Benarkah?"Saat ini kita melakukan edukasi publik bahwa PLTN itu aman daripada merokok. Masyarakat kan mendengar kata nuklir cenderung sudah ketakutan," kata Menristek Kusmayanto Kadiman, di sela-sela kongres Ikatan Alumni Australia (IKAMA) di Graha Niaga, Jl. Sudriman, Jakarta, Sabtu (30/4/2005). PLTN pertama di Indonesia ditargetkan dibangun pada tahun 2012 dan mulai dioperasikan tahun 2017. Hal itu, kata Menristek, merupakan kesepakatan Badan Koordinasi Energi Nasional (Bakoren). Bakoren diketuai Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan beranggotakan Menko perekonomian, Menteri Perhubungan, Menteri Perindustrian, Menteri Keuangan, Menristek, Menteri Kehutanan dan Meneg Lingkungan Hidup (LH). "Lokasi belum kami tentukan. Namun yang paling potensial adalah Muria dan Madura. Bila Sumatera dan Kalimantan berpotensi kemungkinan besar juga akan dibangun," jelas Kusmayanto. Menristek menginginkan Indonesia tidak hanya membangun satu PLTN. Menurutnya, yang ideal jumlah PLTN adalah 4 karena pertumbuhan kebutuhan listrik mencapai 6 persen pertahun. Saat ditanya apakah Presiden SBY setuju dengan pembangunan PLTN, Menristek menyatakan Presiden belum memberi keputusan. Presiden baru meminta Bakoren agar mengajukan proposal yang konkret. "Presiden sangat terbuka akan pembagunan PLTN ini. Beliau mengatakan ambil semua oportunity. Beliau tidak bilang iya atau tidak," katanya. Pembangungan PLTN itu, kata Kusmayanto, tidak mendapat tentangan dari luar negeri. Bahkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Perancis dan Jepang mendukung langkah itu. Proyek itu juga telah diminati sejumlah investor asing antara lain dari Italia, Jepang, Jerman, Rusia dan Cina.
(iy/)











































