DetikNews
Senin 12 Juni 2017, 19:17 WIB

Melihat Tradisi Muslim di Pelosok 2 Desa Dagestan Rusia

Hanidah Zaki - detikNews
Melihat Tradisi Muslim di Pelosok 2 Desa Dagestan Rusia Foto: Populasi muslim di Rusia adalah 20 persen dari 143 juta atau sekitar 28 juta yang terpusat di negara bagian Dagestan Rusia (Yoga Endryanto/TRANS7)(
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2017
Makhachkala - Selamat datang di Rusia. Negara paling luas di dunia, yang membentang dari benua Asia sampai benua Eropa. Negara adidaya ini, diramal akan menjadi pusat konsentrasi muslim terbesar di Eropa.

Ada 28 juta atau sekitar 20 persen muslim dari 143 juta warga Rusia. Kehidupan muslim di Rusia, banyak terpusat di negara bagian. Dagestan salah satunya.

Melihat Tradisi Muslim di Pelosok 2 Desa Dagestan RusiaFoto: Dagestan Rusia (Yoga Endryanto/TRANS7)


Desa Kubachi menjadi tujuan pertama tim Jazirah Islam. Dan saat datang sedang ada hari pasar di Kubachi, yang hanya ada satu minggu sekali , yakni pada hari Kamis. Semua pedagang dari desa tetangga, berkumpul untuk menjajakan barang dagangan. Aneka buah, sayuran hingga beragam bumbu, dijajakan oleh para pedagang yang rata-rata wanita. Pasar desa Kubachi memang mirip dengan pasar tradisional yang ada di Indonesia.

Salah satu hal yang spesial ketika mendatangi daerah kantung muslim di Dagestan adalah penampilan wanita yang sangat identik dengan wanita muslimah. Yang menarik dari Desa Kubachi, para muslimahnya mempunyai kerudung tradisional yang disebut kaz.

Melihat Tradisi Muslim di Pelosok 2 Desa Dagestan RusiaFoto: Wanita di Desa Kubachi membuat kerudung tradisional, kaz (Yoga Endryanto/TRANS7)


Warga Desa Kubachi masuk dalam etnis Dargin. Saat ini, ada sekitar 3.000 penduduk yang tinggal di desa. Dan sudah lebih dari 10 abad , Islam hadir di sini.

Nama Kubachi diperkirakan sudah dipakai sejak Abad ke-16. Diambil dari bahasa Turki, yang bermakna pembuat senjata atau barang kerajinan dari logam. Karena memang dulunya, Kubachi terkenal sebagai desa pembuat barang-barang tersebut.

Hampir seluruh wanita di desa ini bisa membuat kerudung kaz. Kaz memang bukan hijab. Kaz lebih menyerupai syal dengan aksen sulaman tradisional.

Melihat Tradisi Muslim di Pelosok 2 Desa Dagestan RusiaFoto: Nyaris seluruh wanita di Desa Kubachi bisa membuat kaz (Yoga Endryanto/TRANS7)


Uniknya, kaz hanya dimiliki dan dipakai oleh wanita dari Kubachi. Tak hanya dalam perayaan khusus, untuk beraktivitas sehari-hari, hampir semua wanita dari desa ini memakai kerudung kaz.

Sejak zaman nenek moyang, kerudung kaz hanya berwarna putih. Selain itu motif kalkussala kaz atau motif bulu dan katsanna kaz atau motif bunga diklaim sebagai pola tertua yang pernah dibuat. Untuk menikahi wanita dari Desa Kubachi, kerudung kaz wajib masuk dalam daftar mahar atau mas kawin.

Melihat Tradisi Muslim di Pelosok 2 Desa Dagestan RusiaFoto: Perempuan di Desa Kubachi memakai kerudung kaz berwarna putih (Yoga Endryanto/TRANS7)


Hampir setiap rumah di Desa Kubachi punya ruangan seperti ini, untuk menyimpan barang warisan . Peninggalan orangtua kepada anak perempuannya dan juga mas kawin. Seperti aneka piring porselain, piring tembaga dan juga muchal, atau tempat air tradisional berbahan tembaga ini .

(Ketinggalan tayangan Jazirah Islam di TRANS7? Anda bisa melihat videonya di sini)

Terletak di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, membuat Desa Kubachi masih terbatas akan sumber air. Inilah yang membuat warga Kubachi masih mengambil air ke sumber mata air terdekat , menggunakan muchal ini.

Melihat Tradisi Muslim di Pelosok 2 Desa Dagestan RusiaFoto: Warga Desa Kubachi masih mengambil air menggunakan tempat air bernama "muchal" ini (Yoga Endryanto/TRANS7)


Lain Kubachi, lain pula cerita dari Desa Balkhar. Meski sama-sama berada di Dagestan Rusia, Balkhar punya warna budaya yang berbeda.

Tim Jazirah Islam bertemu dengan Zarima dan Napisat, muslim Desa Balkhar yang akan melangsungkan pernikahan. Pernikahan di Balkhar punya ciri khas pada pakaian pengantinnya .

Melihat Tradisi Muslim di Pelosok 2 Desa Dagestan RusiaFoto: Zarima dan Napisat, muslimah di Desa Balkhar dalam pakaian pengantin tradisional (Yoga Endryanto/TRANS7)


Meski tidak se-gemerlap baju pengantin modern, baju tradisional suku muslim Lakh punya keunikan dan nilai sejarah tinggi. Baju pengantin biasanya diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Baju ini terbuat dari bahan sutera murni dengan warna-warna yang mencolok.

Serangkaian hiasan perak yang melekat, juga menjadi ciri baju tradisional suku Lakh. Seluruh ukiran ornamen perak ini, dibuat oleh para pengrajin Balkhar tanpa sentuhan mesin sedikitpun.

Meski penuh nilai sejarah , sebagian perempuan generasi muda Lakh lebih memilih memakai kostum modern untuk pernikahan mereka. Baju tradisional seringnya hanya menjadi pakaian pengiring pengantin, atau para penarinya.

Selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, setiap hari Zarima juga selalu meluangkan waktu untuk membuat kerajinan . Di ruangan kecil tepat di samping rumahnya inilah, Zarima memajang hasil kerajinannya.

Sebagian besar wanita di Balkhar, memang jarang beraktifitas di luar desa. Umumnya mereka hanya mengerjakan pekerjaan di rumah.

Selain aturan adat yang mengharuskan mereka tinggal di desa, letak geografis Desa Balkhar yang berada di tengah Pegunungan Kaukasus , menjadikan daerah ini jarang tersentuh modernitas .

Diperkirakan, kerajinan tanah liat telah ada sejak 2.000 tahun silam di Dagestan. Teknik sederhana dan tanpa proses pewarnaan yang rumit, menjadi ciri khas keramik dari Balkhar Dagestan .

Saksikan perjalanan memotret kehidupan muslim di negeri beruang merah Rusia, hanya dalam program "Jazirah Islam" di TRANS 7 pada Selasa 13 Juni 2017 pukul 15.00 WIB.
(nwk/nwk)
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2017
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed