Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Khaeruddin, mengatakan minimnya peserta ini bukan karena rendahnya minat masyarakat mengikuti lomba ini. Namun, kompetisi ini diakui Khaerudin berat karena pesertanya dikhususkan untuk anak yatim piatu.
"Terus terang, tidak mudah menggelar acara ini. Tidak semua lancar membaca Alquran tapi yang hadir hari ini, semuanya benar-benar asli anak yatim piatu," ujar Khaeruddin di Istana Negara, Jakarta, Senin (12/6/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum pernah ada baik di tingkat nasional MTQ khusus yatim piatu. Oleh karenanya, jangan hanya tahun ini tapi tahun-tahun lainnya agar anak yatim piatu bisa masuk ke istana. Ada yang menangis tadi karena bisa masuk ke sini," kata Khaerudin.
Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memaklumi sepinya jumlah peserta kompetisin ini. Menurutnya, tidka mudah mencari peserta yang pandai membaca Al-Quran hingga 30 Juz, terlebih pesertanya dikhususkan dari kalangan yatim piatu.
"Pasti sulit untuk Kementerian Agama memilih peserta MTQ yang sangat-sangat spesifik. Tugasnya malah relatif lebih mudah, cari calon penerima KIP yang bisa baca Quran dengan baik," kata Muhadjir.
Namun, terkait dengan perlombaan ini Muhadjir mengatakan memahami dan mempelajari Alquran adalah hal penting dan bermanfaat. "Saya jadi iri kalau kecil-kecil begini sudah bisa baca Al-Quran 30 juz. Saya, kalau bisa mengulang, saya mau hafal Quran dari awal," katanya.
(jor/aan)











































