Empat jam berjalan kaki naik-turun bukit tentu sangat melelahkan. "Sekitar empat jam perjalanan normal. Siap tidak?" tanya Asep Kurnia, Kepala SMP Negeri 1 Leuwidamar, yang rela menjadi pemandu kami ke Baduy Dalam.
Asep sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan warga Baduy. Ia mengenal dengan baik seluk-beluk mereka. Bahkan ia sudah menerbitkan buku soal Baduy.
Tim Ekpedisi Banten Selatan berencana menembus perbukitan di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, yang dihuni oleh warga Baduy. Karena itulah warga Baduy sering disebut Urang Kanekes. Bentang alam seluas 5.136 hektare ini dikelola secara adat. Mereka membatasi diri dari perkembangan zaman.
Jembatan Sungai Cijahe, pintu baru ke Baduy Dalam. Foto: Muhammad Zaky Fauzi Azhar/detikX |
Baduy memilih mempertahankan gaya hidup tradisional mereka sebagai masyarakat agraris. Teknologi modern dibatasi dan aktivitas bertani dilakukan secara tradisional. Mereka hanya memakai segelintir alat pertanian, seperti bedog (golok), arit, kored (cangkul kecil), etem (sejenis ani-ani), dan pisau.
Berita selengkapnya dapat Anda baca di sini: (ayo/irw)












































Jembatan Sungai Cijahe, pintu baru ke Baduy Dalam. Foto: Muhammad Zaky Fauzi Azhar/detikX