Ayam SBY

Kolom

Ayam SBY

- detikNews
Jumat, 29 Apr 2005 23:15 WIB
Den Haag - "Een broedende kip moet je niet storen, ayam angkrem (mengeram) jangan kau usik," kata Menlu Belanda Ben Bot di depan parlemen soal pemerintahan SBY. Pepatah itu dikemukakan Bot dalam debat parlemen terakhir terkait isu HAM (9/3/2005), menjelang keberangkatannya ke Sidang Komisi HAM PBB di Jenewa. Parlemen memintanya agar dia menyoroti borok HAM Indonesia, a.l soal Aceh dan Munir. Namun menteri kelahiran Jakarta itu balik mengingatkan parlemen untuk menahan diri dulu. Tidak grusa-grusu dan tidak mengusik 'ayam SBY yang sedang mengerami telur Indonesia'. Pesan Bot kira-kira: jika ayam angkrem itu diusik, kemungkinannya minimal angkreman bisa gagal, atau si ayam akan mengamuk.Bot memang menaruh kepercayaan besar, terutama pada Wirajuda dan presiden SBY, bahwa mereka sedang serius melakukan perbaikan dan perubahan. Berulangkali ia pasang badan dan berhasil, setidaknya untuk sementara, melunakkan sikap parlemen. Rasa percaya Bot seperti mendapat pembenaran, setelah TPF-Munir bisa terbentuk dan cekatan menetapkan tersangka. Rantai berikutnya, media Belanda mulai mengapresiasi positif terhadap presiden SBY. TPF-Munir selalu disebut sebagai 'tim presiden' atau 'tim bentukan presiden'. Bisa disimpulkan, sepak terjang TPF Munir ini berbuah positif dan menguntungkan pembentukan citra presiden.Hingga... TPF tersendat, seolah tak berdaya meraih akses ke calon terperiksa di BIN. Pada tahapan ini timbul adu dalih konyol: calon terperiksa hanya mau diperiksa secara tertulis dan tidak mau selain di ruangan BIN. Sedangkan TPF Munir menyampaikan bahwa calon terperiksa diperlakukan sama.Sampai kapan tarik-menarik yang terkesan main-main ini akan berlanjut? Jika hambatan di BIN ini tidak segera diatasi, bisa-bisa menjadi bumerang yang akan mengena presiden sendiri. Wibawa presiden menjadi taruhan. Bagaimana mungkin 'oknum' lembaga bawahan presiden dibiarkan ngece (kalau tidak disebut membangkang) terhadap instrumen bentukan presiden? Mau sayang dan patuh pada presiden atau ngotot melindungi orang seorang? Yang nampaknya kurang disadari, sikap terkesan menolak diperiksa ini justru memperkuat kecurigaan bahwa 'orang BIN memang ada apa-apanya' dalam kasus Munir. Ini pula yang sejak awal diyakini parlemen Belanda. Mereka melihat benang merah terbunuhnya Munir dengan wartawan Sander Thoenes (1999) dan mengusulkan agar pemerintah langsung mengambil sanksi, a.l. pembekuan bantuan kerjasama pembangunan. Di mata parlemen, otoritas Indonesia sudah berulangkali lancung ke ujian sehingga ucapan dan janji-janjinya tidak layak dipercaya.Hanya berkat ketenangan dan kepala dingin Menlu Bot, arus pro sanksi di parlemen berhasil diredam. Celakanya, ganjalan langkah pemeriksaan ke 'orang BIN' itu sekaligus menjadi pembuktian apakah sikap Bot itu tepat atau lagi-lagi keliru dan parlemenlah yang benar? Jawabnya akan terbukti dari ending tarik-menarik BIN kontra TPF Munir dan akhir dari proses kasus pembunuhan Munir itu. Atau meminjam pepatah yang diangkat Bot, jangan usik ayam sedang mengeram. Tunggu saja mahluk apa yang menetas dari telur ayam yang dierami, apakah akan keluar anak ayam ataukah seekor kadal? Jika kadal yang keluar, berarti telur itu memang hasil perselingkuhan atau ditukar secara diam-diam. Tentu jika itu terjadi, yang akan repot dan terbebani adalah presiden. Kasihan, mukanya akan tercoreng. Janda Munir, Suciwati, menjelang pertemuan tertutupnya dengan parlemen Belanda, 31/3/2005 lalu, mengatakan bahwa dirinya sudah mendapat garansi jika kasus Munir tidak tuntas, maka akan terus dipertanyakan dalam pertemuan-pertemuan internasional. Hal seperti itu akan seperti bisul dan membuat pemerintahan SBY tidak nyaman.Parlemen Belanda, yang sebagian sohib Munir, juga akan menemukan momentum untuk menyemburkan empedu mereka habis-habisan kepada Menlu Bot. "Apa kata ikke, masa telur ayam keluar kadal?" (es/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads