Tiga Poin Ini Membuat Qatar Dianggap Jadi 'Ancaman'

Tiga Poin Ini Membuat Qatar Dianggap Jadi 'Ancaman'

Cici Marlina Rahayu - detikNews
Sabtu, 10 Jun 2017 12:18 WIB
Tiga Poin Ini Membuat Qatar Dianggap Jadi Ancaman
Foto: Cici Marlina Rahayu/detikcom
Jakarta - Negara Teluk Arab memutus hubungan diplomatik dengan Qatar karena dianggap sebagai ancaman. Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Berly Martawardaya menilai hal ini disebabkan tiga hal menarik yang dimiliki Qatar, negara penghasil migas.

"Qatar ini kecil tapi canggih. Jadi Qatar ini menarik, ya. Ada 3 hal paling penting, yaitu geografi, geologi, dan demografi," kata Berly dalam diskusi Populi Center di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (10/6/2017).

Menurut Berly, Qatar memiliki potensi besar dari segi pendapatan, pendidikan, serta sumber daya alam. Di sini, Qatar dianggap mempunyai inovasi dalam perubahan negara yang cukup cepat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Luas Qatar itu seperti wilayah Banten, tapi berkembang. Mereka juga punya beberapa kampus top dunia. Jadi yang menarik dari Qatar, mereka ini sadar tidak mau berpangku tangan atas kekayaan migas maupun apa yang mereka punya. Padahal dalam 56 tahun ke depan, mereka diprediksi tidak akan habis minyaknya," jelas Berly.

Qatar dianggap sebagai negara kecil yang high profile, dengan mengekspor minyak mentah maupun yang sudah diolah. Selain itu, Qatar unggul dalam maskapai penerbangan dan pariwisata. Strategi inilah yang dianggap sebagai ancaman dari Qatar.

"Jadi mereka sadar punya uang banyak, mereka bangun pendidikan yang kritis di mana pelan-pelan demokrasi tidak berjalan. Mereka buat juga stasiun televisi Al-Jazeera yang tidak dapat diatur, ini kan luar biasa sekali," tuturnya.

Sementara itu, Pengajar FISIP UIN Jakarta Ali Munhanif menyebut Qatar merupakan negara kecil yang spesial karena perekonomiannya tumbuh luar biasa.

"Nah, kalau kita lihat perkembangan terakhir sikap negara Teluk Arab, ini kan dipelopori oleh Arab Saudi, itu salah satu ledakan adanya persepsi ancaman. Saat invasi Irak, satu yang tidak setuju Qatar. Dari awal dia menunjukkan sikap tidak sependapat. Ini juga faktor yang jadikan dia sebagai ancaman," ujarnya.

Munhanif mengatakan, jika ada persaingan dominasi kawasan, Qatar cenderung mendorong terjadinya reformasi sistem politik. Menurutnya, negara Timur Tengah membuat semacam partisi tidak hanya republik dan sistem monarki, namun ada wilayah lain yang menjadi pilihan.

"Di situ sebenarnya region yang republik, tapi Qatar menunjukkan sisi lain dari monarki, dinamika persaingan dari Timur Tengah. Qatar adalah regional yang mendorong reformasi, mengapa sebenarnya dia mendukung Iran, dia tidak menempatkan ini sebagai klaim, tapi mendorong Iran terjadi reformasi, termasuk mendukung Hamas di Gaza," jelasnya.

Dalam hal ini, Qatar disebut lebih terbuka dalam konteks mendorong reformasi, dimulai dari sikap pragmatis. Artinya, Qatar lebih diterima negara-negara Eropa karena mampu masuk dalam jantung Eropa.

"Qatar juga menjadi obat melakukan reformasi generasi baru untuk memegang pemerintahan. Qatar adalah negara satu-satunya di negara Timur Tengah yang membuka sebuah reformasi, dan itu membuahkan hasil, menempatkan Qatar sebagai negara kecil yang mampu. Di situ Saudi mulai terancam," imbuh Munhanif.

"Sejauh ini, Qatar dianggap sebagai teladan dari perkembangan ekonomi dan mungkin akan menjadi revolusi Timur Tengah," katanya. (cim/fdn)


Berita Terkait