Acara ini digelar di kantor PBNU di Jalan Kramat Raya No. 164, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (9/6/2017). Said menyebut buku tersebut sebagai penjelasan dari keberagaman yang telah menjadi kodrat masyarakat Indonesia.
"Menarik buku ini dengan judul 'Miqat Kebinekaan', miqat itu entry point-lah. Jadi kita itu dilahirkan di Indonesia, begitu lahir sengaja didesain oleh Tuhan beragam," kata Said.
KH Said berpesan bangsa Indonesia harus merasa gembira dan mendapat penghargaan dari Tuhan karena lahir dengan kodrat beragam. Bangsa Indonesia telah disiapkan oleh Yang Mahakuasa untuk hidup dengan keberagaman.
"Oleh karena itu, sudah ditangkap oleh KH Hasyim Asy'ari dan langsung mengatakan bahwa hubbul wathon minal iman. Nasionalisme bagian dari iman," ujarnya.
Islam dan nasionalisme harus saling memperkuat dan tidak boleh dipertentangkan. Nasionalisme yang merupakan bagian dari keimanan Islam orang Indonesia, khususnya masyarakat NU, telah ada sejak zaman pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari. Saat itu ulama-ulama di negara Timur Tengah bahkan tidak berani mengatakan nasionalisme bagian dari iman keislaman.
"Jadi negara-negara Arab ulamanya masih menolak, karena nasionalis itu dari luar, asing bagi ulama-ulama Arab. Kita melalui KH Hasyim, menegaskan nasionalis itu bagian dari iman kepada Tuhan. Di Timur Tengah, tidak ada ulama mengatakan nasionalis bagian dari iman, nasionalis bukan dari agama," tuturnya. (nvl/idh)











































