Kehidupan Kampung Hadiah Belanda di Pandeglang

EKSPEDISI BANTEN SELATAN

Kehidupan Kampung Hadiah Belanda di Pandeglang

Ibad Durohman - detikNews
Jumat, 09 Jun 2017 13:20 WIB
Kehidupan Kampung Hadiah Belanda di Pandeglang
Foto: Muhammad Zaky Fauzi Azhar
Jakarta - Aroma kopi begitu kuat tercium di teras rumah seorang ketua rukun tetangga Kampung Legon Pakis, Jumhani, 50 tahun. Hujan baru saja reda di kampung itu. Tinggal udara dingin yang tersisa.

Sambil menaruh empat cangkir kopi di lantai teras beralas tikar, Jumhani mempersilakan kami meminum kopi seduhan istrinya. Tidak ketinggalan aneka penganan disuguhkan sebagai teman minum kopi. "Ini kopi Lampung. Orang-orang sini memang sukanya kopi asal Lampung," ujarnya.

Kami tim detikXpedition sengaja datang ke rumah Jumhani untuk berbincang-bincang seputar Legon Pakis, kampung di ujung barat di Pulau Jawa. Hanya 300 meter di sisi utara kampung, terbentang lautan Selat Sunda. Dan sisi selatan terhampar hutan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Namun, saat kami baru berbincang sejenak pada Senin, 9 Mei 2017, itu, seorang pria bernama Abah Suhaya, 66 tahun, datang ke rumah Jumhani. Suhaya disebut sebagai tokoh Kampung Legon Pakis. "Kalau mau tahu soal asal-usul warga Legon Pakis, Abah Suhaya sangat tahu. Dia sudah sepuh," ucap Jumhani memperkenalkan pria yang mengenakan peci hitam itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah berbasa-basi sejenak, Abah Suhaya kemudian bercerita tentang kampung yang telah ia huni sejak puluhan tahun lalu itu. Menurutnya, kampung itu dibuka sejak 1938, saat Belanda masih menguasai republik ini. Dan masyarakat Kampung Legon Pakis yang tinggal saat ini merupakan generasi ketiga.

Artikel selengkapnya dapat Anda baca di sini: (ddg/irw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads