DetikNews
Rabu 07 Juni 2017, 18:01 WIB

Din Syamsuddin: Qatar Pernah Buat Forum yang Kritisi AS

Audrey Santoso - detikNews
Din Syamsuddin: Qatar Pernah Buat Forum yang Kritisi AS Din Syamsuddin (berbatik cokelat) usai rapat pleno wantim MUI, Rabu (7/6/2017). Foto: Audrey Santoso/detikcom
Jakarta - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin memuji Qatar sebagai negara Islam yang telah memberi banyak manfaat bagi banyak pihak. Din mengatakan Qatar adalah negara Islam yang menginisiasi terselenggaranya forum tokoh-tokoh Islam di Amerika Serikat pada saat hubungannya dengan negara adidaya itu berjalan baik.

"Sesungguhnya Qatar adalah negara yang punya hubungan baik dengan Amerika Serikat, dan sejak 2003 atau 2004 Qatar menyelenggarakan sebuah forum namanya United State Islamic World Forum. (Penyelenggaraan forum) lebih banyak di Doha, seringkali di Washington DC dan yang ikut pertemuan itu 400-an orang," kata Din dalam rapat pleno para pimpinan ormas Islam terkait ketegangan di Timur Tengah, di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Rabu (7/6/2017).

The United State-Islamic World Forum merupakan forum untuk mengkritik sistem administrasi Amerika Serikat, yang kala itu berada di bawah kepemimpinan Presiden George W Bush dari Partai Republik. Forum tersebut didukung oleh Partai Demokrat.

"Pertemuan itu berupaya ingin mengajukan kritik terhadap administrasi Amerika di bawah George W Bush dari Partai Republik. Maka The United State Islamic World Forum ini 'mainannya' Partai Demokrat sebelum Obama naik menjadi pemimpin," ujar Din.

Selain mengkritik administrasi Amerika Serikat, forum tersebut juga mengkritik keputusan Presiden George W Bush melakukan perang terhadap negara-negara yang diduga menjadi lumbung teroris.

"Termasuk mereka mengkritik penegakan Amerika lewat George W Bush melakukan war of terrorist. Kalau lihat suasananya (forum) itu, ya sebenarnya suasana 'anti-Amerika'," sambung Din yang juga ketua World Peace Forum itu.

Din menerangkan naiknya Presiden Donald Trump membuat sepak terjang forum itu tak lagi semenggigit di masa Pemerintahan Presiden Barack Obama.

"Nah sekarang kan (Partai) Republik naik lagi. Bisa jadi besar kemungkinan dan memang ada gejala forum ini tidak lagi terlalu serius dan terutama Obama atau Partai Demokrat tidak lagi berada di tampuk kepemimpinan," imbuh Din.

Selanjutnya, Din membahas Qatar sebagai negara kecil namun pemikirannya maju. Pembangunan di Qatar, menurut Din, mampu menyalip kota-kota sentral di Timur Tengah seperti Dubai. Din menambahkan, banyak perusahaan multinasional yang tertarik menanamkan modalnya di Qatar.

"Qatar ini negara kecil, sejempol kalau lihat di peta, relatif mandiri, agak bebas dan modern karena Doha dari tahun ke tahun menyalip Dubai, Jeddah, apalagi Kuwait yang sudah tenggelam. Dan banyak sekali multinational cooporation termasuk Amerika Serikat, yang berkepentingan di energi dan gas, karena Qatar penghasil gas nomor satu," terang Din.

Din menjelaskan keterbukaan cara berfikir Qatar telah mengakomodir media seperti Aljazeera untuk bebas mengkritik negara-negara Islam di Timur Tengah. Keterbukaan itu pula yang menjadikan Qatar menerima paham-paham Islam yang bersifat fundamental dan radikal, meski tak serta merta setuju.

"Terakhir, Qatar pada sisi yang lain, keterbukaan itu mengakomodasi Aljazeera yang memang sangat gencar, termasuk Aljazeera ini sangat kritis dengan Saudi Arabia dan negara-negara Islam yang saat ini mendukung Saudi Arabia. Saya kira faktor ini agak sedikit memicu. Pada sisi lain pula, Qatar ini terbuka walaupun tidak selalu setuju menampung pikiran-pikiran Islam yang fundamentalis, radikal," jelas Din.

Masih kata Din, berdasarkan analisanya, jika konflik antara Arab Saudi dkk dengan Qatar tak segera diselesaikan maka dampaknya akan sistemik dan membawa efek domino bagi kehidupan umat Islam, politik dan ekomoni dunia.

"Saya kira dampak sistemik dan efek dominonya sampai ke dunia, akan menyeret 57 atau 50-an sisa negara OKI (Organisasi Konferensi Islam, -red). Qatar negara yang telah memberi manfaat kepada banyak. Terutama karena gasnya itu. Dan ini tentu akan memberi efek ke perekonomian global, harga minyak, harga gas, maka nanti efek globalnya secara ekonomis, secara politis," tandas Din.
(aud/bag)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed