Yuk! Safari ke Masjid 'Segenggam Beras' di Aceh

Yuk! Safari ke Masjid 'Segenggam Beras' di Aceh

Agus Setyadi - detikNews
Selasa, 06 Jun 2017 16:03 WIB
Yuk! Safari ke Masjid Segenggam Beras di Aceh
Foto: Agus Setyadi / Detikcom
Pidie - Bangunan masjid Baitul A'la Lilmujahidin yang dibangun 66 tahun silam berdiri kokoh dengan tetap mempertahankan arsitektur kuno. Pondasinya dibangun tahun 1951 atas prakarsa Teungku Muhammad Daud Beureueh. Kini, masjid ini masuk salah satu cagar budaya Indonesia yang harus dilindungi.

Terletak di Kota Beureunuen, Kecamatan Mutiara, Pidie, Aceh, masjid yang diakrab dikenal dengan nama Masjid Abu Beureueh ini ramai dikunjungi para pengunjung. Terlebih keberadaan rumah ibadah ini persis di pinggir jalan nasional Banda Aceh-Medan.

Warga yang melakukan perjalanan jauh kerap singgah di sana untuk sekadar istirahat atau pun melaksanakan salat. Di samping masjid, terdapat satu unit balai yang dapat digunakan untuk melepas penat. Pengunjung yang ingin merebahkan badan sejenak, dapat memilih balai ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut sejarah, pembangunan masjid Abu Beureueh dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Kecamatan Mutiara. Pembangunan sempat terhenti selama 10 tahun karena Tengku Daud Beureueh saat itu memilih hijrah ke hutan akibat konflik DI/TII di Aceh.

Yuk! Safari ke Masjid 'Segenggam Beras' di Aceh Foto: Agus Setyadi / Detikcom


Usai pemberontakan reda, mantan gubernur Aceh ini kembali mengajak masyarakat untuk melanjutkan pembangunan masjid yang sempat tertunda. Pada tahun 1963, masyarakat Kabupaten Pidie dan luar Pidie mengumpulkan bantuan berupa beras segenggam dan telur. Bantuan yang terkumpulkan kemudian dijual untuk membeli berbagai material.

Pembangunan masjid mulai dari penimbunan hingga fondasi dikerjakan warga dari beberapa kecamatan di Pidie secara sukarela. Mereka bergiliran mendapat jatah sesuai yang ditunjuk oleh Tengku Daud Beureueh. Pada tahun 1973, bangunan masjid seluas 1.350 meter persegi itu selesai dibangun dan sudah dapat digunakan untuk salat.

Untuk fondasi pembangunan masjid digali oleh warga sedalam enam meter sehingga hingga kini masih berdiri kokoh. Pada masa Abu Beureueh masih hidup, banyak masyarakat yang melintas baik dari arah timur maupun barat berupaya menjadwalkan salat Jumat di masjid yang dihiasi relief berukir hiasan flora ini.

Setelah Abu Beureueh wafat, masjid ini tetap ramai dikunjungi masyarakat. Selain masjid, makamnya yang terletak persis di samping masjid juga diziarahi warga. Makam tersebut dipagar dengan teralis putih ukuran segi empat. Di dalamnya terdapat dua pohon jarak dan batu nisan bertuliskan "Tgk Syi' Di Beureu'eh (Tgk. Muhammad Dawud Beureu'eh), Lahir Ahad 17 Jumadil Awal 1317 (23 September 1899), Wafat Rabu 14 Zulqaidah 1407 (10 Juni 1987)."

Yuk! Safari ke Masjid 'Segenggam Beras' di Aceh Foto: Agus Setyadi / Detikcom

Makam tersebut kerap dikunjungi warga yang ingin melepas nazar. Biasanya, warga di sana ziarah ke makam tersebut pada Senin atau hari Kamis. Pun demikian, pengelola masjid tidak membolehkan penziarah melakukan salat atau menggantungkan kain putih di sisi makam. Hal ini sesuai dengan amanah Abu Beureueh yang menilai tindakan itu perbuatan syirik.

Meski kini sudah berusia 60 tahun lebih, bangunan masjid ini masih berdiri kokoh. Sejak pertama kali dibangun hingga kini bangunan masjid ini belum pernah direnovasi. Bahkan saat gempa berkekuatan 9,3 SR yang mengguncang Aceh pada 20 Desember 2004 silam, bangunan masjid termasuk menara tidak retak.

Pada tahun 2004 masjid ini ditetapkan sebagai benda cagar budaya, situs atau kawasan yang harus dilindungi berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata nomor KM.51/OT.007/MKP/2004. Dalam surat keputusan tersebut dituliskan, penetapan ini dilakukan oleh I Gede Ardika.



(tfq/tfq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads