DetikNews
Selasa 06 Juni 2017, 13:30 WIB

Narasi dari Selatan Britania Raya: Ramadan

Antragama Ewa Abbas - detikNews
Narasi dari Selatan Britania Raya: Ramadan Foto: Suasana Ramadan di Sussex, selatan Britania Raya ( Islamic Society (ISoc) University of Sussex viaAntragama Ewa Abbas)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Brighton - Brighton, 23:43 BTC (British Summer Time). Pintu musala tertutup, kawanku telahlah selesai mengikatkan tali sepatunya dengan dua simpul yang tertata sempurna, simetris.

Pada perpindahan detik berikutnya ia tersenyum teduh, mata hitamnya sepintas memberikan tatapan 'purnama telah berada tegak lurus dengan garis hubung titik-titik pusat bumi'. Syafqad, begitu aku memanggilnya, memberikan tanda untuk bersegera menuju akomodasi masing-masing.

Ia berasal dari Pakistan, yang lantas bercerita mengenai rentang waktu berpuasa yang mencapai 16 jam. Aku pun turut membagikan kisah: bagaimana beruntungnya aku 'hanya' berpuasa selama kurang lebih 13 jam di negeri aku tumbuh.

Aku dan Syafqad terus bergerak menuju arah utara, yang mana secara paralel beberapa desiran arus udara tertangkap indera pendengaranku. Tiupan-tiupan pada semesta yang telah menggelap itu tidak mengganggu kesimpulan kami - Ramadan di Britania Raya adalah keindahan, maka 18,5 jam adalah sebuah suatu syukur yang kokoh.

Musala kami terletak di kampus, begitu pula dengan suatu tempat yang aku katakan 'rumah', tempatku bernaung dari segala hiruk-pikuk dunia. Maka pilihannya adalah jelas, setiap langkah kami melalui lorong terbuka di Universitas adalah suatu keelokan.

Narasi dari Selatan Britania Raya: RamadanFoto: Suasana Ramadan di Sussex, selatan Britania Raya ( Islamic Society (ISoc) University of Sussex via Antragama Ewa Abbas)


Aku mengamati kampus malam itu telah terlelap, tapi tidak bagi beberapa mereka. Pada beberapa ketika yang lain, aku pipihkan pandangan pada perpustakaan pusat.

"Ganjil, minoritas, tepat seperti perpustakaan yang selalu saja terjaga," gumamku.

Aku kemudian bersepakat dengan Syafqad bahwasanya hanya ada dua jalan keluar dalam satu kesendirian: apakah ia akan terlampau hilang, ataukah ia akan mendekatkan. Pengalaman berkeliling menjauh adalah satu orkestra dari perpindahan akustik yang berpindah elegan dari satu garis nada ke garis lainnya.

Syafqad pun tahu bahwa satu titik jingga itu adalah sebuah harapan, ia tidak tergantung dari lingkungannya, ia bebas menguatkan dirinya, ia berprosa bahwa minoritas adalah satu senar senja untuk menyadari kita bukanlah surya yang terbit; individu adalah mikroorganisme yang teramat kecil di semesta, wahai kawan.

Bagi kami berdua, tak pernah terbayangkan bahwa tegaknya salat tarawih berjemaah adalah suatu kenyataan. Musala universitas kami memang tak ubahnya seperti ruangan biasa, tapi pada sudut-sudut itulah kami bisa menikmati secara sederhana proses pertemuan antara kening dan sajadah.

Narasi dari Selatan Britania Raya: RamadanFoto: Suasana Ramadan di Sussex, selatan Britania Raya (Antragama Ewa Abbas)


Pada tempat itulah kemudian aku terketuk bagaimana satu deretan lima saf, yang notabennya setiap instrumen dasarnya memiliki bahasa ibu masing-masing, bisa bersepakat berkomunikasi dengan surah Al Fatihah pada setiap pembukanya. Maka maha sucilah sang pencipta langit dan bumi.

Pada frase yang lain, aku belajar hidup dalam garis keberagaman harusnya menumbuhkan sikap toleransi yang semakin mendasar. Bacaan-bacaan pada jeda rakaat tarawih tidak aku dapatkan di sini; Doa qunut pada salat witir telah dibacakan semenjak hari pertama bulan Ramadan, sebuah pembeda.

Pada konteks yang lain, tata cara melakukan duduk tahiyat akhir, ataupun mengangkat takbir kadang pula berbeda. Aku berkata pada Syafqad bahwa setiap titik pada hidupku adalah pembelajaran, tak peduli seberapa jauh tertinggal. Ia memberikan anggukan sebuah 'iya'.

Syafqad membagi perspektifnya, satu hal yang pasti dalam keberagaman seperti itu adalah menjadi bagian dari 'brothers'. Aku memberikan sinyal setuju pelan, karena memang pada kenyataannya jarang sekali aku mendapatkan panggilan dengan sebuah 'Antragama'.

Dalam komunitas muslim ini, setiap pertemuan adalah ibadah yang disertai dengan senyum keberterimaan; setiap persinggungan dua individu adalah lontaran kalimat 'How are you doing, brother?', eksistensi dari kepedulian.

Waktu iftar menjadi pula salah satu bagian favoritku. Dalam siklus waktu, pertemuan dengan kawan-kawan ini membuatku tetap 'waras' menghadapi kepungan dunia dari berbagai sisi.

Narasi dari Selatan Britania Raya: RamadanFoto: Suasana Ramadan di Sussex, selatan Britania Raya (Antragama Ewa Abbas)


Dari setiap salam yang terucap, dari sekian percakapan yang terjalin, aku selalu merasakan suasana kekeluargaan yang teramat utuh. Meskipun kata 'gratis' menjadi bagian yang amat langka ketika melabuhkan perjalanan di Britania Raya, pada momen iftar inilah aku tetap dapat merasakan keindahan berbagi akan sesama.

Musala kami memang menyediakan takjil, lengkap dengan makanan utama yang kami santap bersama selepas salat Magrib berjemaah. Menu makanan itu sebagian berasal dari varian Timur Tengah, yang sekali lagi, menambah portofolio pribadiku bagaimana uniknya konsep dari 'perbedaan' semesta itu. Lantas selepas makan, kami kerap menyambung silaturahmi sembari menunggu waktu untuk salat Isya dan Tarawih berjemaah.

Narasi dari Selatan Britania Raya: RamadanFoto: Suasana Ramadan di Sussex, selatan Britania Raya (Antragama Ewa Abbas)


Pada suatu perjalanan, aku pernah mendapat pertanyaan mengenai Islam, lebih tepatnya, mengapa aku memilih memeluknya. Kepada kawanku itu aku berkata, aku memang belum paham dan mengerti sepenuhnya tentang pembelaan ataupun penistaan, yang aku tahu, memilihnya adalah perwujudan dari ketenangan. Ada satu perasaan 'damai' yang tak bisa aku jelaskan abstraksinya, sesederhana itu.

Dalam pengerjaan tesis ataupun penelitian, kadang aku tersesat dalam bagian metodologi, pun menemui kesulitan dalam mengerjakan setiap langkahnya. Setiap tembok kokoh itu terpampang di hadapanku, aku lantas menemui dosen pembimbing yang senantiasa mengarahkan. Maka begitu pula dalam hidup, yang hanya kepada-Nya semata tempatku sebaik-baiknya mengadu – suatu pelajaran yang aku petik ketika menjalani Ramadan pada ujung belahan bumi yang lain.

Maka begitulah kuhabiskan setiap malam di antara waktu iftar hingga menjelang tengah malam itu. Bagian terbaik, bagian aku secara sebentar bisa meletakkan beban-beban dunia itu. Lantas aku sampai pada pertigaan, titik di mana aku dan Syafqad mengucapkan salam perpisahan. Kami saling merangkul, seraya berkata "Sampai bertemu besok Brother, IsnyaAllah".

Kini telah terlewat sepuluh hari bulan pertama di Ramadan. Semoga kita senantiasa menjadi bagian dari orang-orang yang mendapat rahmat-Nya. Tertuntun doa dari selatan Britania Raya.

*) Antragama Ewa Abbas adalah Mahasiswa MSc Information Technology with Business and Management (ITBM) University of Sussex; anggota Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Brighton, United Kingdom.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama dan partisipasi Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

***

Para pembaca detikcom, bila Anda mempunyai cerita yang berkesan saat Ramadan seperti yang diceritakan di atas, silakan berbagi cerita Anda ke email: ramadan@detik.com. Sertakan 2-3 foto yang mendukung cerita Anda, data diri singkat dan kontak (email atau nomor HP) yang bisa dihubungi.
(nwk/nwk)
FOKUS BERITA: Cerita Berkesan Ramadan
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed