Abdul mengaku tak yakin dengan hasil yang diperoleh oleh SMRC. Menurutnya, dari hasil dialog antara dirinya dengan PKS dan HTI banyak perbedaan yang ditemukan.
"Ada beberapa yang saya agak mengajukan pertanyaan. Soal irisan PKS dengan HTI yang tadi dikatakan agak tinggi. Karena pengalaman saya berdialog dengan elit di dua kelompok, mereka itu banyak yang sangat berbeda," ujar Abdul di Jalan Cisadane, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (4/6/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan riset ini saya belum tanyakan kepada Mas Saiful (Saiful Mujani, pimpinan SMRC) di mana mereka bisa bertemu (simpatisan PKS yang mendukung HTI). Karena kalau saya tanya, mereka kadang-kadang HTI agak mengkritik PKS dan PKS mengkritik HTI. Karena kebetulan saya secara pribadi, saya kenal dengan elitnya (PKS)," ucap Abdul.
Sebelumnya SMRC menghitung bagaimana simpatisan parpol di Indonesia dalam menyikapi HTI dan ISIS di Indonesia. Hasilnya, semua simpatisan parpol tidak setuju dengan kedua organisasi tersebut. Namun, bila dilihat dari jumlah simpatisan yang setuju, simpatisan PKS adalah simpatisan yang paling besar mendukung HTI.
Dari survei didapati, 34,3 persen simpatisan PKS setuju dengan perjuangan HTI. Sementara, 42,2 persen tidak setuju. Jumlah simpatisan PKS yang menjadi responden hanya 4,4 persen dari total keseluruhan responden.
Simpatisan PPP, ada 4,3 persen dari jumlah seluruh responden. Dari jumlah tersebut, 19,7 persen setuju dengan HTI, namun ada 73,5 persen yang tidak setuju keberadaan HTI. Diperingkat ketiga ada Gerindra dengan 12,7 persen simpatisan mereka yang setuju HTI. Angka tersebut didapat dari 12,6 persen responden.
Penelitian SMRC menggunakan 1500 responden sebagai sampel. Mereka dipilih secara random dengan cara multistage random sampling. Survei dilakukan pada WNI yang berumur 17 tahun atau sudah menikah. Margin of error pada penelitan tersebut sebesar 2,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei dilakukan pada 14-20 Mei 2017.
(bis/jor)











































