"Saya kira kita harus menemukan apa center of gravity terorisme, apa yang membuatnya masih ada," ujar Ridlwan dalam diskusi Polemik Sindo Trijaya di Warung Daun, Jakarta Pusat, Sabtu (3/6/2017).
Ridlwan lalu menyebutkan data soal penangkapan teroris dari tahun ke tahun. Dia berkata, banyak teroris yang telah ditangkap namun serangan demi serangan teror terus menghantui Indonesia. Dia lalu memberi contoh serangan bom Kampung Melayu baru-baru ini yang disebutnya tergerak dari sebuah ideologi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, Ridlwan berpandangan upaya penangkapan ataupun tindakan represif masih kurang tepat dalam menangani teroris hingga ke akar rumput. Bahkan upaya tersebut dapat menimbulkan tindakan balas dendam dari teroris lain.
"Penangkapan bukan solusi, kalau represif bisa memicu semangat balas dendam. Kasus di Lampung 2010, Wahono, dia gagal menikah, adiknya menggantikan menikah. (Wahono) dibawa ke Jakarta, diinterogasi, di Lampung, statusnya gagal menikah. Wahono ini viral dan menjadi bahan bakar yang lain untuk menuding polisi, aparat, represif kepada umat Islam," tutur Ridlwan.
Sekali lagi dia menegaskan ideologi terorisme harus dihapus dan RUU Antiterorisme harus memuat tentang cara mematikan ideologi tersebut. Jika tidak, masyarakat akan terus-menerus melakukan upaya balas dendam karena banyak temannya yang ditangkapi polisi.
"Kalau tak ditangkal, akan ada konflik di akar rumput. Nanti (tindakan terorisme) dianggap rekayasa, ini harus dipertanyakan lagi ke DPR," tandasnya. (gbr/tor)











































